Pembawa Logo Mercy Itu Berpulang

By

Suasana duka di rumah almarhum Budi Baldus Waromi di  Argapura, Jayapura pada Jumat (5/8). Sosok almarhum merupakan politisi senior di Papua dan sosok yang membawa Partai Demokrat ke Papua.  (FOTO:Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Setelah Kamis (4/8) siang kemarin terjatuh di tengah kegiatan rapat koordinasi antar paguyuban dan ormas di Hotel Mercure, sosok Budi Baldus Waromi akhirnya berpulang. Almarhum sempat dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tak tertolong. Pria kelahiran Serui  7 Mei 1947 ini menghembuskan nafas terakhirnya sore itu juga. 

Untuk kalangan para politikus senior di Papua, nama Budi bukanlah orang baru. Pria inilah yang membawa Partai Demokrat masuk ke Papua dan eksis hingga sekarang. Budi Baldus Waromi adalah ketua pertama dari partai berlambang mercy tersebut. 

Sosok yang tenang, mahir dalam perpolitikan bahkan pernah menjadi anggota DPR RI utusan daerah. Di tengah hiruk pikuk daerah otonomi baru hingga dinamika naik turunnya dunia politik, Budi nampaknya lebih memilih untuk menepi hingga akhirnya dipanggil Sang Pencipta. 

Tak sedikit yang merasa kehilangan, salah satunya Wakil Ketua III DPR Papua, Yulianus Rumboirussy yang sore kemarin (5/8) sempat  mendatangi rumah duka.

 Rumah almarhum berada tak jauh dari poros jalan utama di Argapura. Rumahnya juga sangat sederhana bahkan tidak seperti rumah anggota DPR RI yang pernah duduk di Senayan. Atap parkirnya juga hanya terbuat dari beberapa lembar seng dengan kayu balok yang  hampir roboh. Plavon rumahnya juga mulai banyak yang terlepas dari pakunya akibat lapuk maupun termakan usia. Meski demikian dari rumah inilah satu partai besar itu lahir dan dirawat hingga kini.

 “Almarhum merupakan salah satu  sosok orang tua yang kami kagumi karena keteguhan dan konsistensinya dibidang poltik dan secara  pribadi saya  mengagumi beliau. Beliau bukan saja jadi orang tua yang biasa saja dimana kalau pakai istilah sekarang ini tra kosong (tidak kosong) beliau berisi (punya kemampuan),” ujar Yulianus Rumboirussy. 

Politisi PAN ini menyebut bahwa jika berdebat secara logika politik dan secara aturan, almarhum Budi Waromi juga menguasai. “Kami menghormati beliau. Ia bagian dari orang Saireri yang punya kapasitas dan kami banyak belajar,” imbuhnya. 

 Dikatakan, dulu almarhum menggunakan bendera PDI namun seiring waktu ia diberi mandat untuk mengurus Partai Demokrat ke Papua dan dengan segala ketulusan partai ini bisa terus eksis. “Saya tahu persis karena saya juga anggota DPR saat itu dan Demokrat ada kursi di DPR dan ketuanya adalah Budi Baldus Waromi.   Jadi kami merasa kehilangan sosok ini,” imbuhnya. 

Disini Rumboirussy juga menangkap pesan bahwa diakhir perjalanan sang politisi, terlihat Budi seperti menjalani  semuanya sendiri. Sepi dari hiruk pikuk politik. “Saya melihat di tengah keluarga ia bisa  menjadi orang tua bagi semua dan latar belakangnya juga dari gereja sehingga komplit kemampuannya dan kami merasakan kehilangan yang sangat berarti,” ujar Rumboirussy.

Catatan lain disampaikan Pdt Petrus E.Imoliana yang merupakan sahabat almarhum. Kata Pdt Petrus,  almarhum merupakan seorang tokoh politik  yang berangkat dari PDI. Almarhum dikenal cerdas, santun, rendah hati dan berbudaya. “Beliau sangat bersahaja dan bersahabat dengan siapa pun entah kawan maupun lawan politik. Saya ingat, almarhum pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Papua bahkan DPR-RI dari Partai Demokrasi Indonesia. Ia seangkatan almarhum Ben Vincent Djearu maupun Anthonius Rahail dan lainnya,” beber Petrus. 

Ketika itu, PDI masih dipimpin oleh Soerjadi  namun setelah peristiwa Kudatuli lahirlah PDI Perjuangan di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri dan ketika itu PDI terpecah menjadi dua, yakni PDI Soerjadi dan PDIP Megawati. 

Setelah PDI Soerjadi bubar, almarhum Budi Baldus Waromi bergabung dalam Partai Demokrat yang didirikan oleh Jenderal TNI Sosesilo Bambang Yudhoyono (SBY) kemudian mendirikan Partai Demokrat Provinsi Papua dan eksis dalam kancah perpolitikan Papua bahkan menjadi partai penguasa di Papua hingga kini.

 “Mohon maaf jika saya keliru atau salah, tetapi itu sedikit catatan tentang rekam jejak almarhum pak Budi Baldus Waromi yang saya kenal semasa saya masih kuliah di STFT-GKI I.S Kijne Abepura. Yang saya ingat almarhum sangat dermawan dan banyak membantu mahasiswa waktu itu,” kenang Pdt Petrus. 

Ia mengenang ketika itu Irian Jaya, belum Papua seperti hari ini. Kehidupan begitu berat dan sulit, tetapi almarhum selalu memberi solusi.

 Lalu ketika timbul konstalasi politik yang cukup memanas antar 3 parpol penguasa waktu itu, yakni Golkar,  PDI dan PPP,  almarhum ikut kena imbas karena dianggap menghadirkan partai Demokrat yang ketika itu dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Tetapi almarhum tak bergeming dan berdiri teguh. “Yang jelas banyak yang berduka dari kepergian beliau,” tutup Pdt Petrus. 

Sementara sang keponakan, Shany Waromi terlihat tak kuat menahan isak tangis.  Ia Nampak berdiri di samping peti jenazah sesekali menyeka air matanya. 

Kata Shany sosok bapa tua (Budi Baldus Waromi) memiliki kasih sayang yang sangat luar biasa. Ia senang berbagi  dan apa yang ia punya, ia akan bagi. 

Budi dikatakan tidak berpikir soal usianya meski sudah lanjut tapi jika mendapat rejeki ia selalu membagikan kepada yang lain. “Tutur katanya lembut, bicaranya pelan dan tidak pernah menghardik dengan kata – kata yang kasar.  Saya yakin  sulit mencari orang yang pernah disakiti almarhum,” katanya.

 Shany sendiri mendengar kabar ini  dari sang adik yang menelepon dari Sentani. “Saya mendengar katanya jatuh kemudian saya berpikir jatuhnya bagaimana apakah saat bawa mobil atau seperti apa,” tambahnya. 

Almarhum tinggal bersama tiga anaknya namun untuk seluruh anak angkatnya mencapai 12 orang. “Kami yakin banyak yang kehilangan dan kami yakin tidak ada yang kecewa dengan bapak,” tutup Shany. 

Rencananya almarhum Budi Baldus Waromi akan dimakamkan, Sabtu (6/8) hari ini di pekuburan umum Tanah Hitam. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: