Okupansi Hotel Turun Drastis, Ada yang Hanya 10 Persen

By

JAYAPURA-Di tengah pandemi Covid-19, banyak pelaku usaha khususnya perhotelan yang terkena imbasnya.  Semenjak ada pandemi Covid-19,  tingkat hunian kamar hotel di  Kota Jayapura mengalami penurunan. Pada semester 1 tahun 2020 tidak bisa lebih dari 50 persen. Apalagi saat ini adanya lockdown di Papua dimana hotel-hotel banyak yang tutup.

 Namun pada  semester 1 tahun 2021 memang sudah mulai membaik dan ada peningkatan jika dibanding tahun 2020 lalu. Hanya saja pada bulan Juni 2021 pasca lebaran,  angka penyebaran Covid-19 kembali meningkat lagi akibat banyak yang terkena Covid-19.

  “Tingkat hunian Januari sampai Juni 2020 lalu memang turun apalagi pada bulan Maret sudah dilakukan lockdown sampai akhir tahun, namun pada tahun 2021 bulan Januari sampai Juni sudah mulai membaik. Namun karena ada PPKM dari Jakarta,  akhirnya ivent-ivent yang diselenggarakan di hotel dengan mendatangkan narasumber atau tamu dari luar Papua tidak bisa lagi datang, sehingga banyak ivent ditunda akibat pengaruh  PPKM di Jakarta dan berpengaruh di Jayapura,”ungkap Marcom dan Event Organizer A&G Department Hotel Mercure Jayapura Kiky Kostanta T.

 Kiky menambahkan, secara  okupansi bulanan memang rata-rata tidak sampai 40 persen selama ada pandemi. Yang penting sudah bisa membayar gaji karyawan dan biaya operasional hotel. Jika tidak sampai segitu tentu hotel bisa bahaya karena merugi  dan tidak bisa menutupi operasional serta gaji karyawan.

  Untuk itu, supaya okupansi hotel masih bisa terdongkrak,  cara yang dilakukan perhotelan Kota Jayapura dengan menghadirkan promo kamar, makan dan minum kepada tamu serta melayani pemesanan makanan pengantaran luar.  Di masa pandemi hotel dituntut bisa berinovasi.

 Sementara itu,  Pengelola Hotel Sahid Papua Entrop, Gurnar Abdul Rauf mengakui, di masa pandemi saat ini,  okupansi kamar hotel sangat turun sekali. Dari Januari sampai sekarang, okupnasi  belum sampai 30 persen. Sementara untuk perputaran operasional bisa berjalan lancar itu minimal 30 persen dan ini belum ada keuntungan. Tapi setidaknya kalau okupansi sudah ada 30% , minimal sudah bisa membayar gaji karyawan dan operasional.

 “Okupansi kami di bulan Juli 2021 jutru tidak sampai 20 persen. Bahkan   bisa sampai 10 persen dan untuk perputaran operasional memang agak sulit,  sehingga Hotel Sahid menyiapkan strategi bagaimana supaya turunnya tingkat hunian namun bisa tetap beroperasi. Caranya  dengan subsidi silang. Kalau hanya berharap dari hotel tidak ada keuntungan. Untungnya owner Hotel Sahid Entrop punya usaha lainnya. Ini yang dimaksimalkan untuk membantu Hotel Sahid Entrop,”ungkapnya, Selasa (3/8)kemarin.

 Diakui, sekarang ada beberapa hotel yang sudah kewalahan menghadapi kondisi saat ini. Padahal pada bulan Mei 2021 sudah mulai terjadi pemulihan ekonomi dan banyak event dilaksanakan di hotel,  sehingga meningkatkan kompetensi kamar. Namun setelah Juni pasca lebaran,  ada arus balik ke Jayapura justru banyak orang terpapar Covid-19 sampai saat ini yang akhirnya dilakukan PPKM.

 Rauf berharap nantinya usai PPKM tingkat okupansi hotel bisa kembali meningkat, angka penyebaran Covid-19 bisa kembali turun dan pandemi bisa segera berlalu. Apalagi ini mendekati PON XX dan Peparnas. Tentu banyak kamar hotel dipakai untuk acara dan menginap para tamu maupun kontingen. Ini bisa menjadi angin segar bagi pihak perhotelan untuk meningkatkan pendapatan.

 “Kami berharap adanya PPKM dan okupansi hotel benar-benar sudah sangat turun, setidaknya ada kebijakan pemerintah untuk bisa memberikan kompensasi soal pajak, karena dimasa pandemi seperti ini jika pemerintah tidak memberikan kompensasi pajak,  banyak hotel yang akan merumahkan karyawannya atau bahkan bisa sampai gulung tikar,”tandasnya.(dil/cr-265/ary)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: