Pengibaran BK Dinilai Tidak Penuhi Unsur Makar

By

Direktur Perkumpulan Advokat Hak Asasi Manusia (PAHAM) Papua, Gustaf Kawer, SH., M.Si (foto: Yewen/Cepos)

JAYAPURA- Direktur Perkumpulan Advokat Hak Asasi Manusia (PAHAM) Papua, Gustaf Kawer, SH, M.Si menilai,aksi pengibaran bendera Bintang Kejora (BK) yang dilakukan secara damai oleh beberapa kelompok mahasiswa di GOR Cenderawasih, Kota Jayapura, Rabu (1/12), tidak memenuhi unsur makar.

Oleh karena itu, menurut advokat yang sehari-hari membela kasus-kasus HAM di Papua ini bahwa makar yang sesungguhnya adalah menyerang dengan senjata tajam untuk menurunkan kepala negara atau merebut sebagian dari wilayah. Hal ini yang harus dipahami oleh aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian untuk menangani kasus semacam pengibaran BK.

“Saya kira aparat penegak hukum harus membaca Pasal 106 dan 110 KUHP tetang Makar yang sering dikenakan buat aktivis di Papua. Karena yang dilakukan oleh aktivis ini bagian dari kebebasan berekspresi dan berpendapat yang sudah diatur dalam Deklarasi PBB tentang HAM, UUD 1945 Pasal 28 tentang Kebebasan Berekspresi dan UU HAM, sehingga tidak termasuk dalam makar,” jelasnya kepada Cenderawasih Pos, Rabu (1/12).

Kata Gustaf, tidak boleh ada tindakan represif terhadap para aktivis di Papua yang sedang menyampaikan pendapat dan kebebasan ekspresif, seperti yang telah dilakukan secara damai dengan mengibarkan BK. 

“Tidak boleh ada yang ditangkap secara represif jika ada yang mengibarkan bendera seperti yang telah dilakukan oleh aktivis Papua ini,” katanya.

Jika mereka berbicara dengan cara yang damai, maka dalam hukum ketatanegaraan merupakan bagian dari kebebasan menyampaikan pendapat atau kebebasan berekspresi. Tidak termasuk dalam makar.

Gustaf meminta kepada negara dalam hal ini presiden dan pemerintah serta pihak-pihak terkait lainnya untuk membuka ruang dialog dengan difasilitasi oleh pihak ketiga yang netral untuk melihat kembali persoalan masa lalu yang hingga kini masih menjadi persoalan hingga saat ini.

“Perlu membuka ruang dialog dengan menghadirkan pihak ketiga yang netral untuk mengungkapkan akar masalah yang terjadi. Dengan begitu masalah Papua akan dapat diselesaikan. Kalau tidak maka persoalan ini tidak akan pernah habis dan selesai,”ucapnya.

Jangan jadikan aparat keamanan sebagai pemadam kebakaran yang hanya melihat akibat dari kebakaran, tanpa melihat sebab. “Kita jangan lihat akibatnya, tetapi mari kita lihat sebabnya,”tutupnya. (bet/tho)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: