Pasca Pandemi, Misa Bernuansa Budaya dan Ibadah Akbar Digelar Lagi

By

Suasana Misa Pentakosta Bernuansa Budaya  dari masyarakat Suku Kei yang digelar  di Paroki Kristus Terang Waena, Senin (6/6).

Mengikuti Perayaan Pentakosta Hari Kedua yang digelar Sejumlah Gereja di Jayapura   

Lima puluh hari sesudah kebangkitan Yesus Kristus yang dirayakan dalam Paskah, atau sepuluh hari sesudah kenaikan Yesus ke Surga, Gereja menggelar perayaan Hari Raya Pentakosta, atau pencurahan Roh Kudus. Setelah perayaan Pentakosa pada hari Minggu (5/6), umat kristiani merayakan Pentakosta dengan nuansa adat, Senin (6/6).

Laporan: Carolus Daot-Jayapura

Senin (6/6) perayaan Pentakosta hari kedua, digelar  di sejumlah gereja, termasuk ibadah padang yang digelar sejumlah gereja Kristen prostetan di sejumlah tempat terbuka. Sebagian besar gerja yang ada di kota jayapura merayakan hari raya pantekosta dengan ibadah inkulutrasi. 

   Umat menjalankan keimanannya dalam persepsi kebudayaanya. Artinya gereja lebih membuka diri dan menerima unsur unsur kebudayaan setempat yang   tidak bertentangan dengan ajaran Kristen.

  Dengan merayakan suatu moment perayaan bernuansa adat atau buadaya membuat umat tidak merasa terasing, karena tata ibadah yang sesuai dengan kebudayaannya. Begitu pun di Gereja Katholik Kristus Terang Dunia Waena diwarnai dengan ibadah Inkulturasi dari Umat Katholik suku Kei/Evav.

   Ibadah bernuansa Suku Kei/Evav ini sudah sering dilakukan  sejak 7 tahun lalu di seluruh dekanat keuskupan Jayapura setiap tahun dilakukan secara bergilir ke setiap Paroki yang ada di Keuskupan Jayapura.

   Menariknya pada misa Inkulturasi bernuansa suku Kei/Evav ini tidak hanya liturginya yang menggunakan bahasa dari suku Kei/Evav, tapi juga pemimpin Ibadahnya dipimpin langsung oleh Pater Bruri Renyaan OFM,  Pastor yang  berasal dari suku Kei.

  Tema yang diangkat pada misa inkulturasi bernuansa suku kei ini  Roh El Moryain En’adir It Ngarihi Fang Nanan Suk Suk Mayun  (Bahasa daerah suku Kei) yang artinya dalam bahasa indonesia Roh Kudus mengajari kita berbahasa cinta. Sedangkan sub tema yang di angkat adalah Tar Flawai Roh El Moryain En’vingu It Floaan Duad Ni Hahauk Jaad Naa Did Vabain Smer- Ler Wahan Naa Tanat Papua. (Bahasa daerah suku    Kei) yang artinya Mengandalkan Roh Kudus Supaya Kehendak Allah Terjadi dalam Kehidupan Kita di Tanah Papua.

  Ibadah berlangsung khusyuk. Suasana gereja diwarnai dengan kekhasan suku kei itu sendiri. Melihat animo umat yang mengikuti misa tersebut sungguh sangat luar biasa Gereja Terang Dunia Waena dipadati dengan masyarakat Kei yang ada di seluruh paroki Keuskupan Jayapura.    Wakil ketua panitia pelaksana kegiatan, Johanis Letsoin mengatakan Ibadah Inkulturasi pada pada pentakosta hari kedua  tahun 2022 ini yang menjadi panitia pelaksana adalah Kerukunan Keluarga Derol Debut, Rumadian, Ohoililir di Jayapura.

“Tujuan  misa bernuansa adat ini untuk memupuk rasa persaudaraan dari masyarakat Kei yang hidup di tanah Papua khususnya Kota Jayapura. Selain itu dengan adanya ibadah inkulturasi seperti itu dengan sendirinya dapat mengenalkan suku Kei kepada generasi muda muda yang lahir besar di tanah Papua khususnya Kota Jayapura.”ujarnya. 

  Sebab praktis  masyarakat Kei yang lahir besar di Kota Jayapura hampir tidak mengenal budaya, maupun bahasa, maupun makanan khas masyarakat Kei sehingga dengan adanya kegiatan tersebut dapat memberikan edukasi kepada generasi muda yang ada di Kota Jayapura. Yang mana ini merupakan bagian dari warisan agar tidak ditelan oleh perkembangan zaman.

  “Dengan adanya misa inkulturasi seperti ini akhirnya masyarakat Kei yang lahir besar di Jayapura bisa dengan perlahan mengenal kebuadayaan suku kei itu seperti apa”, tutur

Johanis Letsoin, kepada wartawan, senin, (6/6).

  Sementara itu, perayaan pentakosta pada hari kedua kemarin juga  dilakukan oleh Klasis GKI  Rayon B, Port Numbai Jayapura. Sejumlah umat memadati perayaan yang digelar di lapangan karang PTC Entrop, Senin (6/6).

   Ibadah berlangsung khusyuk walaupun ibadah liturgi yang mereka bawakan ini tidak bernuansa bahasa adat Port Numbay, tapi hal yang paling menarik dari pada ibadah pentakosta ini, setiap vokal group yang membawakan lagu pujian wajib mengenakan pakian batik bercorak Papua, juga mengenakan topi burung Cendrawasih.

   Moment merayakan Hari raya Pentakosta ini diadakan sebagai bentuk silahturahmi Jemaat  Klasis GKI Rayon B, Port Numbay yang ada di Kota Jayapura. Konsep liturgi yang dibawakan Klasis GKI tahun Ini bernuansa  Port Numbay. Melihat animo masyarakat Port Numbay yang hadir pada perayaan tersebut sungguh sangat luar biasa.

   Ketua Panitia Kegiatan, Marto Jowey, SH, menyampaikan ucapan terima kasih  kepada seluruh jemaat Klasis GKI Rayon B, Port Numbay karena telah memenuhi undangan mereka untuk  mengikuti misa pentakosta bersama Seluruh Klasis GKI Rayon B, Port Numbay di lapangan Karang PTC Entrop. Menurutnya, Ibadah Akbar Pentakosta ini merupakan  pertama kali diadakan sejak adanya pandemi.

  “Puji tuhan karena oleh pertolongan tuhan Kami klasis GKI Rayon B, Port Numbay JJayapura hari ini bisa melaksanakan misa pentakosta kedua secara bersamaan, yang mana sejak adanya pandemi kami tidak melakukan misa akbar seperti ini”, ucap ketua pamitia tersebut.

Tema yang diangkat pada misa pentakosta kedua ini adalah Roh Kudus Berkuasa Melakukan Perubahan Dalam Hidup Manusia. Sedangkan sub tema Roh Kudus Menguasai Gereja Memberitakan Injil Kerjaaan Allah Dalam Rangka Pembaharuan dan Perubahaan Hidup Manusia demi Keadilan, Perdamaian Dan Cinta Kasih Dalam Kehidupan Bersama.

   “Kami sangat senang karena jemaat yang hadir melebihi undangan panitia, yang mana targetnya 2000 jemaat, tapi antusias yang hadir hari ini sunggu sangat luar biasa banyak, ini menandakan bukti cinta Tuhan menyertai umatNya yang ada di tanah Port Numbay ini”, ucapnya. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: