Pupusnya Masa Depan Anak OPM

By

Demianus Magai Yogi

LAPORAN KHUSUS (SESI 2)

** Liputan Kolaborasi Konflik di Papua **

Laporan: Elfira Halifa – Cenderawasih Pos 

PAPUA sejak tahun 1961 hingga saat ini, masih berlumur konflik. Berbagai operasi militer dilancarkan di tanah ini. Ribuan nyawa orang mati tertembak dalam kontak senjata antara aparat dan TPN-OPM atau versi lainnya KKB

Anak anak di daerah konflik bersenjata turut menjadi korban atas apa yang dilakukan oleh orang tua mereka. Bahkan, cita cita dari anak Milisi ini pupus sedari dini ketika negara turut ‘menyerang’ mereka. Padahal, anak anak ini tak tahu menahu dengan apa yang dilakukan orang tua mereka.

Untuk mengetahui seberapa trauma dan bagaimana perlakuan aparat terhadap anak anak dari kelompok Milisi ini, Cenderawasih Pos berkesempatan mewawancarai Demianus Magai Yogi, anak dari almarhum Tadius Yogi.

Mewawancara Demianus tidaklah mudah, perlu meyakinkannya terlebih dahulu dengan perantara Komnas HAM Papua. Membuat janji dengan mengirimkan pesan via sms pada 19 Nomvember 2021. Namun, Demianus baru merespon pesan via sms tersebut pada 25 November.

Mengirimkan foto saya sebagai upaya meyakinkan kepada Demianus bahwa saya seorang jurnalis, memperkenalkan diri, menyampaikan maksud dan tujuan menelfonnya. Dan, pemuda 28 tahun itu bersedia untuk diwawancara pada 25 November melalui via telfon. Saat itu, Demianus sedang berada di Pania baru saja pulang dari Markasnya.

Berkisah masa kesilnya, sejak duduk di bangku kelas 5 SD YPPK Badauwo, Distrik Paniai Timur. Hari harinya dikejar aparat. Dor, dor, dor. Suara tembakan pagi, siang dan malam kerap ia dengarkan saat usianya beranjak 5 tahun kala itu.

Bukan hanya suara tembakan dari pihak yang bertikai ia dengarkan setiap harinya, Demianus yang baru saja dilantik jadi Panglima Tertinggi TPN-PB OPM West Papua Sorong-Merauke juga menyaksikan, bagaimana kakak perempuannya ditembak aparat saat tali noken masih menempel di kepalanya.

“Sewaktu kecil, ada beberapa keluarga saya meninggal akibat ditembak aparat yang datang ke kampung saya di Paniai. Ada juga yang disiksa. Kami ini, manusia tapi diperlakukan seperti bukan manusia. Mati dan hidup kami bukan lagi di tangan Tuhan, melainkan di tangan aparat,” amarah suara Demianus terekam jelas di ponsel saat itu.

Menarik nafas, lalu Demianus melanjutkan pembicaraan. Sejak tahun 1980, penyiksaan terhadap keluarganya termasuk ayahnya. Inilah yang kemudian membuat cita cita Demianus menjadi Tentara Perdamaian pupus di bangku kelas 5 SD ketika aparat datang mencarinya di sekolah kala itu.

Demianus lahir dan dibesarkan di hutan Paniai sejak tahun 1994 silam. Ia kehilangan seorang ayah saat usianya beranjak 9 tahun, kendati dibesarkan di hutan dan berpindah pindah tempat lantaran dikejar. Namun ia mengutamakan pendidikannya. Sedang ibunya, setia mengantarnya ke sekolah kala itu meski tahu situasinya tak aman bagi mereka.

“Andai saat itu Tentara tidak mengejar saya, dan saya tetap bersekolah. Mungkin saya sudah berada di Amerika Serikat atau Rusia menjadi seorang Tentara Perdamaian atau pilot. Hanya saja, semua itu pupus seiring dengan pengejaran terhadap saya dan keluarga. Untuk apa saya melanjutkan sekolah jika aparat terus terusan mengejar keluarga kami, bahkan sampai mencari saya di sekolah hingga ibu saya ketakutan,” amarah Demianus semakin menjadi jadi mengingat apa yang dialaminya saat itu.

Demianus diusia anak anaknya mengingat betul bagaimana situasi yang mencekam saat itu, masa kecilnya yang merasa tidak aman di kampungnya sendiri (Paniai Timur). Karena terus dikejar,, lalu memutuskan tinggal di hutan hingga ibunya menghembuskan nafas terakhirnya di hutan pada tahun 2002.

Kata Demianus melanjutkan percakapan via telfon, sejak tahun 1980 hingga saat ini. Keluarga Demianus tinggal di hutan dan tidak pernah kembali ke kampung mereka di Paniai. Kalaupun kembali kata Demianus, bakal dikejar aparat.

“Kami tidak aman di kampung kami sendiri, hidup dalam kecemasan. Itulah kenapa masih tetap berada di Markas hingga saat ini, kalaupun kembali. Sudah pasti kami ditangkap atau bisa saja ditembak aparat,” ucapnya dengan nada pelang, sementara nafasnya terdengar jelas.

Sejak SD , Demianus  menyukai mata pelajaran Bahasa Ingris, tidak pernah terpintas di benaknya kala itu untuk mengangkat senjata seperti ayahnya yang sudah meninggal sejak tahun 2009 lalu akibat diracuni. Situasi dan keadaan yang membuatnya berubah, menyaksikan penembakan dan turut mengalami langsung ketika dikejar kejar.

Awal awal sekolah, Demianus mengaku tak satu orangpun yang tahu jika dia anaknya Tadius kecuali ibunya. Tak ada aparat yang menganggunya saat itu, sehingga ia bersekolah seperti anak anak pada umumnya. Namun, ketika aparat mulai mengetahui identitasnya di bangku kelas V SD. Sejak itu, ia dan ibunya terus dicari-cari. Ini menyebabkan dirinya trauma.

Tahun 2000, Demianus dari Paniai ke Dogiyai dengan niat untuk masuk TK. Sekaligus mengantarkan surat dari ayahnya Tadius kepada Uskup Leo Laba Ladjar. Isi surat yang tetuang dalam lembaran kertas putih yang ditulis Tadius untuk keuskupan saat itu adalah, meminta aparat menghentikan pengejaran terhadap anak dan isterinya.

“Niat mengantar surat dari ayah untuk Keuskupan, malah saya dan ibu dikejar Tentara saat itu tanpa menggunakan alas kaki,” kenangnya.

Selama pengejaran, Demianus tak pernah bertemu dengan ayahnya Tadius. Jika ayah dan anak ini saling merindukan, maka akan betukar kabar melalui surat, saat itu Hp belum mereka miliki. Tadius yang berada di hutan, sedang Demianus dan ibunya berpindah pindah tempat ketika keberadaan mereka diketahui aparat.

Tahun 2009, tepat dimana Tadius Magai tewas di Markasnya yang kata Demianus ayahnya itu diracuni. Sesaat sebelum meninggal dunia, sang ayah berpesan kepada anak bungsunya itu untuk tidak menyerah dan harus berjuang mempertahankan hingga bangsa Papua keluar dari bingkai NKRI.“Sejak saat itu, saya berjanji untuk menepati permintaan ayah saya,” kata Demianus 

Waktu kecil, Demianus tidak pernah berpikir untuk mengangkat senjata lalu melakukan perlawanan. Meski ia sendiri tahu ayahnya seorang OPM. Yang dipikrkan Demianus saat itu hanyalah menjadi seorang Tentara Perdamaian di PBB atau menjadi seorang Pilot.

“Hanya saja, negara ini memaksa saya untuk mengangkat senjata atas rasa trauma dan dendam masa kecil yang saya alami,” tuturnya dengan nada yang lirih.

Dendam Demianus yang paling membekas adalah, ketika dua kakaknya Salmon dan Leo Magai Yogi ditembak mati oleh aparat di Kabupaten Nabire pada tahun 2015. Menyusul kakak perempuannya ditembak di Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai.

Demianus ingat benar, kakak perempuannnya itu ditembak ketika sedang berjalan memikul noken. Kekejaman lainnya yang dilakukan terhadap kakaknya, diikat dengan posisi kaki di atas lalu disiksa hingga meninggal dunia pada tahun 1999.

“Saya berpikir saat itu, kenapa keluarga saya menjadi sasaran penembakan aparat. Apa karena kami terlahir dari seorang ayah OPM, penyiksaan yang dilakukan terhadap keluarga saya dan orang orang Papua lainnya membuat saya mengiginkan Papua ini segera merdeka. Sehingga kami bisa hidup tenang, tanpa adanya gangguan penembakan,” penuh emos Demianus menjelaskan.

Hingga saat ini, aparat masih melakukan pengejaran terhadap Demianus dan saudaranya. Inilah yang membuat Demianus tak bisa lagi masuk ke kampungnya sendiri di Paniai Timur.

“Kami bertahan di hutan dengan segala perlawanan, hingga nanti Papua merdeka barulah kami kembali ke kampung kami,” ucapnya.

Atas tindakan dan perlakuan yang dilakukan oleh aparat kepada keluarga Demianus dan orang Papua lainnya. Demianus berharap PBB bisa datang dan melihat hal dan pemerintah Indonesia bisa membuka ruang.

Belasan tahun mengikuti jejak sang ayah, dalam perjuangan, Demianus tidak pernah merugikan masyarakat sipil. Bahkan, beberapa kali menyelamatkan orang yang kembali ke tempat tugas mereka seperti tenaga medis dan guru.

“Selama ini, kami tidak pernah melakukan penyiksaan terhadap masyarakat sipil bahkan masyarakat non papua sekalipun. Perjuangan kami berhadapan dengan aparat, bukan warga sipil. Bahkan ketika saya mau perang, saya tetap bersurat agar anak anak dan perempuan keluar dari Enarotali untuk keselamatan mereka,” jelasnya.

Sekalipun sudah menikah dan memiliki anak, Demianus tak memaksanakan ideologi apa yang bakal dipahami anaknya ketika besar nanti. Termasuk memberikan kebebasan kepada anaknya mau jadi seperti apa.

“Seperti apa anak saya kedepan, itu menjadi urusan dia. Bahkan ketika dia mau jadi seorang Tentara Perdamaian melanjutkan keinginan saya sewaktu kecil, saya tetap mendukungnya,” kata Demianus.

Yang diinginkan Demianus saat ini hanyalah kemerdekan, penentuan nasib sendiri. Sehingga itu, pemerintah harus membuka ruang untuk berdialog dibawah mediator PBB. Jika tidak, Demianus dan kawan kawan akan terus melakukan perlawanan hingga Papua merdeka. Sebab, bagi Demianus. Terlalu kejam perlakuan negara melalui aparat terhadap warga sipil Papua.

“Kita berjuang bukan untuk membunuh warga sipil, apalagi dilabeli teroris. Tujuan kami perang dan beberapa aktivitas yang selalu kami ganggu tujuannya hanya untuk merdeka, bukan minta Otsus apalagi pembangunan,” kata Demianus.

Anak anak dari Kelompok Milisi seperti Egianus Kogoya, Demianus Magai Yogi dan lainnya, punya kisah tersendiri hingga mengikuti jejak ayah mereka. Punya trauma hingga menyaksikan bagaimana keluarga mereka dibunuh secara tidak wajar oleh TNI-Polri, inilah yang membuat anak anak dari Milisi ini mengangkat senjata. **

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: