Sebuah Masjid tanpa Pilar, Sebuah Lukisan di Biara

By

121 Tahun Soekarno: Relevan Sepanjang Zaman

Di serambi, lewat tonil, di tepi pantai, Soekarno mendengarkan berbagai kalangan. Itu yang membuat ide dan pemikirannya mengakar serta relevan.

FERLYNDA P., Kota Bengkulu-EDI S., Surabaya  

PANCASILA datang dari hari-hari ketika Soekarno berkarib dengan nelayan, peladang, anak buah kapal, dan orang-orang buta huruf yang dibacakannya naskah tonil yang dikarangnya sendiri. Nun di Ende, Nusa Tenggara Timur, sana.

Kemerdekaan yang tak lama lagi memasuki usia ke-77, apinya di antaranya bersumber dari Landraad (Pengadilan) Bandung pada 18 Agustus 1930. Saat Soekarno dengan lantang membacakan Indonesia Menggugat. ’’Pengadilan menuduh kami menjalankan kejahatan? Dengan apa kami menjalankan kejahatan? Dengan pedang? Dengan bedil? Dengan bom? Senjata kami adalah rencana,’’ katanya berapi-api.

Pleidoi yang menjadi dokumen penting melawan kolonialisme Belanda. Sekaligus berkontribusi besar bagi pemikiran hukum kontemporer. 

Jadi, Soekarno yang lahir tepat di hari ini di Surabaya, 121 tahun lalu, akan selalu relevan dengan Indonesia di sepanjang hayat. Sebab, ide dan pemikirannya lahir dari apa yang sekarang semakin jarang ditemukan di kalangan mereka yang berada di atas: keluh kesah rakyat. 

’’Hidup di tempat pengasingan dan bergumul dengan jelata mengilhaminya menggagas Pancasila sebagai dasar negara. Soekarno memang selalu dekat dengan rakyat,” kata Roso Daras, penulis buku Total Bung Karno.

Jawa Pos menelusuri ke Bengkulu, mewawancarai pencatat sejarah Soekarno di Ende, mengunjungi tempat dia dilahirkan dan dibentuk di Surabaya, untuk menangkap esensi kedekatan Si Bung Besar dengan ’’kaum marhaen”. Yang membuat tokoh yang pernah ditahan dan diasingkan di enam kota di tanah air itu relevan sampai sekarang, sampai kapan pun. 

Di bekas tempat pengasingannya di Kota Bengkulu, buku-buku peninggalannya berjajar rapi. Begitu juga surat-suratnya kepada pemerintah Belanda. 

Tepat pukul 10.00 pada Jumat (3/6) lalu, mikrofon mengumandangkan pembacaan Pancasila. Seluruh petugas dan pengunjung diminta berdiri dengan sikap sempurna. Pembacaan itu rutin setiap hari, bergantian dengan lagu Indonesia Raya dan teks proklamasi. 

Di rumah itu dulu berbagai kalangan berbaur. Mulai tokoh politik, pemuka agama, pemimpin setempat, sampai kalangan warga yang buta huruf sekalipun. 

Salah satu buktinya adalah seragam pementasan tonil yang dipamerkan dalam kotak kaca. Tonil Monte Carlo yang dibentuk Bung Karno mementaskan ide pembaruan dan pergerakan melawan penjajah di Bengkulu. 

Bung Karno yang menyiapkan semua hal dalam pementasan. Mulai membuat naskah hingga menyebarkan pamflet. Putra Sang Fajar, demikian dia dijuluki, memang seorang penulis naskah drama yang produktif.

Roso Daras bercerita, suatu hari seorang pemerah susu datang ke rumah pengasingan Soekarno di Bengkulu dan mengeluh tidak punya uang. Seorang tahanan politik seperti Soekarno jelas berkantong tipis. 

Satu-satunya jalan yang bisa dia lakukan untuk membantu adalah menggadaikan baju. Dia pun meminta pemerah susu itu untuk menunggu. 

’’Lewat pintu belakang, Soekarno membawa baju untuk digadaikan. Demi mendapatkan uang sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan si pemerah susu,” katanya. 

Yang membuat Soekarno cepat melebur dengan lingkungan di mana pun dia berada adalah pribadinya yang hangat dan terbuka. Dia intelektual, pemikir, penulis, tapi juga seorang penggemar sastra, lukisan, dan tonil. 

Lingkup pertemanannya pun jadi demikian luas. Melintas berbagai batas. Di Ende, Nocent W. Doi, staf dinas pariwisata setempat yang tekun mencatat kepingan sejarah Soekarno, menceritakan sebuah lukisan di Biara Santo Yosef di kabupaten yang berada di Pulau Flores tersebut.   

Dalam lukisan itu, Soekarno digambarkan berjalan sambil berbincang dengan dua biarawan, Pater Geradus Huijtink dan Pater Joannes Bouma. Di biara yang sama, pada 2019 diresmikan Serambi Bung Karno. 

Di tempat itulah dulu Soekarno banyak menghabiskan waktu dengan membaca berbagai buku dan majalah. Dari sana pula, lahir pementasan tonil yang juga atas prakarsa dua biarawan tadi. 

’’Dua biarawan tersebut sangat menghormati Bung Karno dan memanggilnya dengan sapaan ’Tuan Presiden’, bahkan sebelum Bung Karno menjadi presiden Republik Indonesia,” kata Nocent. 

Di Kota Bengkulu, jejak peninggalan Soekarno juga ada di Masjid Jami. Letaknya tak jauh dari rumah pengasingannya. 

Masjid tersebut konon didesain sang proklamator. ”Keunikannya, tidak ada pilar penyangga di tengahnya,” ujar Kepala DKM Masjid Jami Bengkulu Lailatul Kadri. 

Masjid itu masih aktif digunakan. Hanya ada beberapa bagian, menurut Kadri, yang hilang karena pelebaran jalan. ”Bangunan utamanya masih sama. Hanya bangunan pendampingnya ada yang hilang,” ujarnya. 

Menurut cerita yang didapat Kadri, sekitar Masjid Jami dulu merupakan rumah para bangsawan. Salah satu tempat Bung Karno menghabiskan waktu. ”Bung Karno sempat mendengar lantunan ayat Alquran yang dikumandangkan remaja putri setiap menjelang Magrib. Beliau terkesan dan akhirnya ingin mendesain ulang Masjid Jami,” katanya.

Di biara, di masjid. Penjara-pengasingan, rumah bangsawan. Buku-buku, seragam tonil. Itu yang membuat dunia Soekarno begitu jembar. Itu semua juga menggambarkan majemuknya Indonesia.   

Dia mendengarkan semua kalangan. Dia mengalami sendiri apa yang dikeluhkan jelata yang jadi korban sistem kolonialisme. 

Dari sana lahir karya-karya agung yang membuatnya relevan dengan negeri yang dia perjuangkan kemerdekaannya. Sampai kapan pun. (*/c7/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: