Pernah Tangani 40 Ekor, Si Badra Buta Namun Paling Lucu

By

Melihat Cat Shelter and Rescue Jayapura, Rumah Singgah Kucing Terlantar dan yang Diterlantarkan 

Tak banyak yang tahu jika di Jayapura ada satu shelter tempat penampungan kucing – kucing terlantar. Ada puluhan kucing berbagai kondisi yang  dirawat dan kebanyakan didapat di jalan. Apa saja ceritanya.

Laporan : Abdel Gamel Naser 

Jika berkeliling ke berbagai tempat di Kota Jayapura terkadang banyak terlihat kucing – kucing  liar yang mengisi emperan bangunan, pasar, maupun tempat sampah. Sejatinya kucing – kucing ini dulunya ada pemilik, hanya saja karena enggan dirawat akhirnya dilepas dan dibuang begitu saja. Padahal  dalam agama Islam hewan ini menjadi kesayangan Nabi Muhammad SAW yang harusnya dirawat dan dijaga. Mudahnya jika tak suka dengan kucing seharusnya dari awal tidak memelihara dan jika sudah berani memelihara seharusnya mau bertanggungjawab. 

 Berbicara soal kucing, di Jayapura sendiri ada shelter atau tempat penampungan. Hanya ini khusus bagi kucing – kucing yang terlantar dan tidak terawat serta tanpa pemilik. Cenderawasih Pos berhasil mewawancarai pengelolanya, Chindy Cycla Raintung. Wanita berkulit terang ini menceritakan bahwa awal mula berdirinya cat shelter and rescue ini dikarenakan ia sejak awal sudah menyukai dengan kucing. Setelah  memelihara beberapa jenis ras, teman – temannya dalam komunitas Cat Lovers Jayapura kemudian menyarankan untuk dibuatkan shelter atau penampungan yang khusus bagi kucing  terbuang dan teraniaya.

 “Berdirinya pada 25 Mei tahun 2020 karena sejak awal saya memang suka pada  kucing  dan ada beberapa kucing ras yang dipelihara  hingga berbagai masukan dan akhirnya kepikiran untuk membuat satu shelter yang berisi kucing kucing jalanan,” kata Chindy, Ahad (12/9).  Wanita yang akrab disapa Chen ini menjelaskan bahwa saat ini ada 23 ekor kucing yang ia tangani, itupun karena ada beberapa yang pernah mati. Seentara jumlah terbanyak yang pernah masuk dalam shelter sekitar 40 ekor. Hanya saja lanjut Chen ketika itu ada beberapa anak kucing yang terserang  virus kemudian mati dan jumlahnya kini tak lebih dari 30 ekor. 

 Untuk mendapatkan kucing – kucing ini kata Chen lebih banyak diperoleh dari jalan – jalan. Ia juga kini membatasi masuknya kucing khususnya bagi kucing yang ada pemiliknya. Chen menceritakan bahwa dulunya ia menerima kucing yang dititipi oleh pemiliknya namun lama  kelamaan kucing tersebut tidak dikunjungi dan tidak diperhatikan lagi kemudian dilupakan begitu saja. Karena itulah ia memilih untuk merawat kucing yang benar – benar terlantar di jalan – jalan, bukan lagi titipan. “Awalnya biasa beralasan mau berangkat kemudian  menitip kepada kami dan sekali dua kali berdonasi tapi setelah itu hilang entah kemana. Makanya saat ini kami buat aturan jika ada pemiliknya maka kami tidak akan terima kucing tersebut,” singgung Chen.

 Secara tidak langsung ia ingin mengajarkan kepada pemiliknya untuk ikut bertanggungjawab terhadap hewan peliharaan dan jika memang tak mau memelihara seharusnya sejak awal tidak memelihara. Jangan juga membuang begitu saja karena itu bentuk lain dari penyiksaan. Sementara untuk mendapatkan kucing terlantar diakui kadang ada cerita menarik. Biasanya ia dan  teman – temannya harus menguber – uber karena namanya kucing liar pasti tidak mau didekati dan memilih berlari karena ketakutan. “Jadi kadang harus nyungsep – nyungsep  sampai ke bawah mobil karena kucingnya terlalu liar. Setelah itu kucing tadi  dimandikan dan diberi makan kemudian  di treatment agar kondisinya bisa lebih normal. Kebanyakan kami menemukan ditempat sampah, diisi di dalam karton,” jelasnya.

Chen yang juga tergabung dalam komunitas Cat Lovers Jayapura ini menyampaikan bahwa untuk memelihara puluhan ekor kucing ini memang tidak mudah apalagi  tak ada donator tetap. Iapun menjalankan pekerjaan ini karena peduli dan menganggap kucing adalah hewan lucu yang harus diperlakukan dengan baik. “Kalau untuk operasionalnya dulu itu masih ada orang yang membantu sekali dua kali. Begitu juga dengan orang yang menitipkan kucingnya masih suka mengirimkan makanannya, tapi lama kelamaan menghilang dan kami tangani sendiri,” imbuhnya. Chen akhirnya mempekerjakan satu orang untuk menangani shelter tersebut dan merawat semua kucing – kucingnya. 

 Untuk biaya operasionalnya sendiri setiap bulan ia harus merogoh kocek sekitar Rp 3,5 juta untuk membeli pakan dan biaya pengobata jika ada yang sakit. “Kalau saya sendiri yang merawat jelas tidak bisa sehingga saya mempekerjakan satu orang khusus untuk menangani kucing – kucing ini mulai dari makan, penanganan  sakit atau dibawa ke dokter. Ini biasa ditangani karyawan dan  untuk dokter hewannya kami biasa membuat janji dan jadwal tertentu lebih dulu,” imbuhnya. 

 Selama menangani kucing liar Chen bersyukur hingga kini ia dan karyawannya tidak pernah mengeluh soal terjangkit penyakit dari hewan yang dirawat, kalaupun ada biasa hanya jamur namun bisa diobati. “Kalau kucingnya sakit biasa saya arahkan ke dokter hewan atau klinik kesehatan hewan. Bisa juga dokter datang langsung ke tempat kami dan untuk pembiayaan saat ini 90 persen semua pembiayaan masih dengan pembiayaan pribadi dan ada bantuan catshop tom – tom untuk drop makanan dan pasir sedangkan donatur tetap hingga kini belum ada,” sambung Chen. Lalu dari puluhan ekor ini  Chen mengaku ada satu kucing yang dianggap lucu. Lucu karena kucing tersebut  tak bisa melihat alias buta.

  “Ia kucing yang tak bisa melihat itu namanya Badra, dia yang paling lucu karena tidak bisa melihat,” sambungnya. Sementara untuk cerita menariknya selain dari proses hunting untuk menemukan kucing liar, Chen menambahkan bahwa menceritakan pernah ada anak kucing yang dibuang dengan usia yang masih harus menyusui. Namun kebetulan di dalam shelter ada kucing yang baru saja melahirkan sehingga anak kucing tadi dinumpangkan menyusui pada induk kucing yang baru melahirkan. “Kemarin ada anak kucing yang tak memiliki indukan dan kebetulan ada kucing yang baru beranak dan menyusui sehingga kami menumpang menyusui. Jadi fungsi betinanya itu khusus  menjadi donator susu buat anak – anak kucing lainnya sehingga saling membantu,” pungkasnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: