Pejabat Negara Dilarang Bepergian ke Luar Negeri

By

Omicron 1,3 Kali Lebih Cepat Dari Delta 

JAKARTA, Jawa Pos-Para ahli virologi dunia terus memantau dan mempelajari perkembangan kemampuan varian B.1.1.529. Terbaru, hasil riset spesimen Omicron di Afrika Selatan dan Israel menunjukkan bahwa varian ini 1,3 kali lebih cepat menular dari varian Delta. 

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengungkapkan bahwa kecepatan transmisi yang lebih tinggi dari delta, saat ini angka reproduksi Omicron juga lebih besar dari Delta. Namun belum bisa dipastikan secara presisi berapa angka pastinya. ”Kabar baiknya vaksin, masker, jaga jarak, karantina, ventilasi dan sirkulasi udara masih tetap efektif,” jelas Dicky pada Jawa Pos kemarin (1/12).

Selain itu, Dicky menjelaskan bahwa orang yang belum di vaksinasi memiliki 2,4 kali resiko lebih tinggi mengalami keparahan. Saat ini Omicron juga diduga kuat bisa mengurangi efikasi vaksin dan antibodi pada penyintas. Tapi booster vaksin juga dinilai efektif ”Booster vaksin akan menurunkan risiko keparahan sampai 90 persen,” jelas Dicky.  

Kemudian Omicron juga berpotensi dapat mengurangi efektivitas pengobatan gejala. ”Sejauh ini umumnya relatif sama dengan varian Delta namun masih harus menunggu 3 minggu ke depan untuk perkembangan data,” jelas Dicky. 

Sejauh ini, semua pasien yang terinfeksi varian baru Covid-19 mayoritas bergejala ringan sampai sedang. ”Namun sekitar 5 persen akan perlu ICU/Ventilator. Faktor kecepatan penularan akan berpengaruh pada potensi beban faskes,” pungkas Dicky. 

Sementara itu, pemerintah kembali merilis aturan pengetatan. Kemarin, Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa pemerintah melarang Pejabat negara agar tidak bepergian ke luar negeri. Larangan terhadap pejabat negara tersebut berlaku kepada seluruh lapisan jabatan, terkecuali bagi yang melaksanakan tugas penting negara. 

Masyarakat umum juga dilarang bepergian. “Bagi masyarakat umum sifatnya masih himbauan. Jadi WNI dihimbau agar tidak melakukan perjalanan ke luar negeri dulu, hal ini untuk mencegah dan menjaga terus terkendalinya pandemi di negara ini ,” jelasnya. 

Pemerintah, sebut Luhut, saat ini juga akan menyiapkan booster vaksin ketiga yang ditujukan untuk para lansia dan kelompok rentan. “Pemberian booster akan segera dijadwalkan dan mulai dilaksanakan pada periode Januari tahun depan,” jelasnya. 

Kemudian derdasarkan arahan Presiden, luhut menyebut masa karantina bagi WNA dan WNI pelaku perjalanan dari negara-negara di luar 11 negara yg dilarang masuk kemarin, ditambah menjadi 10 hari dari sebelumnya 7 hari. Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan semakin banyaknya negara yang mendeteksi variant omicron. Perpanjangan masa karantina ini akan berlaku sejak 3 Desember.

“Tentunya kebijakan yang diambil ini akan terus dievaluasi secara berkala sambil kita terus memahami dan mendalami informasi tentang varian baru ini” pungkas Luhut

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mengatakan masyarakat diharapkan tetap tetap mengedepankan kedisiplinan dan kewaspadaan dalam menghadapi varian anyar ini. Meski belum terdeteksi di Indonesia, kehadiran varian omicron perlu menjadi perhatian. ”Terlebih, di Indonesia kita akan segera memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru ,” katanya. 

Johnny memastikan, pemerintah juga telah bergerak cepat mengantisipasi masuknya varian baru ini ke tanah air. Antara lain dengan menerapkan pengetatan perbatasan dan kedatangan dari luar negeri. Selain itu peningkatan pemeriksaan whole genome sequencing yang berperan dalam deteksi dini potensi varian baru. Pengawasan dan evaluasi berkala juga akan dilakukan terhadap negara-negara yang dibatasi masuk ke Indonesia. 

Johnny menambahkan, sejauh ini jumlah kasus masih terkendali. Meski di 21 kabupaten/kota mulai mengalami penambahan kasus di atas 10 kasus perminggu. Kondisi ini harus direspons dengan penguatan penerapan protokol kesehatan. 

Dia mengatakan upaya peningkatan kewaspadaan Indonesia juga dilakukan melalui percepatan vaksinasi. Upaya percepatan ini dilakukan dengan dukungan TNI/Polri dan stakeholder lain. 

Pada kesempatan lain, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan orang yang sudah divaksin Covid-19 ketika terserang varian omicron maka tidak parah. ”Untuk itu masyarakat tidak perlu pilih-pilih vaksin,” katanya. Dalam penelitian, varian ini memang menurunkan efikasi vaksin. Tapi bukan berarti kebal terhadap vaksin. 

Nadia menegaskan bahwa pemberian vaksin yang merata dapat membentuk kekebalan komunal. Ini perlu untuk melawan varian-varian Covid-19 yang muncul.(tau/lyn/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: