Beranda UTAMA PAPUA Pangdam Kawal Kasus Penembakan Warga Sipil

Pangdam Kawal Kasus Penembakan Warga Sipil

0
TATAP MUKA: Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Herman Asaribab saat bertatap muka dengan Pemerintah Kabupaten Puncak, tokoh gereja, keluarga korban dan kepala suku di kantor Bupati Puncak, di Ilaga, Kabupaten Puncak, Sabtu (21/9). (FOTO : Humas Pemkab Puncak for Cepos)

JAYAPURA- Pasca dua hari dilantik sebagai Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Herman Asaribab, Sabtu (21/9) kemarin langsung melakukan kunjungan kerja ke wilayah Ilaga Kabupaten Puncak.  Kunjungan kerja tersebut dalam rangka meninjau secara langsung perkembangan situasi di Ilaga.

Dalam tatap muka dengan Pemerintah Kabupaten Puncak, tokoh gereja, keluarga korban dan kepala suku di kantor Bupati Puncak,di Ilaga, Kabupaten Puncak, Sabtu (21/9). Pangdam Herman Asaribab berjanji akan mengawal kasus penembakan warga sipil yang menyebabkan tiga warga meninggal dunia, dan lima lainnya luka-luka di kampung Olen, Distrik Mabugi, Selasa (17/9) lalu.

Bahkan tim investigasi gabungan TNI-Polri, juga sudah diturunkan ke Kabupaten Puncak. Tim ini nantinya untuk mengumpulkan sejumlah data dan fakta terkait peristiwa penembakan tersebut.

Menurut mantan Pangdam XII/Tanjungpura ini, dirinya dilantik menjabat Pangdam XVII/Cendrawasih Selasa (17/9) bertepatan dengan peritistiwa penembakan di Distrik Mabugi. Untuk itu, dirinya memilih terbang ke Ilaga, untuk mengecek langsung kejadian tersebut.

“Saya sampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Berharap keluarga diberikan kekuatan menghadapi cobaan ini. Saya ke Ilaga agar bisa melihat dan mendengar langsung apa yang terjadi. Termasuk saya juga sudah menjenguk keluarga korban lain di RSUD Mimika,” ungkap Pangdam Herman Asaribab dalam rilis yang diterima Cenderawasih Pos dari Humas Pemkab Puncak, kemarin. 

Dikatakan, setelah pihaknya mendapat hasil kerja dari tim investigasi yang diturunkan ke Ilaga, barulah hasil tersebut akan dilaporkan ke pimpinan. Guna mengambil keputusan, yang tepat terkait dengan kondisi di Kabupaten Puncak.

Terkait dengan permintaan masyarakat agar pasukan yang non organik ditarik dari Kabupaten Puncak, putra asli Papua ini akan menyampaikan ke pimpinan. Apalagi diperkuat oleh surat dari Bupati Puncak sendiri  ke Presiden untuk segera menarik masukan non organik dari Kabupaten Puncak.

“Kita akan bantu sampaikan ke pimpinan, yang utama adalah masyarakat juga bantu personel saya. Kami sama-sama menjaga keamanan,”tegas Pangdam.

Pihaknya akan menyampaikan aspirasi masyarakat ini ke pimpinan, agar ada langkah-langkah cepat dalam menyelesaikan persoalan di Puncak ini. Ia menginginkan agar ada rasa aman bagi rakyat di Puncak, sehingga pembangunan bisa berjalan dengan baik, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedepan.

Sementara itu, Bupati Puncak, Willem Wandik mengatakan, pertemuan ini sangat penting dalam rangka rekonsiliasi kondisi di Kabupaten Puncak pasca penembakan di Kampung Olen, Distrik Mabugi, Selasa (17/9).

Dari hasil tatap muka dengan rombongan Pangdam XVII/Cendrawasih, Bupati Willem Wandik mengatakan masyarakat meminta agar proses pengejaran yang selama ini dilakukan oleh pasukan non organik TNI terhadap anggota KSB segera dihentikan, dan mencari pendekatan yang lain yang lebih persuasif. Ketimbang menggunakan cara-cara kekerasan. Sebab, KSB lebih banyak bersembunyi di belakang masyarakat.

“Dampaknya masyarakat sipil yang jadi korban. Kota jadi tegang dan kondisi tidak aman. Untuk itu, kami minta proses pengejaran dihentikan. Kita cari pendekatan lain yang lebih baik lagi, sehingga kabupaten ini aman dan pembangunan bisa dilaksanakan dengan baik,” tuturnya.

Lanjut Bupati, Presiden Joko widodo harusnya tidak menggunakan cara-cara kekerasan untuk membangun di Papua. Sebab, jika menggunakan cara-cara kekerasan maka jangan heran jika persoalan di Papua tidak akan selesai.

“Di Papua ini tidak bisa menggunakan cara-cara kekerasan, harus dengan persuasif. Sehingga program bisa berjalan dengan baik, terutama jalan trans Papua,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua, Pdt. Silas Mom, S.Th, mewakili Gereja dan masyarakat Puncak, juga meminta Pangdam XVII/Cenderawasih agar pasukan non organik ditarik dari Puncak.

Hal ini dikarenakan, sejak aparat melakukan pengejaran terhadap KSB di Kabupaten Puncak hampir sebulan ini. Sekitar 10 orang warga sipil meninggal dunia, jika dihitung kasus di Distrik Gome dan terakhir di Distrik Mabugi.

“Kejadian kemarin itu bukan ada kontak senjata. Karena OPM sudah lari dan menghilang, tinggal rakyat saja dalam honai. Anggota langsung datang tembak membabi buta, sehingga tiga warga kami meninggal dunia. Kami minta agar pelaku diproses dan pasukan segera ditarik,” tegasnya.

Sementara itu, Perwakilan dari Mabes Polri, Irjen Pol. Paulus Waterpauw mengharapkan semua pihak menahan diri dan mampu untuk bersama-sama menjaga keamanan dan kedamaian di Kabupaten Puncak.

“Pesan dari Kapolri agar kita bersama-sama untuk menjaga keamanan di sini (Puncak, red). Sehingga kedamaian di kabupaten ini terjaga dan proses pembangunan bisa berjalan dengan baik, demi rakyat di Puncak,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, setidaknya tiga warga sipil meninggal dunia yang terdiri satu orang dewasa, satu anak, dan satu Balita. Sementara 4 lainnya mengalami luka tembak dan sementara dirawat di RSUD Timika saat pengejaran anggota KSB di kampung Olen, Distrik Mabugi, Kabupaten Puncak, Selasa (17/9).

Ikut bersama dengan rombongan Pangdam XVII/Cenderawasih, perwakilan dari Mabes Polri Irjen Pol Paulus Waterpauw dan juga perwakilan dari Kemenko Polhukam  Desk Papua, Kol Inf .Almuchalif suryo,S.I.P, Danrem 173/PVB, Dandim 1714 Puncak Jaya, Kapolres Puncak Jaya, dan para perwira tinggi lainnya di lingkungan Kodam XVII/Cenderawasih. (fia/nat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here