Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Patuh Antrean

By

Soto Triwindu, Solo, Langganan Dua Presiden dan Keluarganya (43)

Mangkuk besar atau kecil? Nasi campur atau pisah? Atau, butuh lauk tambahan? Pilih sendiri. Mau gorengan atau jeroan? Keleluasaan semacam itu menjadi nilai plus Soto Triwindu. Warung soto dengan menu utama daging sapi tersebut menjadi jujukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan keluarganya jika sedang pulang ke Solo.

RETNO DYAH AGUSTINA, Solo

TERLETAK di jantung kota Solo, Soto Triwindu mudah dijangkau dari mana saja. Meski warungnya agak nylempit, ada plang cukup besar yang menjadi petunjuk dan terlihat dari jalan raya. Lokasi Soto Triwindu memang agak masuk ke gang.

Sebelum punya warung, Mbah Karyo –pencipta Soto Triwindu– menjajakan soto keliling kampung. Ketika itu soto buatan Mbah Karyo belum disebut Soto Triwindu. Pada 1939, orang-orang mengenalnya sebagai soto daging. Tidak berbeda dengan para penjual soto pada era itu, Mbah Karyo memikul dagangannya. Sebuah kuali besar berisi kuah soto menjadi daya tarik utama pikulan tersebut.

Mbah Karyo sempat berjualan di dekat Keraton Mangkunegaran. Dia mangkal di sana. Namun, beberapa waktu kemudian, Mbah Karyo dipindahkan ke area Pasar Triwindu Ngarsopuro. ’’Namanya jadi Soto Triwindu karena terkenalnya di sana,’’ ungkap Sri Suwati, cucu menantu Mbah Karyo, ketika ditemui Jawa Pos di warungnya pada Desember lalu.

Di area Pasar Triwindu pun, sebenarnya lokasi warung sempat berpindah-pindah. Namun, karena kadung dikenal publik, nama Soto Triwindu dipertahankan. Di bawah nama warung, ada foto perempuan sepuh dalam balutan kebaya dan rambut digelung. Nama yang tertulis di sana adalah Hj Yoso Sumarto.

’’Itu nama ibu mertua saya. Justru generasi kedua,’’ kata perempuan yang akrab disapa Wati tersebut. Hj Yoso adalah putri Mbah Karyo. Dialah yang meneruskan usaha kuliner Soto Triwindu. Resep dan teknik memasak tetap menggunakan pakem yang diterapkan Mbah Karyo. Yakni, dengan tungku dan arang. Sepeninggal Mbah Karyo dan Hj Yoso, Soto Triwindu dimasak di meja khusus dengan bahan bakar arang.

Saat dikelola Hj Yoso, Soto Triwindu menempati warung di kawasan Teuku Umar. Lokasi itulah yang dipertahankan sampai sekarang. Di warung ini pun, kuali sotonya masih ada di dalam pikulan. Wati sengaja menempatkan pikulan yang dulu menjadi saksi perjuangan Mbah Karyo, penggagas Soto Triwindu, di warungnya. ’’Sebagai pengingat sejarah saja,’’ ujar perempuan berhijab tersebut.

Dalam setiap porsinya, Soto Triwindu menghadirkan potongan daging sapi, taoge, dan irisan seledri. Biasanya, Soto Triwindu disajikan lengkap bersama nasi di dalamnya. ’’Tapi, mau nasinya dipisah juga bisa. Ada yang tanpa nasi, maunya dengan gorengan juga banyak,’’ ungkap Wati.

Dia menuturkan, pelanggan juga bisa memesan setengah porsi soto. Pesanan setengah ini hadir dalam mangkuk kecil.

Dengan semangkuk soto di tangan, pelanggan bisa lebih tenang mencermati etalase kaca yang menyatu dengan meja. Ada dua bagian, jeroan dan gorengan. Empal, lidah, paru, iso, limpa, babat, otak, dan kikil di salah satu sisi. Tempe, tahu, lentho, perkedel, bakwan, dan sosis Solo pada sisi yang lain.

Ternyata pelanggan Soto Triwindu tidak hanya mengincar sotonya, tetapi juga lauk tambahannya. ’’Pak Akbar Tanjung itu suka banget lentho. Nah, Pak Wiranto sukanya paru, tapi gosong,’’ terang Wati. Dua nama yang dia sebutkan itu pernah menjabat menteri. Di kalangan pejabat pemerintahan, Soto Triwindu memang cukup dikenal.

Jokowi adalah salah seorang pejabat yang menjadi pelanggan lama Soto Triwindu. Sebagai wong Solo, presiden 60 tahun itu tidak hanya sekali–dua kali ngiras di Soto Triwindu. Wati menyatakan bahwa Jokowi dan Iriana menjadi pelanggan sejak putra-putri mereka masih kecil. ’’Apalagi pas Bapak jadi wali kota itu. Habis sidak Pasar Triwindu, pasti ke sini,’’ jelas perempuan kelahiran Solo tersebut.

Setiap singgah ke Soto Triwindu, Jokowi pasti membawa rombongan. Terdiri atas minimal 20 orang. Karena itu, setiap Jokowi mampir, warung langsung penuh. Setelah menjabat presiden, Jokowi jarang makan soto langsung di tempat. ’’Dua kali sempat ke sini. Ya begitu, dikawal Paspampres ketat sekali,’’ kata Wati.

Sejak dulu sampai sekarang, menurut dia, Jokowi dan Iriana punya karakter yang tidak berubah. Yakni, patuh antrean. Jika memang ada pelanggan yang lebih dulu datang, mereka tidak mau didahulukan. Keduanya tetap antre sampai giliran mereka tiba.

’’Ibu biasanya datang sama teman lamanya. Mungkin reuni begitu, ya. Tapi, tetap maunya antre saja. Kalau disajikan duluan, pasti menolak,’’ ungkap Wati. Jika kebetulan antrean sedang panjang, Iriana biasanya meminta disiapkan segelas jeruk hangat. Dia akan menunggu antrean sambil menikmati minumannya.

Selain Jokowi dan keluarganya, Wati mengungkapkan bahwa Soto Triwindu menjadi kegemaran keluarga Cendana. Kendati tidak pernah makan langsung di warung, Presiden Ke-2 RI Soeharto sering membungkus soto untuk dibawa pulang. ’’Biasanya, Mbak Tutut (putri pertama Presiden Soeharto, Red) dan Mas Tommy (putra kelima Presiden Soeharto) sendiri yang datang ke sini. Sudah bawa panci buat dibawa ke Dalem Kalitan,’’ kenang Wati.

Bagaimana bisa soto daging yang kuahnya bening seperti itu membius para pemimpin dan pejabat negara? Kuncinya terletak pada cita rasa kuahnya. Ada rasa rempah yang kuat di sana. Pedas merica, aroma khas daun salam, dan sensasi segar daun jeruk berpadu sempurna dalam gurihnya kaldu sapi yang menjadi komposisi utama kuah soto. Daging yang empuk juga menambah lezat sajian hangat dalam mangkuk tersebut.

Pelanggan bisa menambahkan sambal atau air perasan jeruk nipis ke dalam mangkuk sesuai dengan selera. Tidak heran jika Jokowi, keluarga almarhum Presiden Soeharto, dan para pejabat pemerintahan yang lain ketagihan Soto Triwindu.

Sebagai generasi ketiga yang mengelola Soto Triwindu, Wati mengakui bahwa ada banyak pihak yang mengajaknya bekerja sama. Yaitu, membuka cabang di tempat lain. ’’Tapi, kami sekeluarga maunya di sini saja,’’ tegasnya.

Suami Wati dan delapan saudaranya juga sepakat menjadikan Soto Triwindu sebagai kekayaan kuliner lokal Solo. ’’Jadi, kalau memang mau coba Soto Triwindu, ya datang ke Solo. Biar Solonya makin ramai deh,’’ terang Wati, lantas terkekeh.

Meski tidak ingin melebarkan sayap bisnis Soto Triwindu, Wati dan saudara-saudaranya tetap berharap bisa mengembangkan kuliner warisan keluarga itu. Namun, pengembangannya tetap dilakukan di warung di Jalan Teuku Umar tersebut. ’’Apalagi, sudah ada rencana untuk memperbagus Pasar Triwindu. Semoga kami juga makin berkembang karena banyak wisatawan ke sini,’’ tuturnya. (*/c14/hep/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: