Ngajar Harus Jalan Kaki, Bisa Bertahan Hidup dengan Ngutang di Kios

By
Pertemuan anggota DPRD Kabupaten Merauke dengan Kepala BPKAD dan Kepala Dinas Pendidikan dengan para guru kontrak  membahas   soal  gaji guru kontrak  yang belum dibayar tersebut di ruang sidang DPRD  Merauke,   Rabu (26/6) ( FOTO : Sulo/Cepos )

Derita Guru Kontrak  yang Honornya Belum Dibayar Selama Enam Bulan 

Dampak belum cairnya dana Otsus, menyebabkan sampai akhir Juni  2019,   sekitar 300  guru kontrak  dari Pemerintah Kabupaten Merauke yang  ditempatkan baik di SD, SMP dan SMA-SMK   belum  digaji oleh pemerintah.  Bagaimana suka duka dari para  guru honorer  tersebut tetap bisa bertahan di tempat tugas?  

Laporan: Yulius Sulo_Merauke  

Rini, sudah lima tahun menjadi guru  kontrak   yang ditempatkan di SD YPPK Ngalum  Distrik Tubang, Kabupaten Merauke, salah satu disrik pemekaran dari Okaba. Ia mengaku sampai sekarang    ini pihaknya   belum terima  honor dari pemerintah   daerah. 

 “Makanya kami  ke dewan mengadu karena  beberapa kami ke dinas  mempertanyakan  soal pembayaran  hanya diberi janji. Sehingga    kami   dewan    untuk  menyampaikan aspirasi   kami dan ternyata  mendapat simpati  dari para anggota dewan,’’ kata  Rini.   Untuk memenuhi  kebutuhan  sehari -hari    tersebut, Rini terpaksa    harus mengutang  ke kios yang ada di kampung. ‘’Kan kita  tidak punya   uang.  Jadi  harapnya dari  honor itu ya terpaksa   harus ngutang  untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Untungnya   yang punya kios masih mau kami ngutang,”ungkap Rini yang mengaku tidak sudah berapa  tumpukan utang   di kios  dekat sekolah tersebut.      

    Rini mengaku, dirinya  bisa tetap bertahan  di sekolah  tersebut karena  anak-anak  di kampung tersebut memiliki semangat untuk sekolah.   Diakuinya, bahwa    pihaknya  hanya  menerima honor  yang diberikan pemerintah. berbeda dengan tenaga kesehatan yang   kontrak yang selain diberikan  gaji juga ada tunjangan  tambahan  bagi yang berada di  daerah terpencil  dan terisolir.   

  ‘’Dulu waktu  baru-baru kontrak  itu selain gaji yang kami terima, juga ada     tambahan  bahan makanan. Tapi sekarang  semuanya itu sudah tidak ada,’’  terangnya. 

  Karena itu dia berharap    pemerintah bisa  segera membayar  apa yang sudah menjadi hak   mereka tersebut sehingga   dapat membayar  hutang   mereka.   ‘’Kami juga perlu  makan dan bayar  utang kami di kios,” tambahnya

  Hal sama diungkapkan  Laode Abdullah Abbas,  yang bertugas di  SD YPPK Waan Kampung Waan, Distrik Waan Kabupaten Merauke.   Menurut   La Ode, untuk  keperluan sehari-hari   seperti sabun mandi dan cuci dan kebutuhan  lainnya pihaknya harus ngutang  ke  kios.  ‘’Tapi,      utang kami dibatasi hanya  Rp 3 juta dalam satu semester. Kalau limitnya sudah lewat  dari itu, kami sudah tidak bisa bon lagi,’’ katanya.

  Diketahui, bahwa Waan   merupakan daerah  transportasinya sulit  selama ini. ‘’Ya, untungnya       ada speed boat  yang disediakan dari  Kimaam ke Waan,   tapi teman-teman kami yang dari ibukota Waan ke kampung-kampung kalau    tidak ada speed reguler  terpaksa  carter  speed  yang biayanya   jutaan rupiah,’’ katanya.   

   Laode mengaku  bahwa  untuk kebutuhan beras, pihaknya dari Merauke memang sudah membawa beras  untuk kebutuhan satu semester. Namun   terkadang ada yang  membawa  perbekalan kurang dari satu semester sehingga ketika  berasnya habis harus berbagi. ‘‘Karena di sana   memang  tidak ada beras.  Dulu saat masih ada Raskin, kita   disiapkan dari situ. Tapi sekarang  tidak ada lagi  setelah Raskin  tidak ada,’’  katanya.

   Arnoldus Permanja, salah satu guru  kontrak di SD YPPK Kampung Teri, Distrik Kimaam juga  mengungkapkan bahwa untuk mencapai  tempat tugasnya   tersebut harus menyewa speed dengan harga Rp 1 juta  sekali jalan atau  jika  tak punya  uang lagi maka terpaksa harus jalan kaki selama setengah hari. 

   Di  Kampung Teri  tersebut, lanjut dia,    yang  ia lakukan  bersama dengan 3  guru kontrak dan 2 guru PNS adalah mengajar lebih dari 160  siswa SD.  ‘’Tidak ada  pekerjaan lain  yang bisa  kita lakukan,   kalau  pulang sekolah  untuk mengisi waktu  biasa pergi pancing ikan,’’   katanya.      

   Soal kebutuhan  sehari-hari selama di tempat tugas,   Arnoldus  Permanja mengaku bahwa  pihaknya memang sudah membawa perbekalan  berupa beras dari Merauke. ‘Kalau berasnya habis ya kita  terpaksa pulang. Untuk lauknya kadang masyarakat yang datang bawa ikan,’’ jelasnya. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: