Selain Dampingan, Sang Anak Harus Mau Berubah

By

JAYAPURA – Munculnya berbagai persoalan sosial yang berkaitan dengan anak di bawah umur dimana yang terakhir adalah terkuaknya informasi terkait seorang anak berusia 15 tahun yang memilih berhubungan badan dengan ayah tirinya hingga akhirnya berbadan dua. Kasus ini menjadi menarik sebab pengakuan gadis tersebut ia melakukan hubungan badan tanpa ada paksaan dan dilakukan atas dasar suka sama suka.

Ini membuat salah satu akademisi Uncen yang memiliki basic psikiater, Yosephine Marike Watofa P.Si kaget. Pasalnya kasus semacam ini terbilang jarang dan menjadi kekhawatiran karena yang bersangkutan masih berusia di bawah umur. Namun Marike menyinggung bahwa hal tersebut tak lepas dari dorongan atau hasrat yang muncul dari dalam diri anak tersebut. Ini menjadi lebih parah karena hasrat tadi tidak bisa dimanage dengan baik hingga terjebak.

“Pada usia tumbuh kembang seperti ini (15 tahun) dorongan dalam diri itu muncul dan hornomal juga tumbuh sehingga ada hasrat yang ingin dipenuhi. Bahasa jeleknya adalah ia ingin menikmati apa yang ia rasakan dari dorongan hormonal tersebut dan disini jika tak memiliki pemahaman yang baik maka akan terjebak,” kata Marike kepada Cenderawasih Pos di Auditorium Uncen belum lama ini. Ia berpendapat bahwa dengan usia yang masih sangat muda dan baru akan mencari jati diri, disinilah anak – anak harus mendapat edukasi dan penjelasan yang dimengerti secara matang.

Sehingga ada nilai – nilai moral yang bisa diambil oleh sang anak dimana tak semuanya hasrat itu harus diikuti. “Itu gunanya orang tua, ada bimbingan dan lainnya. Sayangnya ini bisa terjadi jika memang tak ada yang menjelaskan sehingga anak tesebut hanya  mengikuti saja keinginan yang dipicu karena oleh hormon tadi,” beber Yosephine.  Kondisi tersebut bisa diperparah apabila ada stimulus dari datang dari luar semisal pengaruh buruk Hp dan lainnya. “Ini yang makin  memperparah. Usai 15 itu sangat muda namun usia inilah anak – anak mulai menghayal dan berimajinasi  dengan perasaan ingin tahu yang tinggi,”  tambahnya.

Dosen Fakultas Kedokteran Uncen ini menyampaikan bahwa hal lain yang bisa menjadi pemicu adalah masa lalu dimana bisa saja anak tersebut pernah berpacaran kemudian sempat melakukan hubungan badan dan hasrat itu muncul kembali. “Jadi solusinya harus diberi pendampingan melekat. Ia harus banyak meminta bimbingan dari siapa saja apakah tokoh agama atau pendampingan dari kelompok yang peduli atau dinas. Yang paling penting anak ini merasa membutuhkan orang lain untuk menolong dirinya. Ia harus berfikir ia melakukan kesalahan dan harus ada yang menolong dia tapi kalau keinginan untuk berubah itu tidak ada maka akan sulit,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: