Beranda NASIONAL Tambah Kapasitas Mina, Saudi Bakal Ratakan Gunung

Tambah Kapasitas Mina, Saudi Bakal Ratakan Gunung

0
Jamaah haji indonesia kloter 1 SUB, mengibarkan bendera merah putih sebagai simbol hut kemerdekaan republik indonesia ke 74 tahun, saat berjalan memasuki terminal bandara king abdul aziz jeddah, Sabtu (17/8). Mulai sabtu 17 agustus, jamaah haji indonesia diberangkatkan pulang ke tanah air. (Darmawan/PPIH Arab Saudi)
Jamaah haji indonesia kloter 1 SUB, mengibarkan bendera merah putih sebagai simbol hut kemerdekaan republik indonesia ke 74 tahun, saat berjalan memasuki terminal bandara king abdul aziz jeddah, Sabtu (17/8). Mulai sabtu 17 agustus, jamaah haji indonesia diberangkatkan pulang ke tanah air. (Darmawan/PPIH Arab Saudi)

*Dikebut Setelah Musim Haji 2019 Selesai

MAKKAH, Jawa Pos – Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan rencana besar terkait perluasan Mina. Setelah musim haji 2019 ini selesai, mereka bakal meratakan gunung yang ada di Mina. Diperkirakan dengan upaya ini bisa menambah daya tampung Mina sebanyak 70 ribu jamaah lebih.

Kontur Mina memang berupa lembah. Diapit sejumlah gunung atau bukit. Mulai dari gunung di sekitaran Jamarat. Hingga gunung-gunung yang ada di Mina Jadid. Diperkirakan dari seluruh luas Mina, 40 persen diantaranya berupa gunung.

Sebelumnya Saudi sudah membelah gunung di depan kantor Daerah Kerja Makkah yang tidak jauh dari Jamarot. Gunung itu dibelah untuk dijadikan jalan raya. Sehingga akses menuju Jamarat semakin banyak. Sehingga jamaah yang tinggal di hotel-hotel daerah Syisyah tidak harus melalui terowongan saat menuju Jamarat atau Mina.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Endang Jumali menuturkan informasi proyek besar pemugaran gunung itu disampaikan saat dia bertemu dengan perwakilan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi di Awali. Dia menjelaskan Kementerian Haji dan Umrah cabang Awali memiliki fungsi proses masyair (Arafah, Mudzalifah, dan Mina).

’’Saya bertemu beberapa penasehat Menteri Haji dan Umrah yang menangani masyair. Dibahas bagaimana perencana ke depan,’’ katanya kemarin (20/8). Endang menuturkan Arab Saudi sudah memiliki rencana untuk jamaah Indonesia terkait pelaksanaan mabit atau bermalam di Mudzalifah dan Mina.

Untuk di Mina pihak Arab Saudi akan melakukan pemugaran gunung untuk menambah kapasitas. Gunung yang bakal diratakan berada di sekitaran tenda-tenda di Mina Jadid. Proses pemugaran gunung itu dilakuan tahun ini juga. Setelah selesai musim haji 2019.

’’Secara teknis proses pemugaran dimulai dari sisi luar gunung,’’ tutur Endang. Proses ini dilakukan supaya pemugaran tidak menganggu atau merusak tenda-tenda dan jalan yang sudah ada. Dia mendapatkan informasi pada tahap awal pemugaran gunung tersebut, bisa menambah kapasitas Mina sebanyak 70 ribu jamaah.

Upaya lain untuk menambah kapasitas jamaah haji Indonesia dilakuan di Mudzalifah. Endang menjelaskan pemerintah Arab Saudi akan menyediakan tempat tambahan di Mudzalifah. Yakni menggunakan area yang semula digunakan oleh sejumlah negara dari benua Afrika. Sementara untuk di Arafah belum ada agenda terkait penambahan kapasitas. Untuk diketahui kondisi di Arafah relatif lebih leluasa dibandingkan di Mina atau Mudzalifah.

Dalam pertemuan tersebut Endang menuturkan sudah ada komitmen dari pemerintah Arab Saudi untuk menambah kuota haji Indonesia sehingga menjadi 250 ribu jamaah. Hanya saja tambahan ini diberikan setelah proses penambahan ruang atau kapasitas di Mina selesai dikerjakan.

Selama enam kali menjadi Amirul Hajj, Lukman Hakim Saifuddin selalu menyarakan perluasan atau penambahan kapasitas jamaah di Mina. Dia tidak menampik bahwa penambahan kuota itu penting. Namun penambahan kuota harus diikuti dengan penambahan kapasitas di Mina.

Sebab menurut Lukman, pelayanan haji yang paling krusial adalah di Mina. Lukman tidak hanya meminta daya tampung tenda di Mina yang ditambah. Dia juga berkali-kali mendesak pemerintah Arab Saudi supaya bisa memperbanyak kapasitas toilet di Mina. 

Sementara itu di Tanah Air, jamaah haji mendapatkan pengawasan. Puskesmas terdekat dari rumah jamaah haji wajib memantau selama tiga minggu. Hal ini bertujuan agar ada pemantauan kesehatan. Terutama untuk menghindari penyakit dari Arab Saudi.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menuturkan bahwa Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jemaah Haji (K3JH) harus disimpan. ”Selama tiga minggu kartu itu dipegang. Dan jika ada yang sakit, bawa ke puskemas dan rumah sakit. Kartunya diperlihatkan,” ucap Nila. 

K3JH merupakan kartu yang diisi oleh jamaah haji untuk merekam atau mencatat gejala-gejala penyakit yang mungkin timbul selama 21 hari setelah pulang menunaikan ibadah haji. Gejala itu di antaranya sakit demam, batuk, sesak napas, diare, perdarahan, dan kaku kuduk. Bila setelah 21 hari di tanah air, maka K3JH ini diserahkan atau dikirimkan ke puskesmas setempat.

Pemantauan kesehatan ini sebenarnya dimulai sejak jamaah sampai Indonesia. Setelah turun dari pesawat, jamaah haji melewati pemeriksaan kekarantinaan kesehatan. Satu persatu jamaah haji diamati suhu tubuhnya dengan alat pemindai suhu tubuh. Pemeriksaan suhu tubuh ini untuk melakukan skrining terhadap kemungkinan penyebaran penyakit yang dapat menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (KKM) seperti meningitis, MERS-COV, dan ebola virus. 

Jika ada jamaah haji yang terdeteksi suhu tinggi atau demam akan dilakukan isolasi dan observasi. Sampai kemarin belum ditemukan jamaah haji yang terdeteksi memiliki suhu tubuh yang tinggi.

Di Arab Saudi, jamaah yang masih dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah sebanyak 174 orang. Ada juga yang dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Madinah masih merawat sebanyak tiga orang dan 219 orang di rawat di RSAS Makkah. ”Kementerian Kesehatan tetap akan mendampingi jamaah haji yang masih dirawat di Arab Saudi,” ungkapnya. (wan/lyn/JPG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here