Proses Hukum Pidana Lebih Dominan Dibanding Rehabilitasi

By

Dua warga yang diamankan karena kedapatan membawa ganja yang masih hijau di Pasar Potikelek belum lama ini. (FOTO: Denny/Cepos )

Mencermati Penanganan Para Pelaku Penyalahgunaan Narkoba di Wamena 

Peredaran dan penyalahgunaan Narkoba di wilayah pengunungan tengah Papua, khususnya di Kabupaten Jayawijaya dan sekitarnya, nampaknya tidak boleh dianggap remeh. Sebab, belakangan kasus Narkoba ini cenderung meningkat, mulai dari penyalahgunaan Narkoba jenis ganja, sabu dan narkoba jenis lainnya. Lantas seperti apa penanganan bagi para pelaku yang tertangkap?

Laporan: Denny Tonjauw-Wamena.

Upaya penanggulangan Narkotika di Jayawijaya sudah dilakukan kepolisian sejak lama. Hanya saja, penindakan terhadap pelaku penyalahgunaan narkoba yang tertangkap selama ini lebih kepada  penindakan atau proses hukum dibandingkan rehabilitasi. Hal ini tidak lepas karena tidak adanya sarana dan prasaran rehabilitasi.

   Padahal pengungkapan kasus narkoba dengan berbagai monus penyelundupan ini masih terus terjadi di Jayawijaya. Mulai dari modus pengiriman barang melalui ekspedisi, pengiriman Ekspres lewat bandara sampai dengan adanya temuan ladang ganja pernah didapatkan polisi. Ini baru yang terungkap, diyakni kasus narkoba ini seperti piramida, terlihat kecil di atas, namun di bawah banyak yang belum terungkap.

    Dari pengungkapan kasus narkoba ini, rata-rata pelaku ini pengedar tapi  juga pemakai Narkoba. Namun tidak satupun yang mendapat rehabilitasi dan hanya dilakukan penindakan secara hukum. Akhirnya, inti masalah tidak terpecahkan, bisa saja di tahanan maupun saat keluar masih terjerumus narkoba.

   Selama ini yang bisa melakukan asesment rehabilitasi itu berada di Badan Nasional Narkotika (BNN) Provinsi Papua. Dimana selain melakukan penindakan, BNN juga  bisa melakukan rehablitasi. Namun sayangnya, BNN tidak banyak berdiri di wilayah Kabupaten/Kota di Papua dan hanya berada di beberapa kabupaten saja.  Di wilayah pengunungan tidak ada sama sekali.

   “Kita lihat di Wilayah Jayawijaya dari sabu yang masuk menggunakan ekspedisi pengiriman barang, sampai adanya ladang ganja sudah kita temukan, artinya jaringan narkotika ini sudah ada namun penindakannya kita masih mengedepankan proses hukum,”ungkap Kapolres Jayawijaya AKBP. Muh Safei, A.B, SE

   Muh Safei, yang pernah bertugas di BNN Provinsi Papua, mengaku di Papua ini belum ada tempat rehabilitasi khusus pecandu Narkoba. Jika ada  anak-anak yang kecanduan narkoba, maka untuk dilakukan asesment rehabilitasi, harus dirujuk ke luar  Papua. “Disini butuh biaya lagi,”ungkap Muh Safei.

  Menyikapi masalah penanggulangan Narkotika di Jayawijaya ini maka dari pemerintah daerah untuk membangun sinergitas antara TNI/ Polri,  maka perlu ada BNNK di Wamena. Sebab kalau tidak, maka pemerintah bisa mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi setiap kali ada orang yang kecanduan narkoba untuk dirujuk rehabilitasi keluar daerah.

   Selain itu, pemerintah juga harus memberikan sosialisasi kepada masyarakat di Jayawijaya terhadap tanaman ganja ini. Sebab, sebagian besar masyarakat di Jayawijaya lebih sering bercocok tanam maka perlu untuk mensosialisasikan tanaman ganja ini agar masyarakat tahu jika tumbuhan itu merupakan narkotika yang dilarang oleh pemerintah.

  “Kalau masyarakat tidak tahu dan terus membudidayakan tanaman ini,  maka akan semakin sulit untuk dilakukan penanggulangan,”beber Kapolres. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: