Sudah Ada Sejak Pulau Terbentuk,  Pisah Setelah Beda Keinginan

By

Penjabat Bupati Sarmi Markus Mansnembra dan Dandim 1712/Sarmi Letkol Inf Emmanuel Setyo Kristiawan dan rombongan foto bersama di depan batu perempuan, Rabu (19/10) pekan lalu. (FOTO: Agung Tri Handono /cenderawasih Pos )

Mengunjungi Batu Perempuan, Salah satu Cerita Legenda di Pulau Anus Kabupaten Sarmi 

Pulau Anus, yang termasuk salah satu gugusan dari Pulau Tiga di Kabupaten Sarmi memiliki cerita legenda, dimana ada batu perempuan, konon katanya batu perempuan itu merupakan jelmaan dari seorang perempuan yang dikutuk. Bagaimana kisahnya? 

LAPORAN: WENY FIRMANSYAH

Cerita tentang batu perempuan atau batu vandesa sudah terkenal di kawasan Pulau Tiga, khususnya di Pulau Anus, Yarsun dan Podena. 

 Ya, mirip-mirip dengan cerita legenda Malin Kundang di Sumatera Barat yang akhirnya dikutuk menjadi batu karena durhaka terhadap orang tua (ibu).

 Nah, cerita tentang dua insan manusia tersebut dibenarkan oleh tetua adat di Pulau Anus Philemon Saweri.  Cenderawasih Pos bersama rombongan penjabat Bupati Sarmi Markus O Mansnembra mendatangi batu terebut.

 Untuk menuju ke batu perempuan. Masyarakat bisa menuju ke pantai Podema di Distrik Bonggo Barat, dari situ membutuhkan waktu sekira 30 menit untuk sampai ke pulau Anus. Setelah sampai pulau Anus, rombongan harus menempuh perjalanan cukup jauh dari bibir pantai.  Butuh sekira 20-30 menit untuk sampai ke lokasi tersebut. 

 Ya, sepertinya yang punya hobi hiking, kawasan tersebut sangat cocok, pasalnya di sepanjang perjlanan banyak pohon-pohon, dan dahan-dahan pohon hampir menutupi jalan setapak.  

 Begitu tiba di depan batu perempuan, tetua adat di Philemon Saweri membasuh muka Penjabat Bupati Sarmi Markus Mansnembra dan Dandim 1712/Sarmi Letkol Inf Emmanuel Setyo Kristiawan, sebagi tanda orang yang berkunjung ke batu perempuan. 

 Pj Bupati Sarmi dalam kesempatan itu mengatakan maksud dan tujuan kedatangannya bersama rombongan adalah untuk menata kawasan batu perempuan agar dpat dikunjungi oleh wisatawan. “Izin kami pemerintah akan menyediakan tempat duduk, supaya nanti masyarakat bisa ke sini dengan nyaman,”katanya. 

” Sebenarnya kami ingin menyampaikan kepada dunia luar bahwa nenek vendesa (batu perempuan) memang ada di atas pulau ini, begitu pula dengan pasangannya, kita berharap sesuai dengan rencana yang telah kita bicarakan, nanti kalau ada festival wisata seni dan budaya Sarmi bulan Juni nanti nenek vendesa salah satu objek yang akan dikunjungi, kita berharap nantinya dengan wisatawan yang kesini juga menjadi berkat bagi masyarakat yang ada di pulau anus,”kata bupati. 

 Tetua adat Philemon Saweri kepada Cenderawasih Pos menjelaskan bahwa cerita tentang batu perempuan itu sudah ada sejak turun temurun. Dia mengatakan Vendesa (perempuan) dan Meterive (laki-aki) sudah ada sejak terbentuknya gugusan pulau tiga.

 Awalnya mereka hidup bersama di pulau tersebut, namun dalam perjalanan Vandesa ingin menanam Ketapang di pulau Anus, sedangkan sang pria Meterive ingin menanam Sagu di pulau Yarsun ( letaknya tak jauh dari pulau Anus). 

“Kitong punya orang tua dulu cerita mereka dulu sudah ada bersama dengan pulau Anus dan Yarsun, mereka tinggal sama-sama, tapi dalam perjalanan perempuan ingin menanam ketapang, laki-laki ingin menanam sagu, karena itu laki-laki turun ke pantai dan menyeberang ke sebalah (pulau Yarsun), disana dia bikin rawa, lalu menenam sagu disitu. Makanya di Pulau Anus yang ada hanya ketapang, sedangkan sagu ada di sebelah (pulau Yarsun), dan air juga banyak di situ.

 “Setelah laki-laki menanam sagu, dia ingin kembali ke pulau Anus namun, sang perempuan malah marah mengusirnya dan meminta Meterive tinggal saja dipantai. Ko tidak usah kembali kesini, tinggal saja di pantai, akhirnya mereka berdua cerai. Dan Vandesa akhirnya tinggal di hutan untuk menjaga dia punya ketapang-ketapang yang banyak di pulau ini (Anus),”  kata Philemon 

 Tentang banyaknya rumah kosong di Pulau Anus, Philemon mengatakan banyak rumah kosong karena warga sementara pindah ke darat, karena menemani anak-anak sekolah di darat, warga akan kembali nanti setelah anak-anak libur sekolah. ” Di pulau ini ada 30 KK dan jumlah penduduk ada 80 jiwa,” bebernya. 

 Dia mengatakan perkawinan Vandesa dan Meterive menghasilkan keturunan yang marganya adalah Saifkoi, Saweri, Nonofur, Naoonik, Saba, Mansi dan Dirsauw. “Tujuh marga tersebut asal muasalnya dari pulau ini,” jelasnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: