Sistem Open Close Gate Jadi Satu Solusi, Surat Vaksin Juga Ampuh Filter Pengunjung

By

Melihat Konsep Pelaksanaan Event yang Mengundang Massa di Tengah Pandemi 

Kota Jayapura terus berbenah dalam penanganan covid 19. Tak bisa terus menerus melakukan pembatasan tetapi perlu dicoba bagaimana menggelar event namun tetap aman. Gebyar PON bisa dicontoh meski tetap perlu dievaluasi. 

Laporan : Abdel Gamel Naser 

Pandemi Covid memukul semua aspek kehidupan. Yang paling terasa adalah sector ekonomi. Bagaimana tidak, Kota Jayapura merupakan  kota jasa yang  pendapatan ekonominya lebih banyak diperoleh dari pajak jasa juga sempat tiarap.  Pertumbuhan ekonomi turun hingga ke titik nadir. Tak sedikit yang merumahkan pegawai atau bahkan menutup tempat usaha. Ini tak lepas dari pembatasan social yang diharuskan selama pandemic. Dari jam 8 malam  kini menjadi jam 10 malam. 

 Namun seiring waktu strategi demi strategi terus dimainkan hingga akhirnya Reproductive Number (RO) di Kota Jayapura turun hingga nol koma dan PPKM yang sebelumnya level IV kini turun menjadi level III. Jayapura tengah berusaha untuk kembali menurunkan hingga level II. Dari semua usaha, akhirnya pada Sabtu (4/9) Pemkot berani menggelar Gebyar PON. Sebuah event promosi PON yang menghadirkan ribuan orang disatu lokasi. Berbagai pertimbangan dilakukan sebab jika salah strategi maka covid di Jayapura bisa kembali meledak. 

 Namun jika beberapa hari ke depan angka Covid tak beranjak maka event Gebyar PON yang dilakukan sub PB PON Kota Jayapura bisa menjadi rujukan daerah lain. Pantauan Cenderawasih Pos dilokasi gebyar terlihat upaya screening pengunjung atau penonton sudah dilakukan dari pintu masuk.  Cukup ketat malah.  Pertama, pengunjung harus bisa menunjukkan kartu keterangan jika sudah pernah vaksin, baik yang  baru 1 kali vaksin ataukah 2 kali. Bisa lewat surat tertulis dari pihak medis, bisa juga laporan lewat SMS.  Jika ini tidak bisa ditunjukkan maka pengunjung disarankan untuk melakukan vaksin di lokasi acara.

 Namun jika  saat itu belum direkomendasikan untuk dilakukan vaksin maka pengunjung bisa melakukan tes rapid antigen. “Ada dua fasilitas yang kami disiapkan. Ada vaksin di tempat ada juga rapid antigen. Fasilitas ini semua bisa dimanfaatkan oleh pengunjung,” kata Rachma Sibi, salah satu anggota tim Satgas Covid di lokasi posko.  Lalu meski sudah menunjukkan karti sudah pernah vaksin, pengunjung tetap diwajibkan menggunakan masker selama berada di dalam lokasi kegiatan. Namun saat masih di pintu masuk, pengunjung wajib mengecek suhu dan membasuh tangan dengan hand sanitizer.

 Petugas di pintu masuk juga ketat, kartu vaksin diperiksa dengan detail dan ada yang sampai mencocokkan dengan KTP hingga diminta membuka masker agar disesuaikan dengan foto KTP. “Memang harus ketat agar  penonton juga bisa merasa lebih nyaman karena semua yang di dalam tempat event sudah melalui screening yang ketat jadi tidak sembarang orang bisa masuk,” kata Otniel Deda Ketua Panitia Gebyar PON di lokasi kegiatan. 

 “Jadi jika pengunjung belum vaksin, ia bisa langsung mendapatkan layanan ditempat. Tapi jika kondisi tubuh tidak memungkinkan maka ia bisa melakukan rapid antigen dan semuanya gratis,” sambungnya. Disini terlihat jelas masyarakat yang belum vaksin ternyata cukup banyak karena penonton yang berada di luar pagar jumlahnya tak sedikit. Hampir menyamai jumlah penonton di dalam. Otniel menyebut screening diperketat untuk memastikan lokasi event steril untuk mengeliminir pengunjung yang terpapar. Jika sudah divaksin paling tidak herd immunity akan terbentuk dengan sendirinya. Hanya saja yang perlu dievaluasi adalah tempat  untuk melakukan vaksin dan rapid terlalu kecil sehingga ketika saat pengunjung membludak disitu terjadi kerumunan orang.

 Lalu pintu masuk yang hanya 1 ternyata menimbulkan penumpukan orang karena petugas harus memeriksa satu persatu identitas dan surat pengunjung. Panitia disarankan untuk menyiapkan pintu masuk paling tidak 3 pintu jika menargetkan pengunjung mencapai ribuan orang agar tidak menimbulkan penumpukan orang. Di bagian dalam panitia juga menyiapkan tempat atau sarana mencuci tangan maupun toilet dibeberapa titik. 

 Hanya saja di bagian panggung tak ada  media yang bisa digunakan untuk menyekat sehingga masih terjadi penumpukan. Satu cara lain yang menurut Otniel adalah menggunakan gelang dan rooling  pengunjung.  Strategi ini juga pernah dilakukan dalam acara pesta pernikahan yang mendatangkan tamu hampir 1000 orang ketika itu dimana setelah sesi tertentu berakhir maka penonton bisa dioplos. “Kemarin kami sarankan untuk pakai gelang. Yang sudah selesai bisa diganti oleh mereka yang belum  masuk namun ini harus diperketat di pintu masuk,” beber Otniel.

Namun harus diakui dalam pelaksanaan ini tidak mudah untuk menerapkan semuanya dan perlu didukung kesadaran dari masyarakat. “Tapi harus dicoba, kami menginginkan pengunjung ramai tapi kalau tidak tertib ini juga akan jadi boomerang jadi perlu kerjasama dan tidak bisa memaksakan,” imbuh Otniel. (*/wen)  

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: