Sudah Punya Tiga Kampung Anggrek, Berdayakan Petani Kembangkan Anggrek

By

Melihat Pelaksanaan Papua Orchid Show di Holtekamp

Tanah Papua memiliki berbagai macam kekayaan alam flora mapun fauna , baik itu yang berada di lautan, pegunungan maupun di hutan.  Dan Anggrek Papua memiliki keunggulan, apa keunikan dan keindahan anggrek Papua ? 

Laporan: RAHAYU 

 Kekayaan alam, kekayaan kebudayaan dan keberagaman merupakan asset yang tak ternilai harganya. Salah satu yang menjadi kebanggaan tanah Papua adalah tanaman anggrek. Orchidaceae atau nama ilmiah anggrek merupakan suku tumbuhan berbunga dengan anggota jenis terbanyak. Jenis-jenisnya tersebar luas dari daerah tropika basah hingga wilayah sirkumpolar, meskipun sebagian anggotanya ditemukan di daerah tropika. 

 Kebanyakan anggota suku ini hidup sebagai epifit, terutama yang berasal dari daerah tropika. Sejauh ini telah teridentifikasi sekitar 750 famili, 43.000 spesies dan 35.000 varietas hibrida anggrek dari seluruh penjuru dunia. Indonesia sendiri sekurangnya memiliki 5000 jenis spesies anggrek, dan kurang lebih 2500 spesies anggrek tersebar di hutan Papua, tidak salah jika ada ungkapan bahwa, tanah Papua merupakan “surga kecil yang jatuh ke bumi”, dan anggrek spesies Papua merupakan salah satu bagian dari kekayaan alam yang terdapat dalam “surga kecil” itu. 

 Manifestasi dari kehadiran anggrek Papua ditengah kehidupan masyarakat bukan saja dapat dinikmati dari sudut pandang estetika, tapi juga dari sudut pandang ekonomi yang dapat memberikan nilai tambah tersendiri. Hal tersebut dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap pesona dan keindahan anggrek-anggrek yang ada di dunia khususnya spesies anggrek dari Papua. 

 Dalam rangka menjaga, melestarikan anggrek Papua itulah, maka Dewan Pengurus Daerah Perhimpunan Anggrek Indonesia (DPD-PAI) Provinsi Papua, sebagai salah satu wadah resmi yang memberikan dan berkontribusi yang sangat besar dalam peranggrekan dan juga kepada petani anggrek di tanah Papua, menyelenggarakan Papua Orchid Show (POS) 2021 yang merupakan salah satu kegiatan DPD-PAI Provinsi Papua dalam memamerkan anggrek spesies Papua kepada masyarakat pecinta anggrek yang digelar di Pantai Holtekamp Kota Jayapura, sejak 02-06 Oktober. 

 Acara tersebut dihadiri 42 peserta dari DPD, DPC dan organisasi pecinta anggrek, 16 dari non Papua dan 26 lainnya dari Papua. Turut mengundang DPD Jambi, kelompok pecinta anggrek Jambi, DKI Jakarta, natural painting khusus melukis anggrek, Bandung, Magelang, Jogja, Salatiga, Wonosobo, Kalimantan Selatan, Kabupaten Tanah Laut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

 Idha Sadi Reyaan salah satu peserta dari stand Jayawijaya, Wamena menghadirkan 11 spesies anggrek antara lain yang khas adalah Dendrobium Alexandrae, Paphiopedilum Welhelmina (seperti kantung semar), Dendrobim Vilister asli Wamena, Phreatia SP atau Anggrek padi yang tumbuh di tanah, Obol bon, Pandang bellium yang terlihat unik seperti bunga gladior dan di dalamnya seperti ada anak tikus. Tanaman ini Asli dari Jayawijaya Wamena.

 Dirinya menyampaikan cara merawat tanaman anggrek saat dijadikan tanaman untuk menghias rumah tidak susah. Sama seperti merawat diri kita sendiri. Harus ada minumnya, harus ada makannya. “Kalau tanaman anggrek khusus dari Jayawijaya kadang kalau di hutan ada, tumbuh saja. Diatas batu melekat di kayu. Tapi kalau kita rawat dirumah, seperti biasanya kalau kita petani sederhana bisa siram saja setiap minggu 2 kali atau 3 kali kalau cuaca terlalu panas kita beri vitamin dari air beras. Mungkin 2 minggu sekali.” Ujarnya kepada Cenderawasih Pos. 

 Pelaksana tugas sekretaris daerah (Plt Sekda) Kabupaten Tolikara, Palangsong Latuconsina yakin Anggrek asal Papua bisa naik kelas. “Ini tanggungjawab kita. Jadi kita harus mendorong supaya anggrek ini naik. Jangan hanya harga Rp150.000 kalau bisa kita dorong kita promosikan. Supaya harganya itu bisa harga Rp 5 juta Rp 10 juta. Karena ini sangat mahal.” Terangnya. Dirinya yakin sebab daerah Papua khususnya Tolikara memiliki potensi besar dibidang tanaman anggrek. Dengan juara umum yang pernah diraih pada acara Papua Orchid Show tahun lalu. Hingga melenggangnya anggrek asli Tolikara sampai pada tingkat Nasional di Jakarta beberapa waktu lalu.

Membuat palangsong semakin bertekad agar anggrek Papua dapat naik kelas. Dirinya memberikan semangat, mengajak semua pejabat Papua untuk ikut mengembangkan serta mempromosikan anggrek asli Papua ini agar dikenal masyarakat luas. “Untuk mengembangkan titik komoditi unggulan, anggrek kita ini sangat kita banggakan untuk mengangkat nama daerah baik itu dari DPC kabupaten-kabupaten, maupun dari DPD dari Provinsi Papua.” Ujarnya.

Salah satu upaya yang telah mampu dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tolikara adalah menyediakan tempat untuk pengenalan anggrek. “Jadi kita sudah ada 3 kampung anggrek. Untuk pemberdayaan masyarakat kita petani anggrek. Mengembangkan anggrek dengan membentuk kampung anggrek.” Terangnya.

Sebab Tolikara sendiri memiliki banyak spesies anggrek tanah unggulan, dan yang banyak ditemui adalah anggrek tanah berbatang merah. Hal ini juga di sebabkan dengan letak geografi Tolikara yang rata-rata adalah daerah ketinggian. Dengan dataran tinggi sehingga memiliki daerah dingin. Namun juga memiliki beberapa daerah panas. Di daerah panas di Tolikara juga mulai dikembangkan wisata flora. “Kita mulai pengembangan wisata. Ada kampung kopi, serta kampung tanaman hias.” Ujarnya.

Dirinya juga mengajak semua masyarakat untuk merawat anggrek khas Papua. “Mari pelihara. Rawat anggrek kita. Karena ini yang bisa kasih kita uang. Ini komoditi yang sangat membanggakan sekali dan mudah-mudahan kedepan bisa merubah kehidupan kita. Merubah kesejahteraan. kita punya motto tangan goyang, mulut goyang kantong goyang,”tandasnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: