Beranda UTAMA PAPUA Pecandu Lem Bisa Alami Gangguan Jiwa Berat

Pecandu Lem Bisa Alami Gangguan Jiwa Berat

0
Dr. Manoe Bernd Paul. SpKJ. MKes (FOTO : istimewa)

JAYAPURA-Anak-anak yang menjadi korban kecanduan menghisap lem, bensin atau zat sejenisnya, bisa mengalami gangguan kejiwaan yang berat. 

Psikiater Fungsional Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura, Dr. Manoe Bernd Paul, SpKJ., M.Kes., mengatakan, zat yang terkandung dalam lem yang dihisap, dapat merusak keseimbangan neurokimia (molekul organik yang terlibat dalam aktivitas sistem syaraf) di otak yang mengganggu fungsinya secara keseluruhan. 

“Anak-anak yang sering menghisap lem dan bensin atau sejenisnya, cepat atau lambat akan mengalami gangguan jiwa berat,” ungkapnya saat dihubungi Cenderawasih Pos via ponselnya, Senin (1/7). 

Dikatakan, anak-anak yang kecanduan menghisap lem pada umumnya kurang mendapat perhatian sehingga mereka cenderung melakukan apa yang mereka inginkan dan biasanya lebih banyak meniru dari teman-temannya.

“Penggunaan satu atau dua kali, dapat dipastikan menjadi ketergantungan dan mengganggu keseimbangan neurokimia. Apalagi kalau sudah kecanduan, tentu akan berdampak ganguan jiwa berat,” tegasnya. 

Gejala dari kecanduan lem menurutnya mengakibatkan korban berhalusinasi, cendrung agresif, bertingkah aneh dan keinginannya harus dipenuhi. 

“Apabila anak-anak ini, tidak berada dalam pengawasan/pengasuhan dari orang tua, maka mereka akan tumbuh dengan apa adanya,” ucapnya. 

Selain pengawasan, perhatian dan pembinaan, menurut Manoe, kebutuhan dasar anak-anak yaitu makan, minum dan tempat tinggal harus bisa dipenuhi. 

“Jika ketiga kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka mereka akan melakukan sesuatu yang membuat mereka nyaman. Misalnya candu zat yang akan membuat mereka nyaman dan puas meski hanya sebatas halusinasi saja,” tuturnya.

Ditambahkan, ada dua jenis ganguan jiwa pada manusia yaitu ganguan jiwa yang dibawa dari lahir dan akibat aktivitas atau perilaku selama masa pertumbuhan. Misalnya pada anak-anak yang kecanduan lem, bensin atau sejenisnya.

RSJ Abepura diakuinya mengalami kesulitan untuk menangani anak-anak jalanan atau yang kecanduan zat. Sebab tidak ada penagungjawab baik itu orang tua, saudara atau yang lainnya.

“Kami tidak bisa turun langsung lapangan untuk mengambil tindakan/merawat karena kami kesulitan menemukan penaggungjawab anak-anak ini,” pungkasnya. (kim/nat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here