Pemuda Bersatu Jaga Papua dan Indonesia Tanah Damai

By
Ketua  DPD KNPI Provinsi Papua Alberto G. Wanimbo, S.IP, Ketua Karateker KNPI Keerom, Piter Gusbager, Bupati Keerom, Muh. Markum, SH., MH., MM.,  dan ratuasan siswa SD, SMP, SMA/SMK, aparat TNI-Polri, juga masyarakat saat membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 2.091 meter pada puncak perayaan hari Sumpah Pemuda ke-91 di lapangan Swakarsa Kabupaten Keerom, Senin, (28/10). ( FOTO : Noel/Cepos)

KEEROM-Ketua  DPD KNPI Provinsi Papua Alberto G. Wanimbo, SIP mengatakan dari ujung Timur Indonesia, orang muda Papua bersama segenap komponen anak bangsa lainnya sehati-sepikir, dan setindak menyerukan Papua dan Indonesia  adalah tanah damai.

Hal ini disampaikan Albert Wanimbo dalam kegiatan pembentangan bendara Merah Putih sepanjang 2.091 meter di tanah Papua yang dilaksanakan dalam rangka memperingati hari Sumpa Pemuda, Senin (28/10). 

Dikatakan, sesuai dengan  sila pertama Panxasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa maka Tuhan telah menakdirkan dan atas kehendak-NYA kita hidup bersama di dalam rumah besar  Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kemanusiaan yang adil dan beradab
Manusia Indonesia dari Merauke sampai Sabang. Dari Miangas sampai Pulau Rote adalah manusia beradab, berbudaya, berperikemanusiaan dan memiliki kasih,” kata AGW pada puncak perayaan hari Sumpah Pemuda yang ke – 91 yang berlangsung di lapangan Swakarsa Kabupaten Keerom, Senin, (28/10).

Kata Alberto, tragedi Wamena, Nduga, Deiyai dan Kota Jayapura harus menjadi koreksi dan refleksi semua untuk berbenah. Atas segala kesalahan dan kekeliruan selama ini karena rasis dan hoax telah memghancurkan orang Papua.

“Kita semua telah menjadi korban dari perilaku rasis, diskriminatif dan berita HOAX.
Hentikan rasisme dan diskriminasi!
Hentikan menyebarkan berita HOAX.
Hentikan kekerasan atas nama negara terhadap sesama anak bangsa!

“Stop bilang ko pendatang, sa asli.
Stop bilang, ko gunung, sa pante. Orang Papua harus dilihat karena dia memiliki hati Papua,” kata Albertho.

Kata dia apa artinya ko Papua, tapi ko tidak punya hati untuk Papua di Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Malang, Medan, Aceh, Manado dan Makassar. 

Menurutnya tidak ada istilah “ko pendatang, sa asli”, tapi masing-masing pihak sadar diri dan tahu siapa dirinya.

“Persatuan Indonesia dimana jiwa dan raga kita dipersatukan. Karena ikatan sejarah yang telah berlangsung berabad-abad lamanya.
Tuhan tidak bisa dipaksa dengan
kepentingan pragmatis oleh pihak-pihak tertentu. Apalagi hingga harus mengorbankan nyawa orang lain demi sebuah perjuangan.
Di hadapan Tuhan semua nyawa berharga, dan tidak ada pengecualian,” tegasnya. 

Dikatakan, tragedi Wamena yang memilukan hati semua pihak, bukan konflik agama. Karena itu, Albertho menolak secara tegas gerakan HTI dan kelompok radikal yg secara masif masih bergerak di tanah Papua walaupun sudah dibubarkan pemerintah.

“Di tanah Papua, tidak akan ada dan tidak pernah ada konflik agama. Karena orang Papua sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan keyakinan. Papua tanah damai karena kita semua cinta kedamaian,” tandasnya.

“Siapapun dia yang hidup di atas tanah Papua harus memiliki sikap hidup damai. Jika tidak, maka dia tidak pantas disebut sebagai Orang Papua,” sambungnya.

Pria yang memiliki akronim nama AGW ini menyebutkan, sila keempat Pancasila yang berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan Dalam permusyawaratan perwakilan
rakyat” bisa berdaulat, maka negara akan kuat.
Negara kuat menurutnya karena ada generasi Indonesia yang hebat. “Mengedepankan dialog yang inklusif untuk menghadirkan solusi permanen dan tuntas atas permasalahan Papua selama ini. Tanah Papua harus memasuki suatu era baru dimana tidak ada lagi darah yang tertumpah di atas tanah yang telah Tuhan berkati 164 tahun silam. Era dimana kita semua anak bangsa hidup rukun dan damai menuju Indonesia unggul dan menyambut hari kedatangan Tuhan,” ujar Albertho.

Ia menambahkan, harus ada Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. “Kekayaan alam Indonesia di tanah Papua, di bidang kehutanan, pertambangan, perikanan dan lain-lain harus diberi ruang kelola kepada masyarakat adat di tanah Papua. Sehingga dapat terdistribusi untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia di tanah Papua. Damai Indonesia kita karena kebutuhan tercukupi, keadilan merata, dan  kesejahteraan tercapai. Bersama Pemerintah, TNI-Polri dan seluruh elemen anak Bangsa, akan mengawal dan membantu Pemulihan Papua untuk mewujudkan kembali Papua Tanah Damai,” pungkasnya.

Sementara itu Bupati Keerom, Muh Markum, SH., MH., MM., mengatakan bahwa pada momentum hari Sumpah Pemuda yang ke-91 tahun ini sejak dulu dari Jong Sumatera sampai dengan Jong Ambon bahkan Papua telah menyatukan pemuda dalam Sumpah Pemuda.

“Harapan kami, pemuda bersatu mendeklarasikan diri bersatu dari Kabupaten Keerom. Sebagai daerah tapal batas sampai dengan Sumatera, pemuda satu menjaga kedamaian dari Papua untuk Indonesia,” katanya.

“Dari wilayah perbatasan kami harapkan persolan Papua harus berakhir dan kami mentang rasisme dan radikalisme. Mari kira rajuk kebersaman dalam kebhinekaan,” sambungnya.

Di tempat yang sama Ketua Karateker KNPI Keerom, Piter Gusbager mengatakan kegiatan pembentangan bendera Merah Putih terpanjang ini, merupakan bagian dari gerakan rekonsiliasi dan perdamaian. Dimana pemuda Papua akan bergerak ke wilayah lain dan akan berdiri paling depan melakukan perdamaian sehingga Papua jangan ada korban lagi.

“Kami mulai dari wilayah perbatasan maka kami berterima kasih Pemda Papua, DPD KNPI Papua, KNPI Keerom , TNI-Polri, dan semua elemen. Saya minta pemuda harus berpikir dan bertindak positif. Hindari pikiran curiga dan saling mencurigai tapi bagaimana pemuda bersatu dan membangun tanah Papua untuk generasi kita selanjutnya,” tutupnya. (oel/nat)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: