Menikmati Boga Bahari di Rumah Kelahiran Basuki Rahmat

By

Terkesan Kare Rajungan Dua Tahun Sebelumnya, Ibu Negara Iriana Ajak ke Ndoro Bei (42)

Kare rajungan adalah kuliner yang menarik. Warnanya cantik, rasanya bikin ketagihan. Tidak percaya? Silakan tanya kepada Ibu Negara Iriana Jokowi. Menikmati rajungan Ndoro Bei pada tahun 2016, istri Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu menyarankan rombongan kepresidenan singgah ke restoran di Tuban tersebut pada 2018.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Tuban

SEKITAR 90 persen bangunan rumah makan itu terbuat dari kayu. Modelnya joglo. Khas tradisional Jawa. Namanya pun mengesankan kelawasan. Ndoro Bei. Atau, tepatnya Rajungan Ndoro Bei. Menyantap hidangan apa pun di tempat yang eksotis dan berumur puluhan tahun seperti itu, rasanya, akan nikmat. Namun, Rajungan Ndoro Bei tidak menjual nuansa.

Juru masak di restoran yang dulu adalah rumah kelahiran pahlawan nasional Mayjen TNI (pur) Basuki Rahmat itu tidak sembarangan. Sang koki benar-benar menguasai teknik mengolah rajungan, menu andalan di sana. Mereka yang tidak sempat singgah ke restoran dan hanya memesan untuk dibawa pulang pun akan selalu mau mengulang lagi. Sebab, rasanya memang mengesankan.

”Saya nggak tahu bahwa pernah ada Paspampres yang mbungkusin rajungan untuk Bu Iriana,” kata Wildan Baihaqi, manajer operasional Rajungan Ndoro Bei, saat dijumpai Jawa Pos pada Februari lalu.

Ceritanya, saat mendampingi Jokowi dalam lawatan kerja ke Surabaya pada 2016, Iriana mengungkapkan keinginannya untuk makan rajungan. Entah bagaiman detailnya, tetapi kemudian tim kepresidenan membawakan kare rajungan dari rumah makan Rajungan Ndoro Bei di Tuban. Kare rajungan itu disantap di Surabaya.

Sekitar dua tahun kemudian, pada 2018, Iriana kembali mendampingi Jokowi ke Jawa Timur (Jatim). Ketika itu tim kepresidenan menjadwalkan presiden dan ibu negara santap siang di sebuah rumah makan di Tuban. Namun, Iriana menyebutkan nama Rajungan Ndoro Bei sebagai tempat makan siang. Atas rekomendasi ibu tiga anak tersebut, tim kepresidenan lantas mengalihkan kunjungan ke Rajungan Ndoro Bei.

Tim kepresidenan kemudian mengontak Wildan. Jokowi dijadwalkan bersantap siang bersama rombongan di Rajungan Ndoro Bei pada Jumat, 9 Maret 2018. Namun, informasi tentang kunjungan pemimpin 60 tahun itu baru Wildan terima sehari sebelumnya, yakni pada Kamis. Langsung sibuklah seluruh karyawan Rajungan Ndoro Bei. Hari itu, restoran tutup. Wildan dan timnya sibuk menyiapkan hari istimewa untuk restoran tersebut.

”Hari itu juga saya baru tahu bahwa Bu Iriana pernah mencicipi menu kami. Kami juga baru tahu bahwa sebenarnya yang direkomendasikan bukan restoran kami, melainkan kami yang dipilih,” ungkap Wildan.

Mempersiapkan kunjungan presiden dalam sehari membuat Wildan kalang kabut. Dia langsung menugasi pegawai ke tempat para nelayan memperjualbelikan hasil laut yang fresh. Pegawai itu harus stand by karena Wildan khawatir tidak kebagian rajungan. Rajungan Ndoro Bei memang terbiasa hanya mengolah bahan makanan yang segar. Rajungan pun mereka beli langsung dari nelayan yang baru pulang melaut. Bumbu dan menu pendamping juga selalu menggunakan yang fresh.

Setelah bahan baku dan bumbu aman, giliran juru masak yang menyiapkan hidangan terbaik. Itu pun dengan pengawasan ketat tim dokter istana. Semua sampel makanan dan menu pelengkap yang akan disajikan kepada Jokowi lebih dulu diperiksa. Tim dokter harus memastikan bahwa sajian untuk presiden bebas dari racun dan zat yang berbahaya.

Ketika Wildan dan para pegawai di Rajungan Ndoro Bei sibuk bersiap menyambut Jokowi, warga Tuban juga sibuk menyemut di sepanjang jalan yang bakal dilalui presiden menuju Rajungan Ndoro Bei. Sejak pagi, akses menuju restoran itu ditutup. Warga berjubel memadati Jalan dr Sutomo. Mereka menunggu Jokowi melintas.

Sekitar dua jam sebelum Jokowi tiba di Tuban, Paspampres meminta seluruh pegawai restoran keluar. Rumah makan itu harus dikosongkan supaya pemantauan keamanan lebih mudah.

Jokowi tiba bersama 110 orang dalam rombongannya. Sebuah meja berukuran 1 x 2 meter sudah disiapkan khusus untuk sang presiden. Ada stiker yang bertulisan Presiden RI Jokowi pada salah satu sudutnya. Di meja itu, Jokowi menikmati rajungan bersama Iriana dan Soekarwo, gubernur Jatim saat itu. Ada pula bupati Tuban yang mendampingi presiden dan gubernur. ”Total biayanya mencapai Rp 12 juta,” ungkap Wildan.

Sebagian besar menu yang tersaji di atas meja kayu itu adalah olahan rajungan. Yaitu, kare rajungan, rajungan bumbu pepek, rajungan ulas-ulas, kotokan ikan pare, dan oseng cumi hitam. ”Yang utama memang kare rajungannya,” ujar Wildan.

Dia mengakui, Rajungan Ndoro Bei memang menjadi langganan para pejabat hingga tokoh politik. Mulai Dirut BUMN, menteri, hingga pemimpin partai politik. Bahkan, saat masa kampanye Plpres, resto tesebut disangkutpautkan dengan salah satu paslon. Padahal, tidak ada hubungannya sama sekali.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga pelanggan Rajungan Ndoro Bei. Biasanya, menu yang dipesan adalah kare rajungan. ”Bu Khofifah tidak selalu makan di sini. Seringnya dibungkus,” kata pria kelahiran Lamongan tersebut.

Meski berlokasi di Tuban, Rajungan Ndoro Bei juga populer di Surabaya. Bahkan di kota-kota sekitarnya. Kunjungan Jokowi ke sana juga membuat restoran itu tenar.

Salah seorang pelanggan, Adi Hermanysah, menyatakan bahwa dirinya dan keluarganya selalu menyempatkan makan rajungan di rumah makan tersebut. Kesukaannya adalah kare rajungan level pedas banget. ”Paling suka kalau dapat rajungan yang pas ngendog (bertelur),” ucap warga Surabaya tersebut.

Menurut dia, rasa dan aroma rajungan sangat khas. Karena dia penyuka pedas, biasanya nasi putih akan habis duluan sebelum rajungan tandas. Kuahnya yang pedas juga membuat Adi makan dengan lahap. ”Segar, enak, dan pastinya bikin keringetan,” katanya.

Kare rajungan terbagi dalam dua pilihan rasa, bergantung level pedasnya. Yakni, kacung dan pedas banget.

Rajungan Ndoro Bei mengabadikan kunjungan Jokowi dengan memajang meja kayu yang digunakan bersantap oleh sang presiden. Tidak perlu pesan lebih dulu untuk bisa makan di meja tersebut. Semua pengunjung bebas menempatinya. Di meja itu ada stiker kecil. ”Presiden RI Jokowi.” Demikian frasa yang tertulis di sana.

Menurut Wildan, stiker tersebut merupakan duplikat dari stiker yang terpasang di meja itu empat tahun lalu. Stiker yang asli sudah rusak. ”Ini dilakukan biar pengunjung tahu Pak Jokowi pernah makan di meja ini,” terang Wildan tentang stiker tersebut.

Selain meja Jokowi, hal lain yang menarik di restoran itu adalah foto-foto Basuki Rahmat pada dinding kayu. Ada pula foto keluarga dan silsalahnya. Rumah tempat lahir pahlawan yang namanya diabadikan sebagai nama jalan raya di pusat kota Surabaya itu dulu memang tempat tinggal. Setelah tidak ditempati lagi, rumah itu dijadikan rumah makan. Sebab, tidak ada lagi yang menghuni. ”Hampir semuanya masih asli,” tegas Wildan tentang rumah tersebut.

Pengin rajungan kare yang membuat ibu negara ketagihan dan Bu Khofifah tidak bosan pesan? Meluncur ke Jalan dr Sutomo Nomor 7, Tuban, akan menjadi jawaban. Sembari membuktikan kelezatan rajungan yang membuat Jokowi penasaran, pengunjung juga bisa napak tilas kediaman Basuki Rahmat. (*/c14/hep/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: