Sunyi Sepi Tanpa Berpenghuni, Masyarakat Kiwirok Ingin Kembali

By

Distrik Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang pasca konflik pada September 2022 lalu. Kini distrik ini nyaris tanpa berpenghuni, Jumat (4/11) (FOTO: Ginting/Cepos)

Melihat Lebih Dekat Distrik Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang Pasca  Konflik

Seperti apa keadaan Distrik Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang pasca  konflik pada September 2021 Tahun lalu?

Berikut Laporan: A. B. Ginting – Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang

Ya, sunyi, sepi dan tanpa berpenghuni mungkin itulah kata yang tepat untuk mengambarkan Distrik Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang saat ini. Di Kampung Pulubakon yang menjadi ibu kota distrik Kiwirok tidak ada aktivitas masyarakat sama sekali hanya menyisakan kesunyiaan ditengah bandara, rumah kosong, bangunan yang ditinggal penghuninya dan bendera merah putih.

Cenderawasih Pos yang tiba pada Kamis (3/11) bersama Danrem 172/PWY J.O. Sembiring menggunakan Helikopter MI 17 Milik TNI AD yang berangkat dari Bandara Sentani tiba di landasan kecil di Distrik Kiwirok yang dijaga ketat oleh Personel Satgas Yonif 143/TWE diatas bebukitan pada Pukul 09:00 WIT setelah sebelumnya menempuh penerbangan kurang lebih 60 menit.

 Sebelum memasuki landasan yang hanya 3 meter persegi dengan landasaran karung yang berisi tanahk itu terlihat Personel diatas heli langsung mengeluarkan senjata sambil sigap melihat disekelilingnya dan begitu mendarat heli hanya medarat tidak lebih dua menit dan hanya menurunkan bawaan dan penumpang dan kembali terbang. Maklum tempat ini dijaga  Kelompok Kriminal Sipil Teroris (KST) pimpinan Lamek Taplo dan puluhan simpatisannya yang mengancam setiap detiknya.

 Begitu mendarat, Cenderawasih Pos yang menggunakan rompi anti peluru dan helm tempur bersama Brigjen JO Sembiring dan beberapa Personelnya langsung lari kebagian depan heli. Landasan heli sendiri dijaga ketat oleh Personel Yonif 143/TWE dengan perlengkapan senjata lengkap dan sigap menjaga landasan tersebut bahkan ada yang merayap diantara rerumputan berduri itu.

 Setelah heli kembali terbang tanpa ada gangguan oleh KST. Danrem JO Sembring langsung melakukan rapat tertutup bersama Yonif 143/TWE, Satgas Damai Kartens, Satgas Mandala dan Personel Koramil Kiwirok untuk menhambil langka bagaimana cara mengembalikan masyarakat Kiwirok yang keluar dari Distrik tersebut pasca  konflik pada September 2022.

 Setelah melakukan rapat tertutup, Danrem Jo Sembiring kembali melakukan persiapan patroli di  Kampung Polobakon Ibu Kota Distrik Kiwirok ini. Patroli harus dilakukan dengan super hati-hati dan persiapan yang baik pula, karena diperbukitan satunya yang berjarak 1,5-2 Kilo Meter yang dipisahkan oleh sungai ada kelompok KST Lamek Taplo yang juga selalu berjaga dan mengancam nyawa personl bila lalai dalam menjalankan tugas.

 Danrem JO Sembiring langsung memimpin patroli tersebut dengan menuruni bebukitan langsung terlihat belasan rumah guru SD dan SMP Kiwirok yang ditinggalkan dimana terlihat banyak buku, pakaian dan perlengkapan rumah lainnya yang ditinggal begitu saja dan bahkan terlihat mesin jahit dan mesin ketim ditinggal berdebu. Diantara rumah tersebut ada yang terbakar habis yang dibakar kelompok Lamek Taplo pada September 2022 lalu.

 Setelah itu di kampung yang sunyi tim memasuki SD Kiriwirok dan Cenderawasih Pos sempat masuk kesalah satu kelas dan terlihat banyak sekali buku tulis, buku pelajaran, bangku, kursi, papan tulis dan perlatan sekolah lainnya yang ditinggal begitu saja. Maklum pada saat kerusuhan konflik tahun lalu itu dalam dua hari saja Distrik tersebut langsung kosong dan menyisakan TNI/Polri dan kelompok KST Lamek Taplo.

 Setelah memasuki SD Kiwirok, tim kembali masuk ke SMP Kiwirok. Di sekokah ini juga tidak berbeda jauh dari SD Kiwirok yang terlihat ditinggal begitu saja, tetapi SMP ini ada bagian yang habis terbakar. Melihat keadaan ini Danrem Jo Sembiring sempat terlihat menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya akibat konflik tersebut ratusan masyarakat Asli Kiworok harus meninggalkan tempat tinggalnya, pertaniannya, rumahnya, ternaknya dan bahkan tempatnya dimana masyarakat itu sendiri dilahirkan dan dibesarkan.

 Kemudian tim kembali melanjutkan perjalannya dengan menyusuri rumah-rumah warga yang ditinggal begitu saja, berdebu, rumput yang hampir menutupi rumah dan bahkan ada yang sudah hampir roboh akibat tidak dijaga.

 Setelah menuruni bebukitan curam itu sampailah tim di Bandara Utama Kiriwirok dan terlihat bandara yang hampir mencapai 500 meter ini dan memiliki landasan dengan aspal yang baik terlihat sudah mulai ditumbuhi remputan panjang. Diseberang landasan ada Puskesmas Kiwirok yang hangus dibakar KST Lamek Taplo dan Puskesmas inilah menjadi saksi bisu satu Tenaga Kesehatan waktu atas nama Gabriela harus kehilangannya nyawanya dan 5 lainnya luka-luka bahkan ada yang terkena luka tusukan.

 Disebelahnya ada Lapangan Sepak Bola yang dulunya digunakan para pemuda untuk bermain bola itu kini terlihat tidak terurus dan penuh dengan rumput, Bank Papua perwakilan Kiwirok juga rata dengan tanah pasca  dibakar dan hanya ada satu bangunan kokoh terlihat yakni Gereja GIDI Kiwirok.

 Setelah menyusuri bandara, tim singgah melihat keberadaan Personel Koramil Kiwirok tang bersebelahan langsung dengan Satgas Damai Kartenz dan setelah memberikan arahan dan beristirahat, rombongan kembali mendaki perbukitan selama 45 menit guna kembali ke Pos Yonif 143/TWE dan Tim Mandala.

 Ditempat ini tanpa jaringan seluler dan internet, tanpa masyarakat umum, tanpa pasilitas umum, tanpa warung atau toko Personel TNI/Polri harus bertahan hidup dan dengan ketinggian yang dingin dapat mencapai 8 derajatselcius Personel harus bertahan hidup dan bahkan sewaktu-waktu bahan makanan mereka dapat terlambat dikirimkan akibat cuaca yang tidak menentu didaerah ini atau akibat helikopter milik TNI/Polri masih beroperasi di tempat lain. Namum tentu semua kekurangan dan keminiman tersebut tidak membuat personel yang ada disana putus semangat. Mereka tetap menjalankan tugasnya guna menjaga Negara.

 Bahkan ditempat ini makan dengan telur goreng dan sayuran togepun sudah terbilang mewah karena sehari-harinya Personel di daerah ini makan Ransum milik TNI atau bahkan hanya nasi putih saja. Saat Cenderawasih Pos dan Danrempun hanya dijamu dengan nasi toge, kacang panjang dan ayam hutan yang berhasil ditangkap.

 Selain itu untuk tidurpun Personel disini hanya beralaskan matras tipis dengan kamar seukuran satu kali dua meter, dengan selimut seadanya dan ditemani senjata lengkap dengan rompi dan HT (Handy Talky) menempel di telinga. Airpun menggantungkan dengan air hujan, masak dengan tungku dan ditemani kesunyian bebukitan yang bila lengah kapan saja bisa kehilangan nyawanya.

 Ditempat ini gula-gula atau permen, roti dan makanan lainnya yang biasa di kota kita temui terlihat begitu istimewa karena sama sekali tidak ada diperjual belikan dan tranportasi ketempat ini hanya helikopter yang menggantungkan bisa mendarat faktor cuaca dan gangguan KST Lamek Taplo yang terlihat dari Pos Yonif 143/TWE yang diperkirakan hanya 1,5 Kilo Meter. Dimana kedua belah pihak saling berjaga menggunakan helem dan rompi antipeluru. Kedua belah pihak ini diatas dua bebukitan yang hanya dipisahkan jurang yang dibawahnya mengalir air.

 Pada malam haripun penerangan lampu dengan solarcelpun hanya dihidupkan selama dua jam dari Pukul 18:00-20:00 WIT, pada saat inilah personel mengecal HT atau keperluan lainnya dan setelah itu hanya ada lampu di penjagaan menghadap rerumputan agar bila ada penyusup akan terlihat.

 Malam haripun didaerah ini sangat dingin. Persobel tidur hanya diatas papan beralaskan karpet, kasus dua centimeter dan selimut seadanya. Mereka hanya dibantu baju panas seadanya. Malam haripun personel tidak akan tidur nyenyak karena setiap waktu was-was akan diserang KST dan juga harus berpartroli menjaga markas dua jam sekali. Namun mereka tidak terlihat lelah karena personel ini mengerti betul bahwa yang mereka lakukan adalah pengabdian diri.

 Danrem 172/PWY Brigjen JO. Sembiring kepada Cenderawasih Pos mengatakan bahwa pihaknya bersama Polri akan bekerja keras bagaimana agar masyarakat dapat kembali kekampung halamannya dimana masyarakat itu dilahirkan dan dibasarkan yakni di Distrik Kiwirok.

 “Hari ini kita telah tiba di Kiwirok dan kunjungan saya hari ini adalah untuk memberikan semangat moril kepasa prajurit saya sekaligus memberikan penekanan kepada mereka terkait tugas yang dilaksanakan dan selain itu saya kesini atas permintaan Bapak Bupati Pegunungan Bintang dimana beliau berharap sekali agar masyarkat Kiwirok yang pada bulan September tahun lalu keluar dari Kiwirok ini,”Ungkap Danrem 172/PWY Brigjen JO Sembiring di Kiwirok

 Danrem menambahkan diketahui bersama masyarakat keluar dari Diatrik Kiwirok pada September Tahun 2022 Pos TNI/Polri diserang dan kemudian terjadi pembakaran Puskesmas Kiwirok, Bank Papua, Sekolah dan lainnya. Bahkan saat itu ada tenaga medis yang ditembak oleh KST Pimpinan Lamek Taplo dan ditambah anggota TNI/Polri yang gugur.

 “pasca  kejadian tersebut masyarakat ketakutan dan setahun dua bulan masyarakat ini tidak menempati rumah-rumahnya, kita lihat disekitar sini sepi, rumah kosong, pertanian dan ekonomi sama sekali tidak berjalan,”tambahnya.

 Danrem menambahkan Bupati Pegunungan Bintang mengharapkan harus ada upaya bagaimana bisa agar masyarakat Kiwirok yang ada di Oksibil dan sekitarnya dapat kembali ke Kiwirok kampung halamannya dan meyakan Natal tahun ini di Kiwirok.

 “Atas perintah pak Pangdam saya berkordinasi dengan teman-teman Polri dan kami sudah sepakat bagaimana kita kembalikan masyarakat. Tapi kondisi tempat ini juga seperti tidak semudah kita bayangkan,”Katanya.

 Dimana Kiwirok terdiri dari ketinggian yang mengakibatkan pesawat dan helikopter rentan masuk sementara jalur tranportasi darat sama sekali tidak ada. Bahkan beberapa waktu lalu menurutnya ada pesawat yang mendorong masuknya logistik yang ditembak kembali dan ini yang membuat penerbangan sipil sampai sekarang belum berani masuk ke Kiwirok.

 Oleh sebab itu pihaknya menargetkan yang pertama adalah bagaimana mengamankan jalur masuk pesawat sehingga pesawat sipil berani masuk. Karena menurut Sembiring jika masyarakat sudah ada di Kiwirok namun pesawat belum bisa masuk maka bantuan-bantuan dari Pemda tidak akan dapat disalurkan dan pembangunan akan terhambat.

 Sementara itu Danrem JO Sembiring mengenai masih adanya KST Yang mengganggu keamanan di Kiwirok, Ia menghimbau Kelompok Lamek Taplo untuk mendukung rencana pemulangan masyarakat Kiwirok tersebut.

 “Saya Danrem 172/PWY JO Sembiring kepada saudara saya Lamek Taplo menghimbau mari sama-sama membantu masyarakat Kiwirok dan jaga masyarakat kita. Kasian ini masyarakat yang sudah setahun lebih tidak melihat rumahnya, kampungnya, kebunnya dan mereka ini ingin maju dan kembali ke Kiworok. Oleh karena itu saya menghimbau mepada saudara saya Lamek Taplo dan teman-teman ya untuk mendukung pembangunan di Kiwirok ini,”Katanya.

 Ia juga meminta untuk menghentikan kekerasan dan semoga pada bulan Desember ini warga Kiwirok yang keluar agar dapat merayakan Natal Tahun ini di Kiwirok bersama dan merasakan damai Natal.  “Tahun depan kita ada rencana untuk membangun di Kiwirok dan Bupati sendiri berkomitmen membangun Distrik ini,”bebernya.

 Mengenai jumlah masyarakat Kiwirok yang ingin kembali menurutnya berjumlah sekitar 370 orang yang tidak hanya di Diatrik Oksibil namun tersebar di beberapa distrik lainnya.  “Data dari Polri yang ingin kembali dulu itu 50 masyarakat dan kita akan lihat petkembangannya dan yang ingin kita pastikan adalah bagaimana masyarakat merasa aman dulu di Distrik ini. TNI/Polri siap menjaga warga di Kiwirok ini. Saya minta juga Lamek Taplo jangan menembaki pesawat komersil karena ini menunjukkan di dunia Internasional bahwa kita ini tidak bermartabat dan ini bisa menjadi insiden,”Tegasnya.

 Ia juga memastikan bahwa saat ini tidak ada lagi tenaga medis, guru dan masyarakat dan semua keluar.

 Sementara itu Bupati Pegunungan Bintang Spei Yan Bidana, ST. M.Si menegaskan untuk memulihkan kembali Distrik Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang pasca  terjadinya konflik pada September 2021 dibutuhkan bantuan Pemerintah Provinsi Papua dan juga Pemerintah Pusat.

  “Kami di daerah terbatas dan kami sudah lakukan berbagai upaya dan kami harap harus ada dukungan dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat untuk bangun kembali SD, SMP, Puskesmas dan pasilitas umum lainnya agar masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa,”Ungkapnya kepada Cenderawasih Pos melalui selulernya, Jumat (4/11).

 Dirinya berharap ditahun 2023 upaya untuk mengembalikan masyarakat dapat berjalan dengan baik, maka itu Ia meminta peran Pemerintah Provinsi dan juga Pemerintah Pusat untuk membangun Kiwirok kembali.   “Kita ingin pasitas umum itu dibangun kembali dan masyarakat masuk dan aktivitas dapat berjalan seperti biasa,”Ungkapnya.

 Dirinya menegaskan masyarakat Kiwirok yang sempat keluar ke Oksibil dan distrik lainnya berkomitmen untu kembali ke kampungnya, oleh sebab itulah dirinya meminta pihak TNI/Polri dapat memastikan keamanan di Distrik tersebut agar masyarakat dapat kembali seperti biasa.

“Harapan kami bahwa kita punya keluarga, saudara Lamek Tapol tidak boleh ganggu karena kasian kita punya rakyat. Biarkan rakyat kembali dan membangun dan dapat menjalani kehidupannya. Kasian sekali sekali masyarakat kita sekarang karena pertanian, peternakan mereka selama setahun ini sudah terabaikan,”Pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: