Pedagang Mitan Ilegal Mulai Ditertibkan

By

WAMENA-Dinas Tenaga Kerja Perindustriaan dan Perdagangan (Disnakerindag) Kabupaten Jayawijaya mulai melakukan penertiban terhadap  pedagang/agen minyak tanah ilegal atau tidak memiliki izin. Penertiban diawali dengan melakukan survei secara persuasif kepada agen -agen minyak tanah (Mitan) yang beroperasi di Jayayawijaya.

  Sebab, banyaknya penjual minyak tanah yang tidak berizin ini membuat minyak tanah langka di pasaran. Sementara stok minyakt anah juga terbatas.  Kepala Dinas Nakerindag Kabupaten Jayawijaya Dr Lukas Kosay mengakui bahwa penertiban agen minyak tanah memang harus dilakukan dalam waktu dekat.

   Sementara ini pihaknya sudah turun secara persuasif dahulu per orang, untuk mendata masing-masing titik pangkalan yang sudah diterbitkan izin dan sudah ditetapkan sebagai pangkalan.  “Saat ini permohonan baru banyak yang diajukan pada kita, namun belum bisa berikan rekomendasi untuk buka pangkalan baru. jadi saat ini kita sementara lagi ambil data secara persuasif.” ungkapnya, Selasa (23/3) kemarin.

   Menurut Lukas Kosay, setelah semua data terkumpul, baru nanti Disnakerindag akan melakukan evaluasi lalu. Termasuk apabila perlu kuota tambahan, pihaknya akan  ajukan ke pertamina.  “Saat ini memang minyak tanah sangat langka, kuota terbatas, permintaan cukup tinggi, tetapi kita berusaha bagaimana supaya bisa meminimalisir untuk bisa dapat semua masyarakat,”jelasnya.

  Ia menyatakan untuk permohonan baru yang diajukan masyarakat belum bisa diproses izin baru setelah  nanti setelah dievaluasi dahulu untuk 2020, nanti 2021 setelah evaluasi seluruh agen minyak tanah yang sudah punya izin dulu dibangun di Wamena Kota, maupun distrik luar Kota Wamena,

  “Ini kita lakukan dahulu, setelah pengecekan data dan sesuaikan dengan kuota yang ada baru kita bisa melangkah untuk proses rekomendasi baru atau pangkalan baru bisa atau tidak karena kalau banyak yang jual tanpa ijin akibatnya minyak tanah akan semakin langkah,” bebernya.

   Ia menambahkan dengan kondiri minyak tanah yang terbatas dan  permintaanya yang tinggi serta banyaknya penjual minyak tanah ilegal ini, membuat jatah yang dimasukkan ke tiap titik itu paling tinggi tiga drum. Rata-rata dua-tiga drum sehingga yang masuk tidak mencukupi.

  “Kita hitung tiap tahun itu terbatas sekali. Sebulan saja 6-10 drum yang masuk dan itu tidak bisa memenuhi semua, setiap bulan masuk apalagi ditambah dengan masyarakat yang membeli lalu dijual kembali pastinya warga yang lain tidak bisa mendapatkan mitan,” tutup Lukas Kosay. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: