Lanscpae Dalam Aquarium Itu Mirip Planet Lain

By

Melihat Perjuangan Scaper Papua Dalam Menjalankan Hobi Kreatif Menciptakan Kehidupan Dalam Aquarium

Kota Jayapura tak kekurangan kelompok muda yang kreatif. Yang masih jarang diketahui namun sedang ramai digeluti saat ini adalah soal Aquascape. Mirip membuat aquarium namun jauh lebih menantang.

Laporan: Abdel Gamel Naser

Dunia komunitas di Jayapura hingga kini tumbuh pesat. Berbagai komunitas dengan masing – masing genre terus menunjukkan eksistensinya. Hanya saja lantaran Pandemi Covid 19 tak sedikit yang mulai mengerem – rem kegiatan. Meski demikian ada hobi yang sejatinya masih bisa digarap tanpa harus mengumpulkan banyak orang. Salah satunya adalah Aquascape atau seni membuat kehidupan landscape di dalam kotak. Mirip aquarium namun memiliki perbedaan menyolok. Di Jayapura sendiri ada beberapa kelompok yang menggeluti dunia Aquascape termasuk di Kabupaten Jayapura namun disini Cenderawasih Pos  berhasil terkonfirmasi dengan salah satunya yakni Scaper Papua. Kelompok yang terbentuk sejak 2015 namun memilih berdiri sendiri pada tahun 2019 dengan nama Scaper Papua.

Banyak cerita menarik yang disampaikan tiga anggotanya yakni Hamzah, Syahril dan Suardin terkait bagaimana menumbuhkan komunitas ini termasuk tantangan menciptakan satu tank (kotak yang terbuat dari kaca) serta dinamika hunting property yang dilakukan diseputaran Jayapura. Namun sebelumnya dijelaskan dulu tentang apa itu Aquascape. Aquascape adalah sebuah seni yang mengatur tanaman, air, batu, karang, kayu dan lain sebagainya.Seni ini menggunakan media di dalam kotak kaca atau acrylic yang menyerupai akuarium dan yang membedakan adalah jika aquarium menggunakan properti benda mati namun aquascape semua menggunakan benda hidup terkecuali batu atau kayu.

Aquascape ini lebih pada hobi namun hobi ini menarik karena membutuhkan unsur ketelitian dan kesenian. Aquascape menjadi menarik karena kita tidak hanya memelihara ikan tapi juga memelihara semua komponen yang ada didalam tank. Sebenarnya Aquascape dan akuarium memang hampir sama, dimana keduanya menggunakan wadah yang terbuat dari kaca. Namun akuarium lebih terfokus pada ikan hias sebagai isinya sementara aquascape lebih berfokus pada tanaman, kayu, air, batu dan faunanya yang terdapat dalam media tersebut.

Hewan yang bisa mengisi aquascape bisa berupa keong, ikan  maupun udang. Dalam aquascpae, ikan hanya berfungsi sebagai pelengkap saja dan bukan inti dari tank dan biasanya ikan yang dipakai berukuran kecil. Tujuan utama pembuatan aquascape adalah untuk membuat sebuah lanskap bawah air yang indah dan bagus. Hanya saja dalam pembuatan dan pemeliharaannya ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan diantaranya yaitu pencahayaan yang berfungsi sebagai pengganti sinar matahari. Lalu CO2 yang penting untuk tanaman.

Tak hanya itu saja, pupuk dan juga filterisasi atau penyaringan air juga menjadi prioritas. Bahkan suhu juga penting untuk diperhatikan. “Sebisa mungkin suhunya tidak lebih dari 30 derajat dan air yang direkomendasikan justru air hujan. Tapi air biasa juga bisa tapi nanti diendapkan dulu kemudian diberikan 2 bakteri baik agar air bisa bertahan jernihnya,” kata Syahril di Jayapura.  Yang perlu diingat juga adalah jangan sampai suhu dalam aquascape terlalu tinggi karena bisa membuat tanaman atau fauna di dalam aquascape mati. “Sedangkan suhu yang terlalu dingin bisa membuat ikan atau fauna di dalamnya menjadi pasif,” tambah Syahril.

Lalu untuk jenis tanaman yang biasa digunakan juga beragam namun sejatinya menurut Scaper Papua sumber daya alam di Papua sangat menjanjikan namun belum tereksplore secara baik. “Selama ini kebanyakan kami memesan dari luar Papua padahal kalau dicari itu selalu ada dan tetap menarik hanya saja untuk huntingnya ini yang harus sering dilakukan,” beber Suardin. Ia menceritakan yang dibutuhkan untuk bagian dalam tank adalah property seperti kayu, lumut atau moss maupun bunga atau rumput serta ikan berukuran kecil.

Ikan yang dianggap memiliki nilai jual dan layak untuk aquascape adalah jenis rainbow fish. “Ini yang ingin kami “jual” kekayaan atau keanekaragaman hayati yang memang endemik Papua,” sambung Suardin. Hanya saja untuk mendapatkan property dalam tank ini ternyata harus dicari. Nah scaper Papua mengaku tidak mudah mendapatkan itu meski banyak tersedia di alam. “Kami pernah cari lumut atau rumput di Jaya Asri atau Cycloop justru ditodong parang dan disuruh pulang. Katanya tidak boleh mengambil apa – apa. Begitu juga ketika mencari kayu di Skow ceritanya tidak jauh beda,” ceritanya.

Padahal kayu yang dicari bukanlah kayu yang ditebang di hutan melainkan kayu hanyut yang biasa terdampar di pantai dan hampir dipastikan tidak lagi digunakan namun memiliki nilai estetik yang layak untuk dipakai dalam tank. “Pernah kami cari di Cycloop semisal lumut atau batu dan itu kami disuruh pergi dan tak boleh ambil apapun,” sambung Suardin. Memanfaatkan SDA yang ada di Papua lanjut Hamzah sejatinya menjadi mimpi anggota Scaper Papua termasuk bagaimana memberdayakan anak – anak Papua untuk menggeluti hobi ini.

“Itu salah satu tujuan kami membentuk komunitas ini. Mengajak anak – anak Papua untuk melakukan satu kreatifitas positif  dengan memanfaatkan barang – barang yang ada di Papua. Kami sangat yakin property di Papua ini banyak dan menarik hanya belum digali saja,” sambung Hamzah. Selain itu jika ada yang tertarik kemudian memesan menurut Syahril ini bisa menjadi satu pekerjaan yang menghasilkan khususnya bagi anak – anak negeri. Hanya saja dikatakan bukan itu yang menjadi tujuan utama melainkan bagaimana memberdayakan anak – anak Papua untuk melakukan hal positif karena diyakini jiwa kreatif anak Papua bisa lebih baik dan berkembang jika diasah.

“Biasa memang ada yang memesan juga, meminta dibuatkan aquascape tapi hasil dari penjualan setengahnya kami selalu sisihkan untuk kegiatan amal maupun sosial dan itu wajib. Keuntungan atau uang bukan yang utama dalam komunitas ini tapi berbagi ilmu itu poinnya,” sambung Syahril. Lalu untuk menghasilkan sebuah aquascape sendiri dikatakan pasti membutuhkan anggaran. “Tergantung ukuran juga dan isi dalam aquascape itu sendiri. Ada ukuran 20 x 30 cm atau lebih besar itu juga bisa bahkan ada yang sampai 3 meter sedangkan  untuk harganya juga bervariasi. Yang jelas untuk ukuran yang tak lebih dari 1 meter bisa  ditawar hingga 13 bahkan ada juga yang sampai Rp 35 juta,” beber Syahril.

Hamzah menambahkan bahwa untuk menciptakan sebuah ekosistem dalam tank yang sudah layak pamer atau stabil paling tidak membutuhkan waktu 1 – 2 bulan namun jika sudah terjun ke dalam dunia aquascape, waktu ini tidak terasa. Dari beberapa gambar yang dipamerkan, ada yang terlihat seperti suasana hutan mini yang penuh tanaman lumut hijau, ada juga seperti hutan kayu kering yang diselimuti lumut bahkan ada yang mirip planet luar layaknya film – film. “Pokoknya hati jadi tenang jika memiliki aquascape yang sudah jadi,” imbuh Suardin.  Scaper Papua sendiri mengagendakan untuk menggelar pamera bersama komunitas lainnya sekaligus mensosialisasikan adanya hoby atau komunitas yang bekecimpung dalam dunia landscape dalam tank. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: