Simbol Kebangkitan Budaya yang Menyatukan Orang  Papua

By

Grup Band Mambesak (FOTO: Foto/Istimewa)

Mengenang Grup Seni Mambesak yang Mengajarkan Persatuan Orang  Asli Papua (OAP) 

Jumat (5/8) pekan kemarin genap 44 tahun, salah grup seni ternama lahir  pada  5 Agustus 1978 di Kampus Uncen Jayapura. Grup seni yang sangat terkenal dengan nama Grup Mambesak, dibentuk oleh satu kelompok orang yang bervisi di waktu itu dengan Budaya Papua Proto  Grup  yang di pimpin Arnold Clement Ap. Meski sudah tidak ada, namun spirit dari Grup Mambesak ini masih menggaung di masyarakat Papua. 

Laporan: Noel Wenda-Jayapura

Group Mambesak yang dipimpin oleh Arnold Clement Ap ini, bermakna Burung Cenderawasih yang terbang. Ketika ia menari selalu memperlihatkan keunikan, kekhasan, dan ciri identitasnya sebagai burung yang berbeda dari burung lainnya. Karen iatu, setiap penampilan burung mambesak dalam masa pertunjukkannya, selalu didatangi oleh burung lain untuk menyaksikan pertunjukkannya.

   Andreas Goo Dosen Antropologi Universitas Cenderawasih menyebut bahwa  Mambesak terbentuk sebagai satu sikap orang Papua melawan arus perubahan dan dalam kebudayaan di seluruh Papua. Atau dikenal dengan adanya inkulturasi,  yaitu kemampuan untuk belajar budaya sendiri, dan ini yang harus ditanamkan kepada setiap masyarakat baik di kampung-kampung adat dan juga lembaga-lembaga formal agar orang dapat belajar budaya yang asli dan budaya yang baru.

   “Pewarisan budaya Papua yang digagas Arnold up bersama grup Membesak yang terus  dikembangkan akan membentuk suatu masyarakat atau generasi muda Papua mereka bisa bertahan di zaman sekarang,” tuturnya. 

  Dengan itu, maka perubahan modernisasi yang menjadi tantangan hari ini hanya bisa dilawan jika anak-anak memiliki bekal budaya yang diajarkan oleh orang tua, pemerintah dan masyarakat adat, terkait inkulturasi seperti yang dilakukan oleh grup Membesak dan juga yang dilakukan oleh grup Konak.

  Mambesak yang berorientasi pada seni music  dan tarik suara, tetapi untuk cakupan budaya itu luas, sehingga orang tua harus mengajar anak-anaknya di rumah tentang apa itu budaya mereka yang merupakan jati diri mereka.

  “Sekolah-sekolah dan  keluarga bagaimana mengajak mengenal  budayanya, sehingga ketika anak itu mengetahui budayanya barulah orang itu bisa dikatakan hidup dalam hidayahnya. seperti bahasa hubungan kekerabatan dan lain lain maka perlu ada pelajaran terkait budaya yang disebut inkulturasi maka kita harus meningkatkan Inkulturasi dalam klen, keluarga, masyarakat dan sekolah juga pemerintahan,” kata Andreas Goo kepada Cenderawasih Pos disela acara di SMA YPPK Teruna Bakti Waena, pekan kemarin. 

   Andreas Goo yang juga editor buku Mambesak mengatakan grup ini telah mengirim setiap nilai seni dari setiap suku orang Papua  yang menjadi sebuah roh, yang pernah hidup pada masa lampau, sedang hidup kini, dan wajib dilestarikan oleh generasi orang Papua ke depan nanti. Dimana  Mambesak disimbolkan sebagai Kebangkitan Kebudayaan Orang Pap

  Hal yang perlu dipahami masyarakat bahwa tak semua lagu Mambesak bermuatan politis, bahkan kebanyakan adalah lagu-lagu yang mengisahkan pengalaman sehari-hari. Tentang kerinduan perantau atas kampungnya, tentang hutan yang hijau, tentang debur ombak yang memikat, tentang cinta terhadap Mama.

   Namun lantaran berisiko membangkitkan persatuan dan ingatan atas satu tanah yang sama, dari Sorong hingga Merauke, ia menjadi target operasi militer Indonesia yang menudingnya simpatisan jaringan perkotaan Organisasi Papua Merdeka meski tuduhan ini tak pernah jelas.  

   Sementara itu, Anggota DPR Papua Yonas Nusi mengatakan Mabesak hadir menjadi sebuah kekuatan kultur Papua yang digunakan pada waktu itu dan membesak telah menampilkan kebudayaan Papua dari seluruh wilayah dan adat Papua.

  Namun, melihat kondisi hari ini  dengan adanya Pemekaran Kabupaten dan Provinsi saat ini orang Papua lebih cenderung terprovokasi dan terpecah belah. Menurutnya,  akibat adanya tujuh wilayah adat yang merupakan wilayah administrasi politik yang dimainkan belanda, dan kehadiran Membesak membuktikan jati diri budaya orang asli Papua dari semua budaya lewat syair dan menyatukan semua.

   “Dengan lagu Mambesak orang Papua sudah bisa mendengar lagu ini dari budaya mereka sendiri dengan bahasa mereka yang dinyanyikan oleh Mambesak,” kata  Nusi.

  Hingga saat ini, kehadiran Mambesak dengan lagunya tidak pernah membuat orang Papua bosan tetapi terus memotivasi orang Papua sampai dengan hari ini dan hidup, sehingga apa yang menjadi budaya dan keaslian orang Papua harus terus diangkat dan dilestarikan.

  “Berbeda di masa dulu dan sekarang, saat ini dalam penuturan bahasa daerah itu sangat minim dari seluruh suku maka kita bisa lihat berapa bayak generasi Papua yang mahir bahasa daerah,” katanya.

  Pihaknya sendiri sebagai anggota DPR Papua melalui kelompok khusus Tengah berupaya untuk menjadikan hari kelahiran Membesak sebagai hari lahir budaya Papua yang harus memiliki kekuatan hukum dan menjadi event yang diperingati setiap tahunnya untuk mengembalikan budaya orang Papua

  “Ini harus jadi komitmen khusus Pemerintah untuk menjaga kedaulatan budaya di tanah Papua, karena kekuatan negara ini hadir akibat dari adanya budaya itu. Karena itu, harus ada perhatian di mana hari kelahiran membesar merupakan hari kebangkitan budaya orang Papua yang harus diperingati dan kita akui bahwa mambesak lah yang menjadi perintis dan semangat persatuan orang Papua,” ujarnya. (*/tri) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: