Mahal jika Dianggap Tidak Penting, Murah bila Dirasa Sangat Dibutuhkan

By

Tim Statistik yang Mulai Menjamur di Sepak Bola Indonesia

Mulai majunya teknologi dalam permainan sepak bola memaksa sebagian besar tim memakai jasa statistik untuk membantu kinerja pelatih di lapangan. Termasuk di Indonesia. Tim-tim statistik mulai bermunculan. Mereka berlatar belakang beragam, mulai akademisi, suporter, hingga pegawai swasta yang punya kecintaan terhadap angka-angka di lapangan hijau.

Farid S. Maulana

ANDAI ketika itu Nil Maizar tak meminta Statoskop, tim statistik yang dibayar Persela musim 2019, terlibat lebih dalam ke tim, bukan mustahil skuad Laskar Joko Tingkir akan terdegradasi saat itu juga. Enam pertandingan tanpa kemenangan ketika ditangani Aji Santoso membuat Persela saat itu berada di dasar klasemen. Dua kali imbang dan sisanya dipermalukan. Hingga akhirnya, Nil Maizar datang sebagai pengganti.

Mantan pelatih Semen Padang yang sadar pentingnya data-data berupa statistik itu, baik dari timnya maupun lawan, memanfaatkan betul kehadiran Statoskop. Di laga kandang misalnya, tiap kali jeda pertandingan, Nil Maizar langsung menunjukkan data-data yang ada di babak pertama dari Statoskop. ’’Saat itu di ruang ganti tim kandang Stadion Surajaya, ada LED. Menampilkan data-data dari (tim) kami di babak pertama,’’ ungkap Aditya Wahyu Pratama, founder Statoskop. 

Setelah dipegang Nil Maizar, perlahan Persela bangkit. Permainan Eky Taufik dkk saat itu juga luar biasa dengan bantuan data statistik. Pada akhir musim, Persela yang hampir terdegradasi berhasil bertengger di posisi ke-11 dengan 11 kali kemenangan, 11 kali imbang, dan 12 kali kalah. Artinya, dengan bantuan statistik, Nil Maizar berhasil mencatatkan 11 kemenangan, 7 hasil imbang, dan 10 kekalahan. 

Statoskop berdiri pada 2016. Saat itu, lembaga statistik sepak bola di Indonesia mulai menjamur. ’’Saya waktu itu dimintai tolong Madura United. Mereka awal pembentukan tim, tidak ingin sekadar berkompetisi, tapi juga punya semua struktur di sepak bola,’’ ujarnya. 

Karena punya basic statistik, Adit lantas mengajak beberapa kawannya. Kawan-kawan yang punya pengalaman karena pernah ikut seminar LabBola, tim statistik yang sempat dibesut eks Sekjen PSSI Ratu Tisha. ’’Lalu, kami bagi tugas, ada yang tim home (kandang) dan away (tandang). Mulailah jalan dari situ,’’ bebernya. 

Setelah itu, nama Statoskop melambung. Beberapa tim seperti Persis Solo, Lampung FC, hingga NZR Sumbersari pernah memakai jasanya. Beberapa pemain pun terkadang membeli statistik dari Adit. 

Dia mengungkapkan, ketika awal membangun Statoskop, banyak kesulitan yang dihadapi. Khususnya ketika melakukan seleksi data melalui rekaman video. ’’Untuk pertandingan di wilayah Indonesia Timur, jarang ada videonya. Itu yang menyulitkan kami mengumpulkan data kalau tidak datang ke stadion langsung,’’ terangnya. 

Selain itu, broadcaster yang memegang hak siar Liga Indonesia kurang memahami ketepatan penayangan video replay atau tayangan ulang. Adit menjelaskan, ketika awal Liga 1 pada 2017, broadcaster sering menayangkan video replay ketika bola sedang berjalan. ’’Jadi, (data) kami terputus jika ingin membuat (statistik tentang) arah passing. Kalau di Eropa kan replay ditayangkan ketika bola mati. Jadi tidak mengganggu,’’ bebernya. 

Tapi, seiring berjalannya waktu, pria 29 tahun itu menyebut broadcaster sudah banyak belajar. Meski belum sempurna, setidaknya kesulitan untuk memperoleh data melalui video sudah jauh berkurang dalam beberapa tahun ke belakang.

Adit mengaku sudah mempekerjakan beberapa orang dalam tim. Bahkan, jika ada pertandingan yang berlangsung bersamaan, dia bisa membagi timnya untuk datang langsung memantau di stadion. ’’Jadi, kami langsung mendata. Selesai pertandingan sudah punya datanya. Intersep, tekel, dan lain-lain sudah bisa diperoleh,’’ jelasnya. 

Alumnus Universitas Trunojoyo Madura itu menambahkan, harga yang dipatok untuk mendapatkan data statistik itu relatif. Mahal, jika memang klub menganggap statistik tidak terlalu penting untuk performa tim di lapangan. Tapi bisa jadi murah ketika data statistik sangat penting untuk membantu pelatih meramu formasi. 

Kebanyakan tim di Indonesia menyewa analis video. Video yang didapat saat latihan hingga pertandingan jadi bahan untuk meramu strategi. ’’Padahal, video analyst itu merupakan irisan dari statistik. Yang paling bagus ya menggabungkan video analyst dengan statistik,’’ ungkapnya. 

Adit mengakui statistik tidak menjamin tim jadi mudah menang. Statistik hanya memberikan gambaran sebuah pertandingan. Bagaimana lawan bermain, siapa pemain kuncinya, serangan lewat sisi mana, dan sebagainya. ’’Lantas, tinggal bagaimana pelatih menggunakan data itu dalam meracik strategi. Kuncinya tetap di pelatih,’’ ucapnya. 

Adit ikut bersyukur saat ini banyak komunitas suporter yang punya tim statistik. Sebut saja #StatsRawon yang banyak membahas soal Persebaya. ’’Kalau kami kan keseluruhan kompetisi. Media statistik suporter ini khusus klubnya saja,’’ ungkapnya. 

Bisa juga media statistik milik suporter itu digabung dengan staf pelatih. Di Persis misalnya. Media Officer Persis Bryan Barcelona mengatakan, Persis memang menggabungkan dua hal tersebut sejak musim lalu. ’’Jadi sekarang kebutuhannya lebih tertata,’’ ujarnya.

Bryan menjelaskan, Laskar Samber Nyawa memakai tim statistik karena kebutuhan tim. Baik untuk menganalisis latihan maupun pertandingan. ’’Hasil analisis itu biasanya dipresentasikan kepada pelatih,’’ jelasnya. 

Dia yakin, ke depan, statistik akan berkembang pesat di Indonesia. Bahkan bisa jadi salah satu karier yang menjanjikan.

Owner #StatsRawon Dhion Prasetya menuturkan, kehadiran timnya berawal dari kecintaan terhadap Persebaya. Ketika mendirikannya pada 2018 lalu, belum ada data statistik yang mendokumentasikan tim seperti Persebaya secara baik. ’’Khususnya soal sejarahnya. Karena di kemudian hari ada sejarah yang kurang tepat. Kami juga sudah membukukannya,’’ ungkapnya. 

Dhion mengaku senang saat ini sudah banyak media statistik dari suporter. Khususnya untuk Persebaya. ’’Karena kami punya saingan. Bisa saling koreksi demi kebaikan dokumentasi sejarah tim,’’ tuturnya. 

Meski punya tim, Dhion mengaku tidak mengirimkan personelnya ke setiap pertandingan seperti Statoskop. Dia hanya melihat dari tayangan video untuk memperoleh data. ’’Kebetulan Persebaya ini media darling, jadi gampang sekali untuk mendapatkan video pertandingan,’’ paparnya. (*/c17/cak/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: