Sagu Ondoafi Terbaik di Dunia Namun Kalah Eksis

By
PERAS SAGU: Seorang Mama-mama asal Sentani, Kabupaten Jayapura sedang memproses sagu di pinggir Danau Sentani yang dilakukan secara tradisional beberapa waktu yang lalu. Sagu di Papua diakui dunia soal kualitasnya namun masih belum bisa merebut pasar internasional.  (FOTO : GAMEL/CEPOS)

Perda No 3 Tahun 2000 Apa Kabar?

JAYAPURA – Pengakuan dunia bahwa sagu terbaik di dunia ada di Papua memang tak terbantahkan. Hanya saja meski kaya akan potensi sumber daya alam (SDA) namun masih banyak PR yang perlu  dituntaskan. 

Provinsi Riau, yang notabene hanya memiliki 87.000 Ha luas lahan sagu mampu  menjawab tantangan global menjadi provinsi yang mampu menyuplai berbagai produk olahan sagu ke luar negeri. 

 Sementara Papua yang disebut memiliki potensi tak terbatas bahkan memiliki kawasan hutan sagu lebih luas namun masih bermain ditingkat lokal. Selain itu persoalan lainnya adalah hilangnya daerah hutan sagu akibat pembangunan. 

Wilayah Sentani Timur contohnya yang perlahan mulai terkikis oleh pembangunan. “Dari hasil penelitian terungkap jika kualitas sagu terbaik ada di Papua. Bahkan secara kearifan lokal ada kelas yang dispecialkan  seperti sagu kualitas Ondoafi. Hanya saja meski memiliki banyak potensi namun kalah eksis dibanding Provinsi Riau,” kata peneliti sagu, Jhon Mampioper dalam acara FGD memperingati hari sagu pada 21 Juni (hari ini). 

 Ia memaparkan bahwa di Sentani, kawasan hutan sagu yang masih terjada ada di Distrik Yoboi. “Kawasannya cukup luas dan ada banyak varietas disini. Ini potensi yang harusnya bisa digarap,” tambahnya. Disini disinggung juga soal Perda No 3 tahun 2000 tentang kawasan hutan sagu yang pengawasannya masih lemah. Perda ini terkesan hanya diundangkan namun minim pengawasan.   

DISKUSI: Suasana diskusi dalam FGD yang digelar dalam memperingati hari Sagu di Kampus STBS Swadiri Padang Bulan, Kamis (20/6). Peringatan hari sagu pada hari ini (21/6) akan digelar di Kehiran dengan penanaman bibit pohon sagu.(FOTO : Gamel/Cepos )

Kegiatan FGD yang  digelar Kamis (20/6) kemarin di Kampus STBS Swadiri Padang Bulan ini juga menghadirkan pemateri lain yakni Marcel Suebu dari CPA Hirosi dan akademisi, Dr. Josh Mansoben.

 Disebutkan bahwa Riau dengan keterbatasan lahan memiliki 380 produk olahan sedangkan Papua hanya beberapa. Marcel menyebut bahwa acara FGD memperingati hari sagu ini dilakukan berangkat dari keprihatinan pihaknya mencoba menyadarkan pentingnya sagu yang tak hanya sebagai bahan makanan tetapi juga fungsi lain bagi masyarakat adat. Papua kaya dengan potensi sagu namun perlu konsep dan semangat yang sama untuk mempopulerkan sagu yang tidak hanya dikenal oleh masyarakat adat di Papua tetapi juga secara nasional bahkan internasional. 

 “Kami bertekad menjadikan Papua sebagai lumbung sagu dunia. Jika di Riau hanya menyapa, kita di Paaua harus bisa lebih. Meski terambat tapi harus tetap belajar dan kami yakin bisa berbuat lebih,” jelas Marcel.  

Akademisi Dr. Josh Mansoben menjelaskan bahwa ada masyarakat adat yang hidup dari sagu. Contohnya di Asmat yang setiap hari sagu menjadi makanan pokok. Hanya saja potensi sagu ini harus dijaga agar tak terdegradasi akibat kepentingan pembangunan. Sagu perlu lebih dipopulerkan namun juga memberi manfaat ekonomis bagi masyarakat. 

Dari FGD ini juga terungkap bagaimana hutan sagu diperjuangkan statusnya dalma hukum menjadi hutan adat. Yang sudah barang tentu tak boleh dijual belikan.  Sementara, hari sagu pada 21 Juni (hari ini) akan diperingati dengan kegiatan penanaman sagu di Kehiran Kabupaten Jayapura. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: