Lambatnya   Penanganan OPD, Belum Ada Posko

By

Warga terdampak banjir di Pasar Youtefa melintas di genangan air yang sudah surut, pada pukul 17.00 WIT, kemarin (7/1). Banjir awal tahun 2022 ini disebut menjadi banjir terdahsyat yang pernah terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. (FOTO: Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Beberapa pedagang di Pasar Youtefa yang ditemui mengaku banjir kali ini paling besar dibanding yang sudah – sudah. Itu bisa dilihat dari genangan air yang tidak hanya berada di pusat pasar tetapi sampai ke jalan menuju pasar. Bahkan ketinggian air di tengah pasar menurut beberapa pedagang ada yang mencapai 3 meter. Alhasil tak sedikit yang malam itu harus nginap di atap atau loteng. 

“Ini yang paling besar. Belum pernah air seperti ini karena dulu – dulu itu hanya disekitar pasar saja tapi ini sampai keluar,” kata Ilham satu pedagang saat ditemui di pintu pasar. 

Ilham menyebut ada orang tua dan anak – anak yang terjebak malam itu namun untungnya bisa dievakuasi.

Dari pengakuan warga saat ini yang paling dibutuhkan adalah makanan siap saji dan pakaian bayi atau anak – anak. “Kalau untuk kami tidak ganti pakaian tidak masalah tapi kasihan anak – anak banyak yang belum makan. Tadi ada yang bagi – bagi makan tapi dari organisasi – organisasi, bukan pemerintah,” sindir Ilham lagi. 

Cerita lain disampaikan Faisal. Pedagang goden sejak tahun 2010 ini mengatakan ia sampai harus menyelam untuk bisa menutup pintu dan mengangkat barang – barang yang tenggelam. “Sudah bingung saya, itu kelelep dan saya harus turun menyelam untuk mengunci pintu,” ceritanya. 

Ia mengatakan tidak sempat memindahkan barang – barangnya ke tempat yang lebih aman karena  menduga air hanya sebatas dada orang dewasa. Namun ternyata air melewati kepalanya. “Itu yang saya bilang ini yang paling dahsyat, ngeri sekali,” sambungnya. 

Pedagang wanita lainnya justru memprotes pemerintah. Pedagang bernama Asma Nawawi ini menggerutu dan mengatakan apa yang pemerintah lakukan untuk pedagang dan pasar ini. Padahal ia dan pedagang lainnya setiap bulan membayar retribusi sebesar Rp 500 ribu. Tapi untuk selokan atau got saja masih harus dibuat oleh pedagang sendiri. 

 “Sekarang jalannya juga seperti apa? rusak sekali. Timbun tapi tidak diratakan dan pembeli malas masuk. Nanti kami tinggikan sedikit malah disuruh bayar padahal ini kami pakai duit sendiri,” cecarnya. 

Ia bahkan berani mengatakan bahwa Pasar Yotefa  ini jika tak api ya banjir. “Hanya dua itu, kebakaran dan kebanjiran dan kami setiap bulan harus tetap membayar,” koarnya. 

Beberapa pedagang lainnya juga menanggapi lambatnya   penanganan OPD. “Sampai malam mini belum ada posko, kami bingung mau mengadu kemana. Anak – anak juga banyak yang kelaparan,” sindir Anto, satu pedagang ikan. 

Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Irawadi yang dihubungi via handphonenya membenarkan soal belum adanya posko. “Ini masih kami rapatkan dan rencana akan dibangun di GOR Waringin atau di Brimob. Segera kami putuskan,”  singkatnya dalam rapat.

 Sementara hingga sore kemarin terpantau air di Pasar Youtefa yang sebelumnya menyentuh atap perlahan – lahan mulai surut dan hanya sebatas lutut orang dewasa. Hanya saja banyak sekali sampah yang berserakan dan warga mengaku lambatnya air keluar dari kawasan pasar tak lepas dari tersumbatnya saluran pembuangan akibat sampah. (ade/fia/cr-265/ana/nat) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: