Spanduk Tak Biasa Muncul di Stadion Papua Bangkit

By

JAYAPURA – Jika selama ini yang paling sering terlihat di Stadion Lukas Enembe Kampung Harapan adalah spanduk dan baliho pemalangan yang dilakukan masyarakat adat yang berkaitan dengan ulayat, namun sehari terakhir terlhat sebuah spanduk tak biasa yang dibentangkan beberapa anak muda. Spanduk yang terbuat dari kain berwarna kuning ini dibilang tak biasa karena tidak ada kaitan dengan lokasi atau lahan ulayat. Yang terpampang dari spanduk tersebut justru berbicara soal isu terkini terkait penolakan mahkota Cenderawasih untuk dijadikan souvenir dalam ajang PON.
Hanya kali ini yang ditulis adalah menghentikan upaya eksploitasi burung Cenderawasih dengan tiga hastag di bawahnya. #savecenderawasih, #savepapuaforest dan #jagasebelumtiada. Yang dilakukan oleh sekelompok pemuda ini terbilang berani mengingat bentuk penolakan dilakukan langsung di venue utama yang akan menjadi lokasi pembukaan PON nanti.
“Sebenarnya ini sekedar mengingatkan kepada panitia dan para stake holder yang berkaitan dengan PON untuk tidak memperlakukan Cenderawasih semena – mena. Membuat ia menjadi mahkota kemudian menyerahkan mahkota dari potongan atau bagian hewan dilindungi itu salah. Kami menolak,” kata Bertho Yekwan, salah satu pemuda yang ikut memajang spanduk tersebut.
Dikatakan isu Cenderawasih terancam punah bukan hal baru melainkan sudah lama dan ia meyakini jika banyak pejabat di Papua yang sudah tahu akan hal ini. Akan tetapi meski sudah menjadi pemahaman public ternyata Cenderawasih masih saja diburu, dijadikan cenderamata dan dipesan oleh oknum-oknum pejabat. “Kami tidak mau posisinya makin terancam sebab itu warisan yang harus diteruskan ke generasi akan datang dan jangan karena PON akhirnya semua terlena kemudian memunculkan banyak pesanan mahkota Cenderawasih. Sekali lagi kami ingatkan panitia dan pemangku kebijakan jangan menganggap ini biasa – biasa saja sebab jangan ketika sudah punah barulah kita menyalahkan ini itu,” sindirnya.
Selain memajang di Stadion Papua Bangkit, Bertho dkk juga memajang spanduk tersebut di Gor Toware, Kehiran dengan harapan ada pemantik yang mengingatkan panitia untuk konsisten. “Kami mendengar mereka menolak penggunaan mahkota Cenderawasih asli dan kami apresiasi tapi sebisa mungkin jangan hanya dimulut tapi coba keluarkan surat,” tambahnya.
Ia memastikan aksi penolakan dna perlindingan terhadap Cenderawasih masih akan terus dilakukan disejumlah titik dan yang diinginkan adalah event steril dari mahkota Cenderawasih. Sementara perkait isu yang berkembang dimana ada pihak yang berpendapat bahwa aksi ini hanya sekedar mencari panggung jelang PON menurut ditambahkan Muhammad Ikbal bahwa silahkan saja orang menyampaikan pendapatnya seperti itu namun ia memastikan bukan saja ketika ada PON untuk berbicara Cenderawasih.
“Dari beberapa tahun lalu kami sudah menanamkan komitmen untuk konsisten mendorong isu ini dan PON kami pikir ini hanya momentum, toh teman-teman bekerja tanpa membawa bendera tertentu yang penting ikhlas dan bisa melahirkan peduli,” imbuh Ikbal. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: