PON XX Momentum Pemulihan Ekonomi Sektor NonTambang

By

JAYAPURA- Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua Naek Tigor Sinaga  mengatakan, Pekan Olahraga Nasional (PON) XX  merupakan momentum pemulihan ekonomi sektor non tambang. Hal ini dikatakan Naek Tigor Sinaga dalam kegiatan kegiatan Bincang-Bincang Media (BBM) edisi September 2021,  sebagai bentuk upaya peningkatan pemahaman publik,  khususnya terkait kebijakan terkini Bank Indonesia dan perkembangan ekonomi di Provinsi Papua, Senin (6/9).

 Naek menjelaskan, perekonomian Indonesia sendiri pada triwulan Il 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 7,07 persen (yoy). Pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa perekonomian Indonesia sudah kembali ke level yang sama pada sebelum pandemi,  setelah pada 4 triwulan terakhir mencatatkan kontraksi.

 “Pemulihan masih terus akan berlanjut seiring dengan belum optimalnya pertumbuhan pada sektor industri pengolahan, konstruksi, transportasi dan pergudangan, akomodasi makan minum, jasa perusahaan dan jasa lainnya,’’imbuhnya.

  Di tengah tumbuhnya perekonomian nasional, tingkat inflasi nasional sampai saat ini masih terjaga dan diproyeksikan akan berada pada rentang target inflasi sebesar 3±1 % pada akhir tahun. Tingkat inflasi nasional Agustus 2021 berada pada angka 1,59% (yoy), dan seluruh wilayah di Indonesia mengalami inflasi yang masih terkendali. Kondisi tersebut tidak lepas dari upaya pemerintah pusat, pemerintah daerah dan juga Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi, khususnya komponen volatile foods dan juga admninistered prices ditengah pembatasan mobilitas.

 Melihat hal tersebut, Bank Indonesia hingga bulan Agustus 2021 tetap mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (B17DRR) sebesar 3,50 0/0. Hal ini sebagai respon di tengah kondisi inflasi yang masih rendah dan pertumbuhan ekonomi yang juga masih terbatas. Upaya lain yang dilakukan Bank Indonesia yaitu melalui Quantitative Easing dan pembelian SBN di pasar perdana. Melalui program quantitative easing, hingga Agustus 2021 BI telah menambah Iikuiditas di perbankan hingga mencapai RPI 14,1 5 Triliun dan pada tahun 2020 sebesar Rp726,57 Triliun. Sedangkan pembelian SBN di pasar perdana dilakukan guna mendukung pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi nasional (PEN). Bank Indonesia juga merasa terpanggil untuk berkontribusi langsung dalam meringankan beban pemerintah dalam menghadapi pandemi ini dengan melakukan kerjasama dalam bentuk SKB III.

 Provinsi Papua pada Triwulan Il 2021 mencatatkan pertumbuhan perekonomian positif walaupun melambat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya akibat adanya penurunan kadar tembaga pada tambang bawah tanah. 

 Pertumbuhan ekonomi non-tambang Papua sudah kembali positif walaupun masih dibawah pertumbuhan normalnya. Namun demikian, masih terdapat beberapa sektor yang masih mengalami pertumbuhan negatif seperti pada sektor industri pengolahan, informasi komunikasi, dan jasa pendidikan. Serta beberapa sektor yang belum pulih meskipun mencatatkan pertumbuhan positif, seperti sektor transportasi dan pergudangan, akomodasi makan minum, jasa perusahaan, dan jasa Iainnya. 

 Dari Sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Papua masih didominasi oleh Konsumsi Rumah Tangga yang memiliki porsi hingga 5 1 % terhadap total perekonomian Papua. Melihat hal tersebut, maka pemulihan konsumsi rumah tangga menjadi salah satu kunci utama pemulihan perekonomian Papua.

 Tingkat inflasi Papua pada Agustus 2021 berada pada level terendah sepanjang 3 tahun terakhir, yaitu pada angka -0,21 % (yoy). Namun demikian, perlu dilakukan upaya antisipasi pada tahun 2022, khususnya akibat adanya tahun dasar yang rendah dan juga pemulihan permintaan masyarakat. Apabila dibedah lebih dalam, deflasi dikontribusikan oleh andil 2 kelompok besar, yaitu transportasi serta makanan, minuman dan tembakau. Mengingat harga dari komoditas tersebut dapat berubah dengan cepat, monitoring dengan intensif tetap perlu dilakukan.

 Penyelenggaraan PON XX di Papua yang akan diselenggarakan pada 2-1 5 Oktober 2021 dinilai dapat menjadi momentum untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi Papua, khususnya sektor non-tambang. Secara keseluruhan, kegiatan PON diperkirakan akan membawa peningkatan PDRB sebesar Rp 1 .281,35 M atau 0,7-1,1%, yang dikontribusikan oleh sektor konstruksi, perdagangan, transportasi, akomodasi & makan minum, informasi komunikasi, dan jasa Iainnya. 

 Di tengah pandemi yang masih berlangsung, pelaksanaan PON XX diperkenankan untuk melibatkan penonton secara terbatas dengan syarat telah melaksanakan vaksinasi. Hal ini tentunya memberikan peluang dalam mendorong tambahan pendapatan, utamanya bagi sektor akomodasi makan minum, perdagangan, dan transportasi. Diperkirakan jika dapat mendatangkan penonton 10 ribu penonton domestik, maka potensi pendapatan yang dapat diterima mencapai Rp7,03 M dan tambahan Rp32,58 M untuk kedatangan 10 ribu penonton dari luar Papua.

 Namun demikian, PON XX dapat membawa beberapa risiko salah satunya adalah risiko inflasi. PON XX yang diperkirakan melibatkan 20-25 ribu peserta tentunya berdampak terhadap peningkatan kebutuhan konsumsi di Papua. Merespon hal tersebut, PB PON telah melakukan antisipasi dengan mendatangkan kebutuhan pangan bagi atlet, official dan panitia pelaksana akan didatangkan dari luar Papua,  sehingga tidak mengganggu pasokan konsumsi intra Papua. 

 Selain itu, TPID juga telah menetapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga kestabilan harga sepanjang pelaksanaan PON XX. Pelaksanaan PON XX tentunya diharapkan dapat membawa dampak jangka panjang yang positif bagi perekonomian Papua. Potensi wisata dan produk lokal Papua diharapkan dapat lebih dikenal oleh masyarakat, serta pembangunan infrastruktur dapat menjadi pemicu pembangunan ekonomi di Papua ke depan. Namun demikian, besarnya biaya pemeliharaan venue per tahun menjadi tantangan tersendiri, sehingga  perlu disusun roadmap pengembangan pariwisata atau sektor ekonomi daerah lainnya dengan mengakomodir penggunaan infrastruktur PON XX 2021 .(dil/ary)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: