MUI Papua Sarankan Taraweh Tanpa Shift

By

JAYAPURA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua, K.H Ust Islami Al Payage menyampaikan bahwa MUI  lebih menyetujui pelaksanaan salat taraweh dilakukan sekaligus dalam satu malam tanpa harus ada pembagian jadwal atau shift.

Ia meyakini salat taraweh tanpa pembagian waktu ini bisa dilakukan dengan memaksimalkan ruangan  yang kosong. Menurut Payage salat taraweh bisa dilakukan seperti biasa dengan mematuhi protokol kesehatan.

“Saya pikir ini tidak perlu (shift). Jika halaman parkirnya luas atau halaman masjidnya besar maka sebaiknya dilakukan sekali dengan berjamaah. Yang penting protokol kesehatan tadi dan jika semua tertib saya pkir tak perlu ada shif – shif lagi jadi salat dilakukan hanya sekali saja. Lalu kalau tempat ibadah taraweh itu tidak memungkinkan maka kami pikir bisa menggunakan ruangan, aula atau kantor apa untuk menggelar salat taraweh,” jelas Islami Payage lewat ponselnya, Kamis (25/3).

Ia menyampaikan bahwa MUI sudah memfatwakan hal – hal yang berkaitan dengan virus Corona. Salah satunya tidak membatalkan puasa bagi mereka yang melakukan vaksinasi. “Lalu banyak yang bertanya bagaimana dengan swab, antigen dan lainnya. MUI juga sudah mengatakan bahwa tidak masalah dan itu tidak membatalkan puasa,” jelasnya.

MUI menyatakan mengikuti apa yang diputuskan pemerintah selama keputusan tidak bertentangan dengan Alquran dan nilai-nilai agama. “Misal salat taraweh sudah bisa dilakukan dengan jamaah, kami pikir ini sesuatu yang positif. Namun harus menerapkan standar protokol kesehatan agar ada upaya atau ikhtiar yang dilakukan,” bebernya.

Dikatakan, jika sudah berusaha atau berikhtiar namun masih tetap terkena corona maka yang dibutuhkan adalah tawakkal. Sebab Alquran mengatakan  bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak  akan merubah nasib salah satu kaum jika ia tak merubah sendiri. Artinya sudah ada usaha namun dibutuhkan sikap percaya kepada Allat SWT.

Lalu terkait shift ini jika tempatnya tidak memungkinkan maka biasanya masjid ada 2 tingkat maka bisa digunakan atau halamannya. “Kalau salat taraweh ambil 8 rekaat saya pikir tidak sampai 1 jam. Lalu saya mengharapkan agar bagaimana dalam pelaksanaan salat ini betul – betul melibatkan aparat TNI-Polri dan pihak masjid perlu berkomunikasi membantu pelaksanaan dan kelancaran,” pungkasnya. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: