PSK Hingga Pelaku Kriminal Dikerjakan Jadi Barista

By

Perjuangan Pdt Naomi Selan Menangani Komunitas Anak Jantung Kota, Berjuang Hidup Benar Lewat Kopi 

Terkadang sebuah perubahan itu tak datang dengan sendirinya tetapi lewat perantara. Melalui orang yang memiliki komitmen dan tekad untuk kalimat perubahan. Pdt Naomi Selan salah satunya. Menangani 100 lebih anak – anak jantung kota dengan berbagai karakter. 

Laporan : Abdel Gamel Naser 

Acara penyerahan bantuan enam gerobak kopi kepada Komunitas Anak Jantung Kota pada 7 Juli lalu menjadi moment munculnya cerita semangat, motivasi dan inpirasi yang disampaikan oleh salah satu gembala atau hamba Tuhan, Pdt Naomi Selan. Ibu  dua anak ini memilih terjun menangani hampir 200 anak jalanan yang tergabung dalam Komunitas Anak Jantung Kota tanpa dibayar. Pdt Naomi menyukai menyebut anak – anak asuhnya ini dengan sebutan tersebut, anak jantung kota guna menghindari stigma negative terhadap mereka yang kesehariannya hidup di jalanan. 

 Dari testimoninya pada acara tersebutlah Cenderawasih Pos kemudian mengatur jadwal untuk ngobrol terpisah dan berhasil menyambangi kediamannya di Skyline. Hanya dengan sekali ketok pintu, Pdt Naomi langsung membuka dan menyapa dengan ramah. Iapun menceritakan soal awalnya ia menangani anak – anak jantung kota yang semua dilatarbelakangi karena panggilan hati melihat banyak anak – anak remaja yang sebenarnya memiliki masa depan namun karena lingkungan dan pergaulan akhirnya terjerumus ke hal-hal negative. 

Sejak tahun 2005 Pdt Naomi mengopeni anak – anak ini hingga sekarang. Berawal dari lokasi di samping jembatan Overtome hingga menempati taman Kali Anafre, eks Ampera Jayapura. Tercatat hingga kini ia sudah menangani hampir 200 anak – anak dari berbagai latar belakang. Diakui ini tidak mudah dan harus tahan banting mengingat ada 200 karakter yang berbeda dengan catatan kurang menyenangkan akibat pergaulan dan lingkungan. “Ini tempat yang distigma merah, buruk, dan paling-paling negative di Kota Jayapura. Tempat dimana orang melakukan 1001 macam kgiatan dan dicap gelap,” beber Naomi saat itu.

 Meski tak mudah, ia memutuskan tak mundur mengingat  ada firman Tuhan yang menyebut terang harus berada ada ditempat yang paling gelap sekalipun.  Pendapatnya, lilin walau kecil tapi jika  ditempatkan di tempat gelap maka ia akan tetap menyinari. “Ini tahun ke 16 dan ada ribuan kisah saya bersama anak – anak ini hinga ada yang sudah kembali ke rumah, ada yang akhirnya ingin membangun yayasan untuk anak – anak tak beruntung hingga melanjutkan studi. Sebuat perjuangan yang betul – betul butuh keikhlasan,” kata Naomi. 

 Ia menyebut satu persatu kebiasaan maupun latar belakang beberapa anak asuhnya mulai dari pengedar ganja, suka mengkonsumsi alcohol,  menghisap aibon hingga pekerja seks komersial juga ada. Dan usai paling kecil yang ditangani mulai dari bayi hingga orang tua.  Dari semuanya yang melatarbelakangi anak – anak remaja ini lebih banyak hidup dijalan adalah karena persoalan dalam keluarga atau broken home. Namun ada juga anak yatim piatu sejak kecil maupun anak – anak yang bergabung karena ingin merasakan tinggal di jantung kota. Naomi menjelaskan bahwa angka 200 anak ini juga tentative atau tidak tetap mengingat setiap kapal putih masuk dipastikan ada saja anak – anak remaja dari kabupaten yang kemudian bergabung. 

 Selama menangani komunitas anak jantung kota, Naomi  tidak sekedar mencarikan makan tetapi juga memberi pelayanan rohani. Anak – anak jantung kota ini dikatakan lebih mendengar ketika diberikan siraman rohani. “Mereka mendengar dan tidak membantah jika saya memimpin ibadah. Anak – anak ini lebih tertib ketika saat ibadah,” tambahnya. Hiruk pikuk dalam menjadi  orang tua asuh juga tak sedikit. Terkadang ia harus menemui situasi yang tak mengenakkan. Ketika menemui anak – anaknya yang dalam keadaan mabuk kemudian berbuat onar. 

 Tak jarang kata Naomi ia melihat pisau, piring dan garpu terbang di depan wajahnya. Itu jika ada yang mabuk kemudian berulah dan berbuat onar. Terkena makian, hujatan juga sudah sering, meski demikian Naomi tetap mantap mendampingi. “Berurusan dengan kasus – kasus criminal juga sering, anak – anak ini kan tidak punya pekerjaan tetap. Kadang jadi juru parkir, kadang menjadi pelaku pencurian, perkelahian hingga akhirnya berurusan dengan pihak berwajib. Bahkan ada beberapa yang sudah keluar masuk penjara. Tidak laki, tidak perempuan,” bebernya. 

 Perjuangan menangani anak-anak jantung kota juga bukan tanpa derai air mata. Beberapa anak asuhnya disebut sudah ada yang berpulang, meninggal karena sakit. Bahkan ada yang tidak ditengok oleh keluarganya  setelah meninggal. Itupun ia masih harus menangani. “Ia saya ingat ketika itu ada yang berstatus PSK dan saat meninggal ia tak dijenguk keluarganya biar satu, hingga kami coba menghubungi masjid raya kemudian dibantu paguyuban iapun dikuburkan dengan baik – baik. Tapi hampir setiap tahun saya harus kehilangan dan semua karena sakit,” tambahnya. 

Namun Naomi merasakan adanya perubahan dari sifat dan karakter anak – anak asuhnya ini. Perlahan – lahan menjadi lebih baik. Ia mencontohkan remaja yang bernama Irsul dan adiknya termasuk sosok yang cukup berat untuk dirubah. Selalu berbuat onar dan membuat masalah  tapi sekarang ia justru menjadi leader bagi teman temannya.  Perubahan terus muncul, ada juga anak asuhnya yang kemudian bekerja  sebagai teknis listrik disebuah kantor,  ada juga yang menjadi Satpol PPtermasuk yang ditemui di kolong jembatan dan setiap harinya mabuk namun sekarang justru menjadi penghotbah di jalan. 

 “Ia bahkan memiliki cita – cita membangun bikin yayasan untuk anak anak jalanan. Banyak hal yang saya juga belajar dari mereka mulai dari loyalitas, kesetiakawanan hingga kekeluargaan. Saya pikir saya diantar Tuhan dengan pelayanan unik dan banyak cerita gila. Satu positifnya adalah saya sudah tidak takut dengan orang mabuk dengan kondisi apapun. Ha..ha..,” ujarnya berseloroh. Namun Naomi tidak bekerja sendiri, ia dibantu rekannya, Joice, Maria Marentek dan sang anak, Echa. Hingga akhirnya ia dipertemukan dengan  program pertumbuhan ekonomi hijau yang  menawarkan untuk melakukan pelatihan membuat kopi. 

 Ada 44 anak asuhnya yang ikut dalam pelatihan tersebut dan kini memiliki kemampuan meracik kopi. Ada Elis (23) yang sebelumnya suka mengkonsumsi miras namun kini menjadi peracik kopi. Daya tariknya adalah ia memiliki tangan penuh tato. Akan tetapi siapa sangka, Elis menjadi sosok yang  bisa menjadi leader bagi teman – temannya. Naomi sendiri tidak menyangka ia dan anak asuhnya harus menggeluti usaha sendiri yang menurutnya keren. “Ini usaha kecil yang memberi kebanggaan bagi kami karena meracik kopi asli Papa, ada nilai tersendiri. Elis dan teman – temannya yang dulu suka nongkrong tidak jelas, tidak kenal waktu sekarang lebih tenang dan bisa mendapatkan uang dengan cara yang  benar. Ada harapan baru bagi kami,” ucapnya. Naomi juga tak menyangka jika dengan  ternyata anak – anak jantung kota ini bisa enjoy bisnis kopi. “Elis sekarang  mulai berubah, sinar matanya juga berbeda. Memang merubah hidup itu tidak mudah tapi harus memulai. Saya sendiri mengikuti ritme mereka, saya tidak bilang berhenti miras tapi memberikan mereka pilihan yang baik seperti apa,” tambah Naomi.

 Naomi sendiri mengaku menyukai kopi, namun ketika itu masih kuliah. Dalam sehari ia bisa menghabiskan 4 sachet kopi namun karena sempat sakit akhirnya ia memutuskan berhenti. “Empat tahun   saya berhenti kopi sachet dan baru kembali meminum setelah mengenal kopi racikan sendiri dan  saya aman – aman saja,” ceritanya. 

 Ia menambahkan bahwa saat ini yang dibutuhkan anak – anak jantung kota adalah area yang memang menjadi milik komunitas. “Tanah kecil saja yang jadi centre rumah aman sebab seiring kemajuan kota semua masalah ada di Jayapura, mereka harus diperhatikan, dibina dan dipersiapkan untuk kembali ke keluarga. Dengan kopi bisa merangsang jiwa enterprenure mereka dan saya tiba dititik ini dan berharap mereka akan terus belajar tentang makna hidup dan menjadi orang yang lebih baik,” imbuhnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: