Tak Perlu Pohon Besar, Cukup Tanaman kecil Berwarna-warni

By
Lokasi Taman Imbi, yang menjadi jantung Kota Jayapura, sayang meski pernah direnovasi namun kondisi taman tersebut seperti tak terurus. Dalam waktu dekat, Pemkot akan merehabilitasi taman imbi sebagai wujud mendukung PON XX. ( FOTO: Gamel/ Cepos)

Mendengar Pemikiran Akademisi Terkait Rencana Rehabilitasi Taman Imbi Jayapura

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura 

Bisa dibilang lokasi ini menjadi titik nol di Kota Jayapura. Menjadi pusatnya jantung kota, namun sayang lokasinya sempat tak terawat. Kumuh, tak nyaman, dan kotor. Taman Imbi menjadi satu wajah yang tak bisa diabaikan jika berbicara Kota Jayapura. Pasalnya di lokasi ini menjadi satu tempat bersejarah bagi ibu kota provinsi Papua ini karena 1 Mei 1962 hanya beberapa meter dari lokasi taman dikibarkan bendera  merah putih, bendera PBB dan Bintang Kejora. 

 Tak jauh dari lokasi taman juga masih berdiri beberapa gedung bersejarah lainnya semisal gedung kesenian, gereja pengharapan, kantor DPRP termasuk gedung Sarinah.  Di lokasi ini juga setahun kemudian  atau di tahun 1963 kabarnya Presiden Soekarno didampingi Kol Sabur yang merupakan Komandan  Pasukan Pengamanan Presiden melakukan kunjungan pertamanya ke Jayapura. Hanya sayangnya jika dilihat kondisinya saat ini meski berdiri patung sejarah Yos Sudarso yang ikut berperang memperjuangkan kembalinya  Irian Barat ke Indonesia berdiri kokoh namun di bawahnya justru terlihat jorok. 

 Padahal di bagian depan bangunan berbentuk air mancur ini ditulis sejumlah nama anggota TNI yang ikut menjadi saksi sejarah dan gugur saat itu. Bangunan melingkar yang sebelumnya  diperuntukkan menjadi cafe ini kini terbiar dan rusak. Banyak sampah plastik bahkan ada juga kotoran manusia. Nah dari rencana perbaikan taman imbi ini  salah satu akademisi Uncen, Dr Alfred Antoh S.Hut, M.SI memberi masukan. Ia berharap perbaikan taman Imbi bisa mengembalikan fungsi taman sebagaimana mestinya. 

 Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Sumberdaya Alam dan Energi, Uncen ini mengingatkan agar pemerintah tak melupakan konsep ruang terbuka hijau (RTH) dimana dalam pembangunan, pemerintah harus menyiapkan 30 persen  luas kawasan kota untuk RTH. Alfred Antoh menyarankan untuk pekerjaan Taman Imbi   ini perlu memikirkan dua hal. Pertama taman bisa dibuat lebih modern namun tetap mengkonsep RTH. Lalu kedua histori dari taman ini sendiri agar jangan sampai tercerabut. “Saya pikir dua hal ini dulu yang perlu dipikirkan, harus diakui jika Jayapura belum menjawab soal RTH  karena ada taman tapi belum bisa memenuhi syarat untuk kategori RTH. Lalu banyak penataan bangunan yang  menyalahi sehingga perbaikan harus tetap mengikuti aturan,” kata Alfred melalui ponselnya, Kamis (30/1).

 Lalu untuk taman di Jayapura kata Antoh ternyata banyak persoalannya. Ini lebih pada aspek kenyamanan. Lokasi taman termasuk Imbi tempatnya bagus dan strategis tapi banyak yang mengkonsumsi minuman keras, ada aktifitas  narkoba dan kotor sehingga banyak hal yang perlu disentuh tak hanya  fisik tetapi juga karakter manusianya. Alfred menyarankan bahwa persoalan karakter yang tak sehat ini perlu melibatkan tokoh agama untuk melakukan pembinaan.

 RTH menjadi sarana publik yang bisa dimanfaatkan untuk keluarga tapi pesan ini hilang karena ketidaknyamanan tadi. Kenyamanan menjadi hal yang tak bisa dikesampingkan. “Jika ini bisa dilakukan saya pikir pelan-pelan ruang ini akan kembali pada fungsinya. Orang takut selama ini takut nongkrong di taman dan berlama-lama termasuk ragu membawa keluarga karena ada kegiatan seperti itu (miras-narkoba),” bebernya.

 Alfred kembali menegaskan bahwa  untuk Kota Jayapura  hingga kini kebutuhan RTH belum dijawab sepenuhnya padahal pengamatannya ada banyak tempat yang bisa difungsikan semisal pinggiran kali atau sungai. Alfred mencontohkan pinggiran Kali Anafree yang dianggap cukup luas dan bisa digarap.  “Disini kiri kanan kali bisa dipakai untuk botanical garden. Tapi konsep hijau dipinggiran sungai bisa dikembangkan tapi saat ini kebanyakan rumah dipinggiran sungai justru membelakangi sungai yang akhirnya sampah juga ikut dibuang begitu saja. Coba lihat  kali-kali atau sungai di daerah maju. Mereka tata seapik mungkin dan ini bisa dilakukan untuk Jayapura,” jawabnya. 

 Daerah pinggiran sungai masih bisa dioptimalkan jika pemerintah ingin menggarap meski sebaiknya letak kiri – kanan lokasi diberi ruang paling tidak 50 meter. Namun kata Antoh ini bisa menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Ia juga menyarankan untuk Taman Imbi tak lagi menggunakan pohon yang berukuran besar karena akan terlihat tak menarik mengingat luas Taman Imbi sendiri  tak seluas alun-alun layaknya kota-kota besar di Jawa. Bisa mengerapkan taman tematik. “Saran saya seperti itu, pohonnya dikurangi dan jangan yang besar-besar. Bisa menggunakan pohon yang lebih kecil semisal anggrek atau tanaman tematik dengan tipe semai dan herbal, kalau bisa diutamakan jenis lokal. Kalau pohon besar saya pikir kurang bagus karena daya dukung tanah juga tidak bagus,” tambahnya . 

 Tanaman tematik biasanya identik dengan tanaman kecil berwarna warni dan bisa diganti. “Misal tiga bulan warnanya diganti sehingga orang tak bosan. Saya pikir dinas lingkungan hidup harus kreatif memikirkan ini,” tambahnya. Lalu menyangkut bangunan toilet yang ada di lokasi, kata Alfredjika melihat luasan taman, sejatinya taman yang baik memang menyiapkan sarana toilet namun jika melihat luasan lokasi, disarankan untuk tidak membuat  bangunan yang berukuran besar dan memakan tempat. “Bisa gunakan toilet minimalis dan itu dijaga oleh petugas penjaga taman atau biasa disebut ranger park,” pungkasnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: