Panjat Pagar, Pater Selamatkan 6 Warga dari Kobaran Api

By

JAYAPURA-Di tengah gejolak kontak senjata antara TNI-Polri dengan TPNPB di Intan Jaya, beredar video di media sosial berdurasi 2 menit 22 detik. 

Dalam video tersebut, terlihat dua orang Pater atau Pastor berbaju putih sembari memegang salib bersama beberapa warga setempat berusaha menyelamatkan warga yang ada dalam kepungan api.

Video tersebut tentu mengenyuh setiap hati yang menontonnya. Upaya Pastor dan warga setempat yang berusaha menyelamatkan enam orang yang terkepung api. 

Bahkan, terlihat salah seorang Pastor nekad memanjat pagar kayu dengan tinggi sekira 2 meter lalu menarik tangan enam orang yang diselamatkan. “Ini Pater keluar! Mari-mari, ini Pater,” terdengar jelas teriakan dalam vidio tersebut yang hendak memanggil warga untuk diselamatkan.

 “Kristus, Tuhan lindungilah saya. Situasi begini saya lagi mengemudi dan selamatkan umat, Tuhan, tolong selamatkan saya,” ucap seorang pria yang merekam vidio berdurasi 2 menit 22 detik itu.

Pastor Paroki St. Fransiskus Titigi, Dekenat Moni Puncak, Keuskupan Mimika,  Pater Yance Wadogoubii Yogi menjelaskan, saat itu Jumat (29/10), terjadi kontak senjata di sekitar bandara dan terjadi pembakaran yang dilakukan TPN-OPM.

Dalam pembakaran tersebut, terdapat 6 orang karyawan bandara dan bank Papua serta pedagang masih berada dalam rumah. Keenam orang tersebut mengamankan diri dalam WC.

“Tinggal 25 menit lagi mau hangus, kami mendapatkan telepon dari Nabire untuk menyelamatkan 6 orang tersebut. Para Pastor dan seorang anggota DPR Melianus Belau langsung menuju ke lokasi dan menyelamatkan mereka,” ungkap Pater Yance saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Minggu (31/10).

Usai diselamatkan dari kobaran api, keenam orang tersebut diamankan di Pastoran hingga, Sabtu (30/10) pagi diserahkan ke Polres setempat. 

Adapun keenam orang tersebut merupakan  karyawan bank, karyawan bandara dan pedagang suami-isteri. “Kami naik pagar kayu setinggi dua meter dan kami kasi keluar orang-orang itu dari atas pagar. Kami tarik mereka dan bawa mereka ke sebelah,” jelas Pater Yance.

Dari kesaksian Pater Yance, mobil ambulance keliling, dibakar dan kios di ruang tunggu bandara juga terbakar dalam insiden tersebut.

Terkait konflik senjata yang masih terjadi di Intan Jaya, pihak gereja meminta agar pihak yang bertikai menyudahinya. Termasuk meminta anggota TNI yang membawa Sem Kobogau pada 5 Oktober lalu segera mengembalikan kepada keluarganya.

“Kami gereja berkali kali meminta ke Polres Intan Jaya dengan cara kami. Namun permintaan kami soal keberadaan Sem Kobogau tidak ada jawaban dari pihak Polisi. Pihak gereja pun tidak bisa memastikan Sem ada di mana,” ucap Pater Yance.

Menurut Pater Yance, kontak senjata hingga menyebabkan seorang bayi meninggal dunia akibat kena tembakan dan warga mengungsi, pemicunya yaitu hilangnya Sem Kobogau.

“Peluru nyasar yang menyebabkan warga sipil meninggal dunia lantaran  OPM masuk di tengah masyarakat. Inilah yang membuat terkadang warga sipil meninggal dunia. Kita mau salahkan siapa,” kata Pater.

Terkait konflik senjata di Intan Jaya, pihak gereja menolak tegas kehadiran blok Wabu di daerah mereka. Sebab yang diharapkan masyarakat bukan blok Wabu, melainkan kesejahteraan serta masyarakat merasa aman di atas tanah mereka sendiri.

“Tidak boleh ada korban jiwa karena blok Wabu. Kami tidak butuh blok Wabu. Yang kami inginkan daerah kami aman dan kesejahteraan tetap jalan. Pemerintah daerah tidak pernah bangun daerah lalu rampas-rampas blok Wabu untuk apa,” sesal Pater Yance.

Pater berharap masyarakat sipil terutama anak-anak tidak menjadi korban dalam kontak senjata antara TNI-Polri dan  TPN-OPM. Korban sipil di Intan Jaya hanya karena blok Wabu. (fia/bet/nat)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: