Beranda NASIONAL Pilih Kosongkan Kandang

Pilih Kosongkan Kandang

0
Bagi Ayam - Sebagai aksi protes, peternak ayam yang tergabung dalam Pinsar bagi-bagi ribuan ayam gratis kepada masyarakat di beberapa titik Kota Solo, Rabu (26/6). (Arief Budiman/Radar Solo)
Bagi Ayam – Sebagai aksi protes, peternak ayam yang tergabung dalam Pinsar bagi-bagi ribuan ayam gratis kepada masyarakat di beberapa titik Kota Solo, Rabu (26/6). (Arief Budiman/Radar Solo)

*Ayam di Peternak Rp 7 Ribu, di Pasar Rp 22 Ribu 

KEDIRI KABUPATEN-Gejolak harga ayam broiler benar-benar memusingkan Hadi Suparno. Peternak yang punya kandang di dekat rumahnya, di Desa Bogokidul, Kecamatan Plemahan ini akhirnya membuat keputusan pahit. Mengosongkan kandang sepanjang sekitar 50 meter. 

“Ndak berani ngisi (ayam) dulu. Harganya jatuh,” keluh lelaki yang merintis bisnis ternak ayam sejak 1996 itu.

Keluhan Hadi wajar. Harga daging ayam yang dikenal dengan istilah ayam sayur itu sedang jatuh-jatuhnya. Para peternak hanya bisa menjual seharga Rp 7 ribu per kilogram. Bahkan, mereka sempat merasakan harga Rp 6 ribu per kilogramnya! Namun, ada pula yang mengaku masih bisa menjual hingga Rp 10 ribu per kilogram.

Tentu saja harga serendah itu tak nyucuk bagi para peternak. Harga jual itu sangat jauh bila dibandingkan biaya perawatan yang harus dikeluarkan. Menurut Hadi, paling tidak harga ayam sayur seharusnya Rp 16 ribu per kilogram. Itupun, dengan harga tersebut, peternak masih belum untung. Hanya cukup untuk mengimpaskan antara biaya produksi dengan harga jual. Istilahnya hanya bisa di break event point (BEP).

Padahal, kondisi pasar saat ini jauh dari itu. Mereka hanya bisa menjual di kisaran Rp 7 ribu per kilogramnya. Dengan kondisi terkini itu peternak pun harus menanggung kerugian hingga 50 persen!

Akhirnya, mengosongkan kandang jadi pilihan sebagian peternak. Dari pantauan Jawa Pos Radar Kediri, beberapa kandang yang didatangi memang terlihat kosong. Tak ada ayam seekor pun.

Bagi Hadi, keputusan mengosongkan kandang itu dia lakukan sejak sebelum Lebaran. Awalnya, memang bukan karena gejolak harga. Melainkan ayam-ayam peliharaannya yang terkena penyakit. Dia kemudian sengaja mengosongkan kandang terlebih dahulu untuk perawatan.

Dalam perkembangan, ternyata ceritanya lain. Ketika hendak mengisi lagi kondisi pasar sedang terpuruk. Harga jual ayam anjlok tajam. Hadi pun mengurungkan niat untuk mengisi kandang. Padahal, biasanya dia memelihara sekitar 8 ribuan ekor ayam broiler.“Saya menunggu dahulu saja. Nanti kalau harganya sudah stabil, baru aktif lagi,” aku Hadi.

Seperti halnya peternak lain, Hadi berharap agar fenomena ini segera berakhir. Pemerintah bisa segera mencari solusi. Sehingga peternak kecil seperti dirinya dapat kembali aktif berusaha lagi. “Kalau seperti ini terus, peternak kecil yang susah,” keluhnya.

Yang menarik, kondisi harga di pasaran agak berbeda. Meskipun mengalami tren penurunan sejak sebelum Lebaran, harga di pedagang masih di kisaran Rp 22 ribu. Seperti yang terpantau di Pasar Setonobetek kemarin.

Menyikapi hal itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri pun langsung bereaksi. Mereka mengadakan monitoring di beberapa kandang. Baik kandang yang dimiliki peternak kemitraan maupun mandiri yang ada di Kabupaten Kediri.

Berdasarkan hasil monitoring tersebut, pihak DKPP pun mengamini tren kosongnya kandang milik peternak. Seperti kemarin, DKPP mendatangi empat kandang. Yaitu di Kecamatan Gurah, Kunjang, dan Plemahan. Dan semua kandang yang didatangi dalam keadaan kosong. Namun, beberapa kandang di wilayah selatan Kabupaten Kediri dikabarkan masih bertahan. 

Kandang-kandang yang kosong itu semuanya milik peternak mandiri. “Untuk peternak kemitraan tidak begitu bergejolak atau bermasalah. Pasalnya harga jual sudah ditentukan,” kata Kepala DKPP Tutik Purwaningsih kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di kandang ayam di Desa Bogokidul, Plemahan, kemarin siang.

Dari Tutik diperoleh informasi bahwa harga di peternak kemitraan masih stabil. Di kelompok peternak itu, harganya masih di kisaran Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu per kilogram. 

Dan, masih menurut Tutik, di Kabupaten Kediri mayoritas peternak ayam broiler menggunakan sistem kemitraan. Perbandingan dengan peternak mandiri juga jauh. Dari dari DKPP, peternak yang melakukan kemitraan mencapai 80 persen. (tar/fud/JPG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here