Stunting masih Tinggi, IDAI Papua Siap Bantu Atasi 

By

dr James Thimoty Sp. A. (K)., M.Kes Sp.A  (FOTO:Karel/Cepos)

JAYAPURA-Ketua Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Papua dr James Thimoty Sp. A. (K)., M.Kes, Sp.A mengungkapkan bahwa kasus gizi buruk, gizi kurang dan stunting di Provinsi Papua masih tinggi, di bandingkan wilayah lain. Hal ini disebabkan karena rendahnya asupan gizi dari ibu hamil saat 1000 hari pertama sejak kehamilan. Berbagai upaya dilakukan oleh IDAI Papua untuk menekan kasus gizi buruk dan kurang gizi di Papua.

  Untuk menyelesaikan kasus stunting di Papua kata dia sudah menjadi tantangan IDAI Papua untuk bekerjasama dengan pemerintah daerah. Untuk menolong anak-anak yang mengalami gizi buruk, gizi kurang dan stunting.

  “Kami siap memfasilitasi lewat rumah sakit ditempat kami bertugas, untuk menolong setiap anak anak yang mengalami gizi buruk, gisi kurang dan stunting,” ujar Ketua IDAI Papua, di Jayapura sabut, (10/12).

  Langkah-langkah yang dilakukan IDAI Papua untuk menekan kasus gizi buruk, dengan mengalakkan sosialisasi, seminar maupun mendampingi pihak rumah sakit untuk melakukan screening dan pengobatan kepada anak-anak yang mengalami kasus gizi buruk, gizi kurang dan stunting.

  “Selama ini kami bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk membuat seminar, maupun sosialisasi dengan bekerjasama dengan semua pihak,” tutur dr James.

  Yang menjadi fokus utama IDAI Papua selama ini kata dr. James, pihaknya telah membuat program1000 hari pertama kesehatan. “Melalui program ini kami terus berupaya mensosialisasi akan pentingya asupan gisi bagi ibu hamil saat 1000 hari pertama sejak janin dalam kandungan,” ujarnya.

  Untuk mengatasi kasus stunting kata di tidak bisa hanya mengatasi anak anak, tetapi sejak konsepsi, atau pertumbuhan janin dalam kandungan, asupan gizi menjadi kewajiban pokok bagi seorang ibu hamil.

  “Penyelesaian kasus stunting ini harus ditangani secara kompherensif, dan berkesinambungan, jadi tidak cukup hanya dokter anak, tetapi harus kerjasama dengan dokter kandungan, kemudian dengan bidan yang ada serta pemerintah setempat untuk menyiapkan generasi emas sejak dari dalam kandungan sampai 2 tahun pertama kehidupan,” jelas dr James. (rel/tri) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: