Papua Urutan Ketiga Kasus HIV, Harus Serius Selamatkan Dari yang Tersisa

By

Plh, Wakil Ketua KPA Provinsi Papua Meki Wetipo (FOTO:Elfira/Cepos)

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua Soal Kondisi Terakhir Penyebaran HIV-AIDS

Selama Pandemi Covid-19, penanganan penyebaran HIV-AIDS terkesan “Kalah” perhatian  dengan penanggulangan virus Corona yang menyebar cepat di seluruh dunia. Bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember lalu, penangangan HIV-AIDS kembali mendapat atensi serius. Lantas seperti apa kondisi penyebaran dan penanganan HIV-AIDS di Papua saat ini?

Laporan: Elfira_Jayapura 

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua mencatat, Papua urutan ketiga atau keempat kasus HIV tertinggi tingkat nasional. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Papua tahun 2022. Sejak tahun 1992 hingga 2022, terdapat 50.011 kasus HIV-AIDS di bumi cenderawasih. Jumlah kasus ini terdiri dari 20.0441 HIV positif dan 29.570 AIDS.

   Plh Wakil Ketua KPA Provinsi Papua, Meki Wetipo menyampaikan, ketika angka HIV  terus meningkat. Dampak baiknya setiap orang harus memiliki kesadaran untuk memeriksakan diri guna mengetahui status HIV.

  “Ketika kita memeriksakan diri, dengan begitu menjadi tahu apakah posisi kita aman atau  sudah positif HIV. Jika sudah positif, bisa dicarikan penanggulangan dan pencegahannya. Banyak tim medis dan pendamping di setiap pelayanan kesehatan,” kata Meki kepada Cenderawasih Pos.

  Menurut Meki, pemberantasan atau pencegahan dan penanggulangan HIV di Papua tidak hanya menjadi tanggungjawab KPA atau  Dinas Kesehatan. Melainkan butuh keterlibatan semua dinas terkait terutama kebijakan kepala daerah setempat.

  “Kepala daerah harus membuat kebijakan yang serius, karena angka HIV di Papua mencapai 50.011 kasus. Kita di Papua masuk urutan 3 atau 4 besar tingkat nasional terkait kasus HIV,” ungkapnya.

  Mengingat ini adalah masalah serius, Meki meminta peranan Kepala Daerah sangat dibutuhkan. Harus berani menganggarkan dana untuk menyelamatkan sisa dari yang tersisa. Sebab kebanyakan yang kena HIV adalah orang Papua.

  “Kalau sedikit ini tidak diselamatkan, berarti akan ada cerita seperti yang terjadi di Aborigin Australia dan negara lainnya bahwa orang asli itu pernah ada, tapi karena faktor faktor tertentu mereka hilang. Dan kemungkinan cerita itu bisa terjadi di Papua, jika kepala daerah dan semua stakeholder tidak bekerjasama untuk mengatasi masalah ini,” tuturnya.

   Menurut Meki, peranan kepala daerah sangat dibutuhkan dalam mengatasi persoalan HIV. Sehingga itu, dalam Raker nantinya pihak terkait diharapkan terlibat aktif. Sebagaimana program disusun bersama namun setiap kepala daerah mengaggarkan dana sesuai dengan program yang diusulkan.

   Selain peranan kepala daerah, Meki juga meminta masyarakat harus punya kesadaran untuk memeriksakan kesehatannya terutama terkait dengan HIV. “Dalam pengamatan dan investigasi di lapangan, kesadaran orang untuk memeriksakan dirinya masih lemah. Hal ini disebabkan oleh stigma dari masyarakat lainnya. Masih banyak  orang khususnya teman teman di Papua mengnaggap HIV adalah penyakit kutukan,” ungkapnya.

  “Dari hasil investigasi kami, beragam stigma kepada orang dengan HIV membuat mereka terkurun dan malu untuk melangkahkan kaki datang ke pelayanan kesehatan untuk memeriksakan diri,” ucapnya.

  Meki mencontohkan, ada seorang warga diketahui terindikasi kena HIV ketika jenazah hendak dimakamkan. Semasa hidup, yang bersangkutan tidak pernah memeriksakan diri lantaran stigma dari orang orang sekitarnya sehingga memilih tinggal di rumah hingga ajal menjemput.

  “Dalam pengamatan kami, stigma terhadap orang dengan HIV masih sangat tinggi di Papua,” kata Meki.

  Sehingga itu, Meki mengimbau jangan ada lagi stigma terhadap HIV atau ODIV. Sebab,  mereka bagian dari kita dan orang dengan HIV memiliki hak yang sama dan mereka tidak akan menyebarkan dengan cara berkomunikasi atau saat makan bersama.

  “Kasus HIV di Papua diakibatkan melalui hubungan seksual yang tidak aman, jarum suntik dan air susu ibu,” tegasnya.

  Dikatakan, orang yang positif HIV bisa bertahan hidup sepanjang dia mampu mengkomsumsi ARV dan kontrol yang rutin. Status positif sama sekali tidak mengurangi hal hal yang lain untuk berkeluarga, bekerja dan lainnya, perbedaannya hanya terletak di kata positif,” ungkapnya.

Berdasarkan data kasus HIV/AIDS di Papua

Kelompok Umur         HIV                 AIDS

< 1                               28                    76

1-14 tahun                   405                  739

15-19 tahun                 2.411               3.363

20-24 tahun                 5.017               6.865

25-49 tahun                 11.685             17.127

> 50                             604                  1.129

#Jenis Kelamin

Sex                              HIV                 AIDS

Laki laki                      8.740               14.610

Perempuan                  11.640             14.931

Tidak diketahui           61                    29

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: