Pasarnya Berpengaruh Sampai ke Pusat Kota dan Bali

By

Genteng Kulon, Banyuwangi, Dua Tahun Beruntun Runner-up Indeks Desa Membangun Mandiri Nasional (1)

Di Genteng Kulon, pasar induk pusat kulakan bertemu dengan perguruan tinggi, mal, hotel, serta BUMDes yang tak berfokus pada profit.

SULHAN HADI, Banyuwangi, Jawa Pos

TUJUH ton sampah per hari. Kepala desa lain mungkin sudah puyeng karena menganggapnya beban. Namun, Supandi justru melihatnya sebagai potensi yang belum tergarap. ”Saya ingin sampah ini menjadi kekayaan. Sayangnya, kami belum punya lahan,” ujar kepala Desa Genteng Kulon tersebut kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Desa di Kecamatan Genteng di selatan Kabupaten Banyuwangi, sekitar 35 kilometer dari pusat kota, itu memang tak pernah berhenti bergerak dan berbenah. Mencari solusi, menemukan inovasi. Geliat itulah yang kemudian membuahkan prestasi.

Tahun ini Genteng Kulon mengulangi raihannya tahun lalu: runner-up indeks desa membangun (IDM) mandiri nasional. Bahkan, dalam empat tahun terakhir, Genteng Kulon tak pernah lepas dari empat besar di ajang tersebut: posisi keempat pada 2018, ketiga setahun kemudian, disusul di tempat kedua pada dua tahun terakhir. Pada 2021 ini, skor IDM yang diperoleh sebesar 0,9924. Di jajaran terhormat tahun ini, Genteng Kulon juga didampingi tetangganya, Genteng Wetan, yang menduduki posisi kelima.

”Saya hanya menjalankan rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDes). Dasar saya, anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes),” jelas Supandi tentang kunci sukses desa yang dipimpinnya.

Supandi menyatakan, poin yang didapat Genteng Kulon dalam IDM merupakan hasil kerja laporan yang dibuat pendamping desa yang kemudian diverifikasi di berbagai tingkat. Pemdes hanya menyediakan data yang diinginkan pendamping. Dia memastikan semua data itu dibuat apa adanya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Banyuwangi Kusiyadi menjelaskan, penilaian IDM 2021 didasarkan pada indeks ketahanan sosial (IKS), indeks ketahanan ekonomi (IKE), dan indeks ketahanan lingkungan/ekologi (IKL). Di Desa Genteng Kulon dan Genteng Wetan, kata dia, berbagai fasilitas serta sarana-prasarana pendukung tiga indikator penilaian tersebut telah terpenuhi. ”Sehingga dua desa di Kecamatan Genteng itu meraih nilai tinggi dan masuk dalam jajaran lima besar IDM mandiri nasional,” katanya.

Secara kasatmata, potensi ekonomi dan pendidikan di Desa Genteng Kulon memang kentara. Pasar Genteng selama ini dikenal sebagai pasar induk di Banyuwangi. Ada dua pasar induk di sana. Dan, meski Desa Genteng Kulon berada di kawasan selatan dengan jarak lumayan jauh, pengaruh ekonominya bisa dirasakan hingga ke pusat kota. 

Pasar Genteng termasuk pasar tua di kabupaten paling timur di Pulau Jawa tersebut dan menjadi pusat pengepul sayur-mayur. Kulakan di sana, harganya lebih miring ketimbang di pasar-pasar lain. Permintaan sayur-mayur dari Bali, pulau tetangga Banyuwangi, misalnya, juga dipenuhi Genteng. Banyak armada pengangkut sayur tujuan Pulau Dewata yang start dari Pasar Genteng. Impor bawang putih dari luar, khususnya Surabaya, juga selalu masuk ke Genteng. Baru kemudian terdistribusi ke Kota Banyuwangi.

Itu didukung berdirinya mal dan hotel. Di samping itu, fasilitas pendidikan lengkap, mulai PAUD sampai ke tingkat perguruan tinggi, berada di desa ini. Begitu pula fasilitas kesehatan. Yang tradisional sampai modern tersedia.

Di luar pasar, Supandi mengungkapkan bahwa perputaran ekonomi berbasis pemberdayaan sebenarnya justru berada di RTH (ruang terbuka hijau) Maron. Lokasi yang sebelumnya hanya sebuah stadion bola itu kini berubah menjadi pusat kegiatan masyarakat yang dikelola badan usaha milik desa (BUMDes). Ratusan pedagang kecil mengadu nasib di tempat tersebut.

Berdirinya BUMDes, kata Supandi, tak difokuskan pada pendapatan asli desa. Melainkan lebih pada terciptanya lapangan pekerjaan dan menekan angka kesenjangan kemiskinan di kawasan tersebut. Dia mendorong BUMDes bisa memfasilitasi kemudahan para PKL dengan pihak ketiga seperti perbankan. ”BUMDes tidak profit oriented. Tapi, bagaimana caranya orang yang tidak punya kerja bisa kerja,” jelasnya.

Itu dibenarkan Adnan, salah seorang pedagang di RTH Maron. BUMDes cukup membantu dan memudahkan pengaturan pedagang. Mengingat, jumlah pedagang di RTH lebih dari 100 orang dan bukan hanya pedagang dengan KTP Genteng Kulon. ”Kemarin, saat pandemi disambati, BUMDes juga punya jalan keluar,” ucapnya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersyukur dua desa di Banyuwangi itu masuk lima tertinggi IDM mandiri nasional. ”Ini menjadi bukti keseriusan seluruh komponen kecamatan dan desa dalam mewujudkan pembangunan yang maksimal,” katanya.

Selama ini Pemkab Banyuwangi telah melakukan berbagai upaya pemerataan pembangunan hingga ke wilayah pedesaan lewat keroyokan lintas satuan kerja perangkat daerah. Di bidang pendidikan, misalnya, pemkab meluncurkan sejumlah program. Salah satunya, Siswa Asuh Sebaya (SAS). Itulah aksi solidaritas dari siswa yang mampu untuk membantu kawan mereka yang kurang mampu dalam mendukung pendidikannya.

Ada pula program Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh). Juga, beasiswa Banyuwangi Cerdas bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Di bidang kesehatan, Banyuwangi meluncurkan program Sakina (Stop Kematian Ibu dan Anak). Program itu melibatkan para penjual sayur keliling di desa-desa untuk menjadi pemburu ibu hamil berisiko tinggi (bumil risti). Ada juga program pengantaran obat ke rumah warga gratis (Gancang Aron/lekas sembuh) dan menempatkan tenaga bidan di wilayah terpencil guna mengurangi angka kematian ibu dan anak.

Pesatnya kegiatan ekonomi di Genteng Kulon sejauh ini tak membawa dampak buruk bagi lingkungan. Banyaknya industri rumahan belum menimbulkan persoalan yang berkaitan polusi maupun pencemaran air dan udara. ”Kalau dirasakan, kanal dan udara cukup bersih,” jelas Koordinator Tenaga Pendamping Desa Banyuwangi Arif Wicaksono.

Supandi tak mau dibebani dengan predikat runner-up IDM. Yang terpenting, terus bergerak dan berbenah untuk menciptakan kemandirian ekonomi di antara warga. Misalnya, lewat menyeriusi potensi wisata aliran irigasi Bendung Maron yang memiliki tetenger Sasak Gantung. Saat ini proses sudah dimulai dan diperkirakan mencapai puncaknya dua tahun mendatang. ”Genteng Kulon punya program wisata terpadu Sasak Gantung,” jelasnya.

Dengan berbagai inovasi itu, mengurus persoalan ekonomi dan kesejahteraan warga menjadi lebih ringan. ”Saya ingin kemiskinan berkurang sehingga mereka tidak njagakne desa,” tuturnya. (*/abi/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: