Sebagai Pengingat bahwa Indonesia Diikat dan Tidak Dipisahkan Laut

By

Upaya Jalur Rempah Memikat UNESCO, di Antara Mausam dan Jalur Sutra Maritim

Sudah sekitar 100 tapak peninggalan didata dan nanti diseleksi untuk memperkuat narasi jalur rempah. Kalau peradaban yang membentang di enam negara di Amerika Selatan saja bisa mendapat pengakuan, jalur rempah tentu juga berpeluang.

EDI SUSILO, Surabaya

NUN jauh sebelum bangsa Eropa datang, Nusantara memainkan peranan penting dalam pasokan rempah dunia. Bukti-bukti historis maupun arkeologis yang terserak di berbagai negara membuktikan itu. Bahwa Nusantara dulu, dalam istilah Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Hilmar Farid, pernah menjadi ”kepala”. Titik berangkat perdagangan rempah sebagai komoditas penting: pala, cengkih, lada, cendana, hingga kayu manis.

Di Pelabuhan Kuno Mantai, Sri Lanka, misalnya, ditemukan cengkih berusia 900–1100 M. Di pelabuhan yang menjadi penghubung peradaban timur dan barat itu, ditemukan pula lada hitam era 600–700 M.

Nukilan cengkih di pelabuhan tersebut diperkirakan berasal dari Nusantara. Jauh sebelum bukti itu, masyarakat Mesir Kuno juga menggunakan cengkih sebagai salah satu bahan pengawetan mumi. Cengkih dan pala telah dikenal pula di peradaban Yunani dan Romawi Kuno.

”Jalur rempah ini menjadi langkah kita untuk memperkenalkan kembali identitas historis Indonesia,” ujar Hilmar dalam wawancara daring dengan Jawa Pos tiga pekan lalu (7/6).

Jalur rempah tak sekadar berbicara mengenai bahan beraroma kuat sebagai komoditas. Lebih dari itu, mewarnai bangsa ini dengan ragam akulturasi, seni, agama, hingga kebudayaan.

Masuknya ragam alat tabuh seperti gong, ragam seni, dan penyebaran agama Islam saling berpadu mewarnai sejarah panjang jalur rempah. Khazanah inilah yang mendorong Kemendikbudristek mendaftarkannya sebagai warisan dunia UNESCO. Sebab, peranannya bukan hanya di Indonesia, tetapi merentang jauh dari Asia, Eropa, hingga ke Afrika.

Pendaftaran jalur rempah dimaksudkan pula untuk mengingatkan kembali bangsa ini. Bahwa sebelum jalur darat dan udara mulai mendominasi seperti saat ini, moyang kita memanfaatkan laut dalam aktivitas masyarakat. Yang menjadi modal pengikat hubungan ratusan suku bangsa dan dengan ragam bahasa bertemu. Saling berkomunikasi dan membentuk kultur harmonis. Cikal bakal Bhinneka Tunggal Ika. ”Kita ini negara maritim. Tapi, terasa janggal karena kajian maritimnya tak banyak disentuh,” ungkapnya.

Tak usah jauh-jauh dari segi kesejarahan. Skill anak-anak Indonesia yang jago berenang pun mungkin tak banyak. ”Anak-anak kita bahkan mungkin takut air sekarang ini,” kelakar Hilmar.

Lubang sejarah serta ketidaktahuan masyarakat mengenai pentingnya laut inilah yang coba ditambal dengan pendaftaran jalur rempah sebagai warisan UNESCO. Sekaligus memberi bukti, sebelum bangsa Eropa mengangkangi negeri ini dengan monopolinya, orang-orang Nusantara dulu jauh berkembang dalam perdagangan. Saling untung dan tentu saja bersikap terbuka.

Kini riset-riset mengenai tetenger jalur rempah itu dirangkai. Ditjen Kebudayaan telah mendata lebih dari 100 tapak peninggalan jalur rempah yang terserak di berbagai pelosok pulau. Jalan, bangunan, sampai tempat ibadah dicatat sebagai bahan mengajukan ke UNESCO. Peninggalan-peninggalan itu nanti diseleksi untuk memperkuat narasi jalur rempah. ”Terutama tapak-tapak yang mengingatkan core value, nilai inti dari jalur rempah,” tutur lelaki kelahiran Bonn, Jerman Barat, 8 Maret 1968, tersebut.

Misalnya, keterbukaan, saling berdampingan, akulturasi, dan saling terhubung. Jejaring. Seperti bukti kelenteng dan masjid di kawasan Indonesia Timur yang hidup di tengah komunitas masyarakat yang beragama Kristen. Begitu pula peninggalan berupa benteng-benteng lama. Misalnya, Benteng Wolio di Baubau, Sulawesi Tenggara. Benteng itu dibangun masyarakat Nusantara dan menjadi benteng terbesar di Asia.

Pendaftaran jalur rempah sebagai warisan UNESCO ini bukan tanpa kendala. Luasnya area yang didaftarkan karena meliputi sebagian besar wilayah Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, komunitas dan pemerintah daerah, mulai tingkat kabupaten hingga provinsi, diajak bersinergi. 

Tahun ini Kemendikbudristek telah memulainya dengan menyelenggarakan muhibah budaya jalur rempah. Memberangkatkan peserta dari berbagai penjuru negeri untuk melawat ke enam titik penting jalur rempah awal bulan ini. Dengan menaiki KRI Dewaruci, ke-42 peserta berangkat dari Surabaya pada 1 Juni lalu. Kota Pahlawan juga akan menjadi titik akhir pada 2 Juli. ”Rencananya, muhibah budaya jalur rempah ini diadakan setiap tahun,” ujar mantan komisaris PT Krakatau Steel (Persero) tersebut.

Rutenya digilir. Tahun ini rutenya ke arah Indonesia Timur. Tahun depan bisa berangkat dari Jawa Tengah menuju ke barat, Sumatera. Proyek susur jalur rempah ini dibuat untuk merangkai kembali identitas historis.

Hilmar menyadari, pendaftaran jalur rempah ini bukan hal gampang. Selama ini pendaftaran warisan budaya UNESCO banyak dilakukan dengan lingkup lebih kecil. Dari peninggalan situs sampai kawasan saja. Indonesia, misalnya, punya Borobodur dan subak di Bali.

Namun, Indonesia bisa berkaca pada warisan dunia di belahan Amerika Selatan. Pada 2014, jalur kuno peninggalan peradaban Inca, Qhapaq Nan, telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia. Jalur tersebut menjulur sepanjang 30 ribu kilometer yang membentang di enam negara. Jadi, peluang jalur rempah untuk bisa mendapatkan pengakuan serupa bukanlah misi mustahil.

Pihaknya, kata Hilmar, juga menjalin komunikasi dengan negara lain. Salah satunya, India. Perwakilan mereka sudah berdiskusi dengan Kemendikbudristek. Mereka juga sedang menyusun situs warisan Mausam ke UNESCO. Sebuah warisan teknologi pelayaran maritim di negeri anak benua itu. ”Nanti kita saling melengkapi. India mendaftarkan teknologi maritim, Indonesia mendaftarkan jalur rempah,” paparnya.

Selain Mausam di India dan jalur rempah di Indonesia, Tiongkok juga sedang mendaftarkan jalur sutra maritim untuk menjadi warisan dunia. Hilmar mengakui, selain menjadi bahasan di kementeriannya beberapa tahun lalu, titik berangkat jalur rempah ini didukung ingatan masa mudanya. Ketika duduk di bangku kuliah di Universitas Indonesia sebagai mahasiswa sejarah. Waktu itu dia sangat terpukau dengan penjelasan dosennya, Prof Dr Adrian Bernard Lapian. Pakar sejarah maritim dan penulis buku Orang Laut, Raja Laut, Bajak Laut itu memantik imaji Hilmar muda mengenai pentingnya peranan laut bagi masyarakat Indonesia. Bahwa ia bukanlah pemisah, sebaliknya justru pengikat bangsa ini. Seperti lem biru yang merekatkan ribuan pulau zamrud khatulistiwa bernama Indonesia. (*/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: