Sate Kambing Favorit Delegasi Konferensi Asia-Afrika

By

Rumah Makan Madura Madrawi dan Pojok Favorit Bung Karno (2)

Madrawi sudah berpulang. Rumah Makan (RM) Madura Madrawi yang legendaris pun sudah tidak ada. Namun, jejak kulinernya abadi. Tidak hanya karena menjadi kegemaran Soekarno, tapi juga karena pernah menjadi bagian dari perhelatan bersejarah Konferensi Asia-Afrika (KAA).

SAHRUL YUNIZAR, Bandung

JALAN Dalem Kaum berada di jantung Kota Bandung. Lokasinya tidak jauh dari kantor wali kota. Jalan itu menjadi salah satu akses menuju Masjid Raya Bandung. Di jalan raya itu, pada salah satu sudutnya, pernah berdiri RM Madura Madrawi. Sesuai namanya, pemilik rumah makan tersebut adalah Madrawi. Dia pendatang dari Madura, Jawa Timur. 

Madrawi adalah kawan lama Soekarno. Mereka sudah saling kenal sejak tokoh yang kemudian menjadi presiden pertama RI itu tinggal di Surabaya. Dari Madura, Madrawi merantau ke Jawa Barat. Tepatnya ke Bandung. ”Kakek saya ke Bandung untuk mencari ayahnya,” kata Abdul Fatah Fadli saat dijumpai Jawa Pos pada Desember lalu. 

Setelah menemukan sang ayah, Madrawi kemudian ikut menetap di Bandung. Dia mengikuti jejak ayahnya berwirausaha, yakni dengan mendirikan warung nasi di bilangan Kebon Kawung. Menunya, tentu, masakan Madura karena memang mereka berasal dari Pulau Garam tersebut. Madrawi pun kemudian menikah, punya anak sampai punya cucu di Kota Kembang. 

Fadli adalah salah seorang cucu Madrawi. Generasi kedua keturunan Madrawi itu sempat bersentuhan langsung dengan RM Madura yang awalnya bernama warung nasi itu. Ayah Fadli, Fadli Badjuri, merupakan anak bungsu Madrawi. Badjuri pula yang sehari-hari mendampingi Madrawi mengurus warung nasi. Pelan tapi pasti, warung nasi dengan sajian menu Madura tersebut kian dikenal. 

Bahkan, bupati Bandung kala itu sampai datang ke warung untuk mencoba masakan Madrawi. Sang bupati merasa cocok dengan olahan menu dan racikan bumbu Madrawi. Dia pun kemudian meminta warung nasi di Kebon Kawung itu pindah ke Jalan Dalem Kaum. Permintaan yang mengejutkan dan tentu saja tidak dia sia-siakan. Sebab, tidak sembarang orang bisa ditunjuk langsung oleh bupati. Apalagi sampai diajak pindah ke Jalan Dalem Kaum yang ketika itu menjadi pusat keramaian di Bandung. 

”Atas usulan bupati, warung makan itu berganti nama menjadi rumah makan atau restoran,” jelas Fadli. Sejak itulah RM Madura Madrawi lahir dan menjadi salah satu rumah makan pertama di Bandung. 

Kendati sudah hijrah ke tanah Sunda, Madrawi tetap berkawan dekat dengan Soekarno. Kedekatan itu pula yang membuat dia dipercaya sebagai panitia penyambutan tokoh yang akrab disapa Bung Karno tersebut di Bandung. Pada 1921, ketika Bung Karno mengawali hari-hari pertamanya di Bandung, Madrawi-lah yang mendampingi. Dia menjadi ”penyambung lidah” Bung Karno ke masyarakat Sunda yang belum fasih berbahasa Indonesia. ”Kakek dan bapak saya jadi penerjemah bagi orang-orang Bandung,” imbuhnya. 

Meski Indonesia belum merdeka, nama Bung Karno sudah sangat dikenal pada 1920-an itu. Maka, tidak heran jika banyak warga yang ingin berjumpa dan berbincang langsung dengan Bung Karno. RM Madura Madrawi pun kemudian menjadi salah satu lokasi berdialog antara Bung Karno dan tokoh-tokoh lainnya pada waktu itu. 

Saat Jawa Pos berkunjung ke kediamannya di Bandung, Fadli memamerkan foto RM Madura Madrawi. ”Bung Karno biasa duduk di meja pojok depan sebelah kiri,” katanya. Di pojokan itulah biasanya Bung Karno menyantap hidangan yang diolah Madrawai dan Badjuri. 

Dari Badjuri, Fadli mendengar bahwa menu favorit Bung Karno adalah soto Madura yang disajikan dengan nasi terpisah. Bung Karno juga menggemari sate ayam, kerupuk udang, dan es teh manis atau es teh tawar. ”Setelah makan, biasanya beliau meminta pencuci mulut berupa pisang,” terangnya. 

Jika sedang bertandang ke RM Madura Madrawi, Bung Karno pasti akan bisa ditemukan di pojok favoritnya. Di sudut itulah Sang Proklamator menikmati masakan Madrawi. Baik itu sendirian ataupun bersama teman-teman dan tokoh-tokoh yang lain. Pojok tersebut juga menjadi saksi kecakapan Bung Karno sebagai pemimpin. Beliau juga sering berdiskusi panjang di sana. 

Bung Karno memang tidak setiap hari datang ke RM Madura Madrawi. Dalam satu pekan, beliau berkunjung minimal sekali. Selain untuk bersantap, Bung Karno datang ke sana untuk menjumpai Madrawi dan Badjuri. Perjumpaan itu menjadi jarang setelah Indonesia merdeka. Bung Karno dan tokoh-tokoh yang biasa datang ke RM Madrawi disibukkan dengan urusan kenegaraan. 

Madrawi adalah teman yang jauh di mata, namun dekat di hati bagi Bung Karno. Buktinya, saat Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1955, RM Madura Madrawi menjadi pendukung panitia. Tepatnya menyediakan makanan untuk seluruh undangan. 

Fadli tidak ingat persis berapa porsi makanan yang harus mereka sediakan setiap hari selama pergelaran KAA. Yang dia ingat, RM Madura Madrawi tidak hanya mengirimkan makanan ke lokasi konferensi, tapi juga ke tiap penginapan yang menampung delegasi KAA dari berbagai negara. 

Keterlibatan RM Madura Madrawi dalam agenda internasional itu membuat nama restoran tersebut kian dikenal. Hingga menjelang tutup permanen pada 1987, RM Madura Madrawi masih banyak penggemar. ”Respons masyarakat juga masih bagus,” katanya. 

Fadli memastikan bahwa RM Madura Madrawi tutup bukan karena tidak ada lagi pelanggan. Bukan juga karena bangkrut atau tidak ada biaya operasional. Alasan utama tutupnya rumah makan tersebut adalah pemutusan kontrak sewa tempat oleh pemilik lahan. Selain itu, Badjuri dan generasi berikutnya enggan terjun total dalam bisnis rumah makan. 

Fadli ingat betul masa di mana dirinya dan keluarga harus boyongan dari RM Madura Madrawi ke rumah keluarga. Rumah itu masih ditempati hingga saat ini. Yang tidak bisa hilang dari kepalanya adalah pesan abahnya untuk mendirikan majelis setelah restoran tutup permanen.

”Itu berangkat dari kebiasaan orang-orang daerah. Di kampung kan suka ada pengajian kecil, ada majelis,” ungkap Fadli. Karena itu, setelah RM Madura Madrawi tutup, Badjuri mendirikan Majelis Dzikir Sholawat Tjakraboeana. 

Di lingkungannya, Badjuri dikenal sebagai tokoh agama. Dia wafat pada 14 Maret 2019. Saat itu usianya sudah 112 tahun. Lantas, adakah keinginan dari Fadli dan keluarganya membuka kembali RM Madura Madrawi? ”Sampai detik ini masih ada keinginan. Cuma memang waktunya Allah yang lebih tahu,” jawab Fadli. (*/c9/hep/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: