Miliki Jembatan Tracking 400 Meter di Tengah Hutan Sagu

By

Melihat Pesona Wisata Baru di Kampung Yoboi, Distrik Sentani 

Pesona wisata di Kampung Yoboi, Distrik Sentani seperti tidak ada habisnya.  Jika sebelumnya, kampung itu dikenal dengan jembatan warna-warninya,  kebun sayur terapung dan juga kuliner khas ulat sagunya, kini kampung itu kembali menjadi perbincangan, setelah Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua membangun jembatan tracking sepanjang 400 meter di tengah hutan sagu. Lantas bagaimana keindahan alam hutan sagu yang dibelah oleh jembatan tracking itu?

Laporan: Robert Mboik- Sentani

Hiruk pikuk suasana kota yang penuh dengan kebisingan dan riuh kendaraan serta aktivitas masyarakat yang tiada henti membuat sebagian besar orang  mencari suasana baru dengan sekadar mengunjungi tempat-tempat yang jauh dari kesan kebisingan dan dan kesibukan itu. 

Jika anda termasuk salah satu orang yang paling sibuk,  maka bolehlah sesekali mengunjungi Kampung Yoboi,  Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. Letaknya tidak jauh dari pusat Kota Sentani.  Datang ke tempat ini, pengunjung boleh mengakses jalan dari Pasar Lama Sentani lalu menuju ke Pantai penyeberangan Yahim. Menuju ke kampung itu, hanya diakses dengan menggunakan jalur danau dengan jasa transportasi Johnson.  Biaya sewanya sekitar Rp10.000 per orang sekali jalan. 

Kampung ini dulunya sempat viral karena terkenal dengan jembatan warna-warninya,  hasil kreasi dan polesan anak kampung setempat. Hingga saat ini pesona pariwisata masih melekat pada kampung itu. Terbaru kampung itu mendapat bantuan dari Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup dengan menghadirkan jembatan tracking sepanjang 400 meter.  Uniknya, jembatan ini dibangun mulai dari ujung Selatan Kampung Yoboi  kemudian  mengarah ke tengah  rimbunan hutan sagu yang masih sangat alami. 

Tracking yang memiliki lebar sekitar dua meter ini membelah hutan sagu,  semakin ke dalam, suasananya semakin adem. Tak ada panas,  apalagi suara bising mesin.

“Ya, kami sangat berterima kasih kepada Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua,  Yan Ormuseray. Sebelum ini dibangun, beliau juga pernah membantu kami dalam kegiatan festival ulat sagu dan itu sukses,”kata Kepala Kampung Yoboi, Sefanya Wally kepada media ini, Sabtu (18/9).

Kehadiran jembatan tracking ini tidak saja menambah keindahan di kampung itu, tapi ada dampak yang lain yang sudah sangat dirasakan oleh masyarakat setempat saat ini.  Kehadiran masyarakat dari luar yang membawa pundi-pundi uang juga tentunya diharapkan bisa mendongkrak perekonomian masyarakat kampung setempat.  Hanya saja, kata dia, ke depannya pengelolaan pariwisata di kampung ini perlu dilakukan secara profesional dan tidak hanya melihat dari sisi keuntungannya, tapi bagaimana pelayanan yang baik kepada masyarakat atau pengunjung yang datang agar mereka tidak meninggalkan begitu saja Kampung Yoboi.

“Kami belum memberlakukan karcis, tetapi di sini kami hanya meminta masyarakat untuk menyerahkan dana seberapa saja, ada melalui kotak sukarela yang kami siapkan di depan pintu masuk,” ujar Sefanya.

Sefanya sadar betul bahwa untuk meningkatkan ekonomi, tidak saja mengandalkan karcis masuk, tapi juga ini menjadi langkah baik untuk masyarakat yang ada di kampung semakin berkreatif, inovatif dalam memanfaatkan potensi yang ada di kampung.  Di kampung itu, ada berbagai macam kuliner khas Papua mulai dari papeda bungkus,  papeda ikan gabus dan mujair, ulat sagu dan berbagai macam jenis makanan lainnya.  Tidak hanya itu, masyarakat setempat juga kini pandai mengolah es krim dari bahan baku sagu, yang sementara ini sedang diusahakan melalui usaha kelompok mama-mama Papua yang ada di kampung itu.  Seolah  belum habis, mereka juga mempunyai souvenir khas Papua yang juga digarap oleh Mama- Mama Papua.

“Kami berharap sektor pariwisata ini tetap berkembang dan maju ke depannya untuk memacu peningkatan ekonomi masyarakat kami,”tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: