Sebagai Makanan Pokok, Perlunya Hutan Sagu Diproteksi

By

Ketua Poksus DPRP John NR Gobay  Tentang  Hutan Sagu yang Segera Dilindungi 

Sagu merupakan pohon yang mempunyai berbagai fungsi. Pohon sagu banyak tumbuh di Papua  bagian pesisir, wilayah selatan Papua  masih menyimpan cadangan hutan sagu yang luas. Namun hutan Sagu perlahan mulai terkikis oleh pembangunan. Apa kata ketua Kelompok khusus DPRP John NR Gobay dan anggota Dewan Gereja Papua Dr Benny Giyai? 

Laporan Noel Wenda

berbagai pembangunan dan investasi telah dan sedang menggusur dan membabat pohon sagu yang tumbuh secara alamiah namun budidaya sagu masih terbatas, sagu juga telah menjadi sumber pendapatan masyarakat dan berguna bagi kehidupan masyarakat Papua  dibagian pesisir untuk itu diperlukan upaya strategis untuk perlindungan dan pengembangan sagu.

 Ketua kelompok khusus (Poksus) DPRP John NR Gobay menjelaskan hutan atau dusun sagu yang adalah sumber kehidupan masyarakat, diperlukan adanya kebijakan pembatasan pembukaan lahan baik kehutanan maupun perkebunan sawit, pembukaan jalan dan pembangunan komplex perumahan  yang membongkar hutan sagu.

 Dan juga mesti ada upaya membuka kebun kebun atau dusun dusun sagu atau dengan kata lain perlu ada budidaya sagu khas Papua . Selain itu, Diperlukan juga upaya secara bertahap pengurangan bantuan beras rastra (Rastra) karena telah merubah pola konsumsi masyarakat.

 Dalam rangka perlindungan juga jika dibuat regulasi haruslah dipatuhi dan dilaksanakan secara benar. 

“Dalam rangka pengembangan maka perlu dikembangkan, adanya industri peralatan pengolahan sagu, adanya pelatihan pelatihan pengolahan sagu, industri industri pengolahan sagu, pengolahan tepung sagu sebagai makanan ringan, pengolahan beras dari sagu,” kata pria yang juga menjadi Sekretaris Dewan Adat Papua  (DAP) John NR Gobay.

 Selain itu dari Data Dewan Gereja Papua  mengatakan bahwa,  deforestasi dan kejahatan Lingkungan dewan Gereja mengetahui dan menyadari bahwa Papua  memiliki 2/5 (38%) dari areal hutan yang masih ada di Indonesia tetapi faktanya saat ini perusahaan-perusahaan membersihkan lahan untuk kelapa sawit, pabrik kertas/pulp dan pertambangan yang beroperasi di Papua  mengakibatkan deforestasi. Penyebab lain untuk deforestasi adalah pembangunan infrastruktur sipil, pemukiman warga transmigrasi, pembangunan kantor, jalan trans antar kabupaten, daerah, pembangunan istrastruktur TNI/POLRI. 

 “Pada Maret-Mei 2020 melalui citra satelit ditemukan deforestasi lahan seluas 1.488 ha pada areal kelapa sawit. Yang terbesar di wilayah Manokwari (372 ha), di wilayah Merauke (372), di Boven Digoel (222 ha) dan di Bintuni (110 ha). Kami membaca laporan Indonesian Monitoring Coalition (koalisi ini terdiri dari 11 NGOs) deforatesi di Papua  sangat meningkat selama administrasi Presiden Jokowi,” Kata Anggota Dewan Gereja Papua , Pendeta Dr Benny Giyai di Jayapura belum lama ini.

 Lanjutnya, selama 20 tahun terakhir areal hutan alami keruskan 663,433 ha; 71% dari deforestasi ini terjadi selama kurun waktu 2011-2019. Maka rata-rata deforestasi di Papua  sekitar 34,000 ha per tahun; puncaknya tahun 2015: 89,000 ha. Selama kurun waktu 2015-2019 (kabinet Jokowi I) Papua  kehilangan 298,600 ha. Deforestasi yang paling besar adalah di wilayah Merauke (123,000 ha), Boven Digul (51,600 ha), Nabire (32,900 ha), Teluk Bintuni (33,400 ha), Sorong (33,400 ha) dan Fakfak (31,700 ha). 

 Menurutnya Dalam rangka pengembangan juga dikembangkan olahan dari sagu sebagai menu wajib dalam acara acara pemerintahan dan swasta. Sagu hanya boleh dijual oleh orang Papua . Sagu dan keladi adalah makanan pokok di Papua , tetapi pohon sagu juga mempunyai berbagai fungsi,  Dalam UU No 8 tahun 2012 tentang Pangan telah mengatur tentang Pangan lokal, sehingga Sagu sebagai pangan lokal, menjadi kewenangan pemerintah daerah dan legislatif untuk menyiapkan regulasi guna perlindungan dan pengembangannya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: