Patung Wali Holelo Roboh

By
PATUNG ROBOH: Kepala Distrik Sentani, Budi Yoku bersama tokoh masyarakat Kampung Ifar Besar saat mengecek kondisi patung Wali Holelo yang roboh, di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (12/6). ( FOTO : Robert Mboik/Cepos)

Diduga Tiang Penyangga Patah

SENTANI- Patung  Wali Holelo yang berada di Kampung Ifar Besar, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, roboh, Rabu (12/6) sekira pukul 15.00 WIT. 

Belum diketahui secara pasti penyebab utama robohnya patung yang berada di Danau Sentani yang dibangun sejak tahun 1999 itu. Namun diduga kuat robohnya bangunan patung tersebut dikarenakan beberapa tiang penyangga patung bagian belakang mengalami pelapukan dan patah. Kondisi ini diduga menjadi penyebab sebagian bangunan patung tersebut ambruk.

“Patung ini dibangun sejak tahun 1999 silam dan baru diresmikan pada tahun 2014 lalu,” ungkap Demetrius Yoku salah satu tokoh masyarakat Kampung Ifar Besar kepada Cenderawasih Pos saat mengecek kondisi patung Wali Holelo, kemarin. 

Dia mengisahkan, patung itu didirikan untuk tujuan mengenang kembali lokasi itu yang dulunya merupakan cikal bakal pekabaran injil pertama bahkan di wilayah Sentani umumnya. 

Setelah dibangun dan diresmikan, keberadaan patung itu ternyata mengundang perhatian masyarakat untuk dikunjungi. Sehingga sejak diresmikan tahun 2014 lalu, tempat itu boleh dibilang menjadi salah satu tempat pariwisata bernuansa religi di Sentani. Kini usianya baru lima tahun sejak diresmikan, namun kemarin sore  patung ini roboh. 

“Ini untuk mengenang Pekabaran Injil di Sentani, karena awal mula injil masuk sentani dari Kampung Ifar Besar ini,” ungkapnya.

Patung itu sendiri sebenarnya merupakan gambaran sosok tokoh Yesus yang sedang memegang Alkitab dan menujuk ke arah bangunan gereja Kristen yang ada di daratan tepat di depan patung itu. 

Ini menggambarkan bahwa di situlah Injil pertama kali masuk daerah Sentani. Patung itu diberi nama Wali Holelo yang diambil dari bahasa lokal Sentani yang artinya penyelamat atau penjaga.

Menurut Demitris, roboh bangunan patung itu tidak terlepas dari konstruksi dan desain yang dibuat alakadarnya. Dimana beberapa tiang penyangga patung itu hanya berdiri di atas permukaan tanah di dasar Danau Sentani tempat patung itu didirikan.
“Anggaran pada waktu itu sekitar Rp 200 juta, sehingga disesuaikan  dengan anggaranya,” katanya.

Mengenai kondisi ini, pihaknya akan segera berkumpul dan rapat bersama masyarakat, pihak gereja dan juga pemerintah guna mengambil langkah selanjutnya.

Sementara itu, Kepala Distrik Sentani Budi Projonegoro Yoku berharap pihak gereja tidak membiarkan kondisi patung setengah ambruk itu berlangsung lama. Apabila ada bagian yang harus ditanggung pemerintah harap dikomunikasikan sesuai mekanisme yang berlaku.
“Ini harus cepat ambil langkah, jangan biarkan terlalu lama dalam kondisi seperti ini,” tandasnya.

Pantauan koran ini, kondisi patung itu hanya roboh sebagian dari keseluruhan bangunananya. Tepatnya bagian kaki belakang patung, sementara bangunan badan patung itu masih utuhnya dalam posisi miring.

Besar kemungkinan, patung itu tidak bertahan lama dalam kondisi seperti itu, apalagi kontur tanah dasar danau labil.

Kejadian inipun mengundang perhatian kalangan masyarakat. Jumlah kunjungan meningkat dari biasanya. Kedatangan mereka hanya untuk memastikan kebenaran peristiwa itu hingga mengabadikanya.
“Kami berharap pemerintah segera turun tangan, sangat tidak elok kalau dibiarkan dalam kondisi seperti ini hanya dijadikan bahan tontonan,” ungkap Clarisa salah seorang warga. (roy/nat)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: