Rehab Trotoar Pantai Dok II Disorot Warga

By
REHAB TROTOAR: Tiga orang pemuda yang sedang jogging melintas di samping trotoar Jalan Soa Siu depan kantor Gubernur Papua yang dibongkar untuk direhab, Rabu (9/10).   ( FOTO : GAMEL/CEPOS)

Pemkot Jayapura Sayangkan Pohon yang Dirusak

JAYAPURA-Jalan Soa Siu Jayapura beberapa hari ke depan kemungkinan akan ditutup selama 4 bulan. Kegiatan rehab penataan kawasan pengaman Pantai Dok II Jayapura oleh Dinas  Pekerjaan Umum Penataan Ruang Provinsi Papua menjadi alasan penutupan jalan tersebut. 

Bahkan saat ini  pekerjaan awal sudah terlihat dengan dikeruknya trotoar menggunakan alat berat. Hanya sayangnya upaya untuk penataan ini justru banyak mendapat sorotan warga karena dianggap tidak berkoordinasi dengan Pemkot Jayapura. 

Meski niat baik namun hal semacam ini disebut bukan kali pertama. Beberapa pohon yang sudah tumbuh bertahun-tahun juga dibabat sehingga makin membuat warga kesal. Tak hanya itu, sejumlah tong sampah dan aliran kabel yang berada di bawah trotoar juga menjadi korban. Tong sampah dari pihak ketiga untuk membantu warga membuang sampah lebih dekat ikut dibongkar dan diletakkan begitu saja. 

 “Kami kaget juga karena awalnya kami pikir hanya dibagian ujung, eh ternyata sampai diujung dan itu dibongkar semua,” kata Gunawan, salah satu pekerja sosial di Jayapura, Kamis (10/10). 

Pria yang kerap mendampingi pasien gawat darurat ini mengaku bingung karena jejeran pohon ikut ditebang dan kesannya tidak mendukung kebijakan Pemkot Jayapura soal semangat menghijaukan kota. “Teman-teman sempat nyinyir, pohon beringin yang besar saja ditebang apalagi yanga kecil-kecil,” sindirnya. 

Gunawan mengatakan, harusnya Pemprov Papua dan Pemkot Jayapura memiliki grand design yang sejalan agar jangan terjadi hal serupa. “Ini kan jadi aneh, Pemkot membangun, menata tapi dirubah oleh Pemprov dan kini menuai banyak protes,”singgungnya. 

Senada disampaikan Jefry yang ikut protes. Ia menyebut bahwa bibit pohon yang ditanam oleh Pemkot tersebut diambil dari luar Papua dan kini sudah tumbuh. Namun mirisnya dengan ketinggian mencapai 3-4 meter ternyata malah ditebang dan dicabut dengan akar-akar. “Kenapa tidak digali, kan itu alat berat. Ini seperti ingin cepat selesai dan kami pikir tidak tepat langsung ditebang begitu saja,” bebernya. 

“Tapi kami tidak heran, dulu Pemprov menebang pohon beringin bersejarah yang bibitnya diambil dari PNG dan dikatakan akan dibuat taman dan ditanami tapi sampai sekarang, mana?,” singgungnya. 

Secara terpisah, Wakil Wali Kota Jayapura Ir. H. Rustan Saru, MM., menyebutkan seharusnya dilakukan komunikasi dan koordinasi dengan pimpinan daerah dalam hal ini Wali Kota Jayapura atau Wakil Wali kota Jayapura. Bukan hanya melalui pimpinan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) tertentu.

Apalagi dampak dari penataan tersebut, banyak pohon yang sudah tumbuh dengan baik di sekitar Pantai Dok II jadi korban. Padahal, Pemkot Jayapura sudah susah payah menanam pohon tersebut hingga dapat tumbuh dengan baik. 

 “Kami sayangkan karena tidak melakukan koordinasi komunikasi dengan tepat dalam pembongkaran pohon di kawasan Pantai Dok II. Padahal, seharusnya pohon itu bisa dipindahkan dengan baik supaya tidak rusak dan ditanam kembali,” sesalnya, Kamis (10/10).

Pohon yang ditanam di sepanjang Pantai Dok II menurut Rustan Saru untuk mencegah adanya polusi udara. Apaklagi di daerah tersebut banyak kendaraan yang melintas setiap hari. Untuk itu, Rustan Saru berharap Pemprov Papua dalam hal ini Dinas PUPR bisa menanam kembali yang lebih baik apabila penataan yang dilakukan rampung. 

Senada dengan itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Jayapura Ir.Hj, Ketty Kailola, M.Si., mengaku sangat kaget dengan adanya pembongkaran pohon di kawasan Pantai Dok II. 

Padahal pohon yang ditanam tersebut didatangkan langsung Wali Kota Jayapura datangkan dari Jawa dan butuh waktu lama agar pohon tersebut tumbuh dengan baik. Diakuinya, banyak pohon yang awalnya ditanam di daerah tersebut namun susah hidup. Tapi sayang, setelah pohon yang ditanam tumbuh dengan baik, justru dirusak. 

“Ada sekira 15 sampai 20 pohon yang dihancurkan mulai dari pohon ketapang mini, kayu susu dan gamelina. Pohon tersebut ditanam sejak tahun 2011 dan dilakukan berulang kali. Sebelumnya ditanam pohon trembesi, tanaman yang tahan banting tahan asin. Namun tidak jadi dan terakhir tiga pohon itu yang bisa bertahan sampai sekarang,” jelasnya.

Ketty meminta apabila proyek pembangunan tersebut selesai, harus ada tanaman yang ditanam lagi yang sekiranya bisa hidup seperti pohon yang telah dirusak. (ade/dil/nat) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: