Portabel, Dilengkapi Baterai, Jadi Mudah Dibawa Bepergian

By

Dokter Agus Ujianto dan Inovasi Masker Pereda Sesak Napas

Masker Candradimuka menembakkan cairan obat dengan gelombang ultrasonik dan uap yang dihasilkan, lalu dihirup masuk ke paru-paru. Kata Agus Ujianto, karyanya itu bermanfaat bagi pasien Covid-19 bergejala ringan sampai sedang dan yang menjalani recovery.

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta, Jawa Pos

AGUS Ujianto tergugah ketika menyaksikan pasien membeludak di rumah sakit yang dipimpinnya. Direktur Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara, Jawa Tengah, itu pun berinovasi membuat alat terapi pernapasan.

”Ketika itu, pada Juli, pasien di RSI Banjarnegara, Jawa Tengah, dan semua rumah sakit di Jawa-Bali sedang tinggi-tingginya,” kenang Agus yang juga menjabat ketua IDI Banjarnegara kepada Jawa Pos.

Lahirlah masker Candradimuka. Agus memanfaatkan masker 3M yang biasa dipakai tukang cat atau tenaga laboratorium. ’’Saya tegaskan masker ini bukan untuk mengobati pasien Covid-19,’’ katanya.

Masker Candradimuka merupakan masker untuk terapi pelega pernapasan. Masker itu cocok untuk membantu pasien Covid-19 karena sering mengalami kondisi sesak napas.

Dokter kelahiran Banyumas, 4 Agustus 1975, itu menyatakan bahwa terapi inhalasi atau pernapasan sejatinya sudah lama dijalankan di rumah sakit. Namun, selama ini terapi inhalasi menggunakan cukup banyak peralatan dan tidak bisa dibawa ke mana-mana.

Sementara, masker Candradimuka bersifat portabel. Sudah dilengkapi baterai untuk aliran listriknya. Jadi, masker itu dengan mudah bisa dibawa jalan-jalan atau bepergian oleh pasien atau orang yang perlu menjalani terapi pernapasan.

’’Masker ini juga bisa untuk relaksasi dan terapi nebulizer untuk melegakan saluran pernapasan yang menyempit,’’ jelasnya.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (FK Unissula) Semarang itu menyebutkan, saat ini di rumah sakit tempatnya bekerja sudah ada empat unit masker Candradimuka. Sistem kerja masker tersebut adalah menembakkan cairan obat dengan gelombang ultrasonik. Cairan obat itu lantas berubah menjadi uap.’’Nah, uap ini yang kemudian dihirup, lalu masuk ke paru-paru sampai ke alveoli,’’ ujarnya.

Cairan obat yang ditembak dengan gelombang ultrasonik itu bisa beragam. Sesuai dengan kebutuhan terapi pernapasan. Misalnya, cairan minyak eukaliptus atau minyak kayu putih.

Memang terapi menghirup minyak kayu putih bisa dilakukan secara langsung dengan menuangkannya ke air panas. Namun, cara tersebut kurang efektif untuk bisa menembus sampai ke bagian alveoli paru-paru. Sebab, partikel dari uap air panas itu masih lebih besar jika dibandingkan dengan hasil tembakan ultrasonik tadi. ’’Dengan uap air biasa, berat molekul masih besar. Tidak bisa ke alveoli,’’ jelasnya.

Sementara, partikel uap maskernya berukuran sekitar 5 mikron sehingga sangat mudah diisap saluran pernapasan. Agus menjelaskan, setelah masuk ke alveoli, uap yang dihasilkan maskernya langsung mengatasi pembekuan di dalamnya. Selain itu, dahak-dahak yang sudah menjadi plak atau kerak bisa dengan mudah dikeluarkan. Napas pun lebih lancar.

Dia menegaskan, meski bersifat portabel, penggunaan masker tersebut tetap berada dalam pengawasan dokter. Apalagi jika yang digunakan adalah cairan obat-obatan tertentu.

Agus menceritakan, masker inovasinya itu sempat dicoba pasien Covid-19 di RSI Banjarnegara. ’’Ini bermanfaat bagi pasien (Covid-19) bergejala ringan sampai sedang. Juga untuk pasien yang masuk recovery,’’ ungkapnya.

Agus menuturkan, masker yang diciptakannya cukup mudah dipakai dan telah dilengkapi tombol atau saklar on/off. Baterai yang ditanam di dalamnya kuat bertahan sampai dua jam. Jika tenaga baterai habis, tinggal diisi ulang seperti HP. Kemudian, filter masker bisa dicuci. Lalu, maskernya cukup dilap supaya tetap bersih.

Pada masa pandemi Covid-19 ini, Agus tidak hanya berinovasi membuat masker Candradimuka. Dia juga menginisiatori layanan telemedisin bersama koleganya di IDI Banjarnegara. Ada 120 di antara 210 anggota IDI Banjarnegara yang terlibat dalam layanan telemedisin.

Agus bersama koleganya yang lain akhirnya membentuk Perhimpunan Kedokteran Digital Terintegrasi Indonesia (Predigti). Pertengahan Agustus lalu, Predigti diresmikan dan Agus menjadi ketuanya.

’’Predigti menjadi wadah dokter-dokter yang melakukan telemedisin serta menjalankan misi perlindungan dan advokasi hak-hak dokter telemedisin,’’ jelasnya.

Jumlah masker Candradimuka sendiri masih mencapai empat unit dan hanya digunakan di RSI Banjarnegara. Selain bisa dimanfaatkan untuk terapi melegakan saluran pernapasan, Agus berharap alatnya itu dapat dipakai untuk menangkal virus di saluran pernapasan bagian atas.

Mengenai penggunaan nama Candradimuka, tidak ada alasan khusus. ’’Selama ini kami sering memakai nama-nama di dunia pewayangan,’’ tutur dokter yang hobi menulis itu. (*/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: