Pemerintah Lambat Naikkan Tarif,  Sopir Angkot Ancam Mogok

By

Aktivitas mobil angkutan umum jalur J1, J2 yang parkir di terminal tipe B Waena Batas Kota, Kamis (8/9).(FOTO:Noel/CepoS)

JAYAPURA – Pemerintah dinilai lambat memberikan kepastian penetapan atau penyesuaian tariff angkutan menyusul kenaikan harga BBM bersubsidi pada Sabtu (3/9). Menyikapi hal ini, para sopir angkot mengancam akan melakukan aksi mogok pada Senin (12/9) mendatang. 

  Menurut Bahar, salah satu sopir  taksi di Terminal Tipe B Waena, pihaknya merasakan dampak langsung kenaikan BBM ini. “Banyak masyarakat malah bayar Rp. 5000 ada yang Rp. 6000 tapi kadang kami saling koordinasi,  jadi kalo sampai pasar biasa kami sampaikan ke masyarakat naik di harga karena BBM naik menjadi Rp 8000, ada yang mengerti ada yang tidak,” katanya di terminal tipe B waena Batas Kota, Kamis (8/9).

   Dikatakan, Wilayah Papua saja yang belum dinaikan harga tarif  padahal di daerah lain sudah naik. “Kami biasa bayar Rp 120.000  untuk 12 liter, Kalau jalan dari terminal Waena ke pasar sudah habis dua liter belum kalau macet kami harus keluarkan 3 – 4 liter, baru bayaran juga hanya Rp. 5000,” katanya.

   Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Besar Sopir (IKBS) Abe Waena Laode Yasis  di Waena, mengatakan Kamis kemarin pihaknya telah komit untuk melakukan aksi mogok, tapi karena ada penyampaian dari Organda maka pihaknya tunggu sampai hari senin.

  “Kamis ini (kemarin), kami akan mogok,  karena ada perintah Pak Ketua DPD Organda harus tunggu maka di tunggu sampai hari Senin,” katanya.

  Ia mengakui para sopir sudah tidak sabar maka mereka akan mogok,  karena pihaknya sempat didatangi para sopir. “Saya tanyakan ke Dinas (Perhubungan) Kota,  mereka juga tunggu tapi kita bingung yang ditunggu ini siapa? Jadi pejabat saja bilang tunggu apa lagi kami rakyat kecil,” katanya.

  Pihaknya  meminta pemerintah harus kerja baik, dengan secepatnya mengambil keputusan soal penyesuaian tariff angkutan ini. Sebab, semakin lambat mengambil keputusan, para sopir angkot ini yang terkena dampaknya. 

  “Bahkan tarif  dulu naik Rp. 6000 itu banyak yang tidak menyadari bayar lima ribu, padahal harus bayar Rp. 6000 sejak naik, tambah lagi BBM naik Rp 10.000/liter, kami setengah mati, dan orang dari DPD Organda minta agar dipending dulu  (aksi mogok), menunggu sampai minggu ini, tapi saya juga tidak bisa tahan mereka (Sopir), karena mereka yang akan mogok,” katanya.

  “Saya dapat undangan hari Selasa baru dilakukan rapat, bayangi hari selasa, padahal sudah jalan satu minggu BBM Naik, mereka baru mau rapat ini pemerintah berpikir apa tidak? kerugian kami selama satu minggu ini,” tandasnya. (oel/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: