Terlalu Asyik Bakar-bakaran, Santap Malam sampai Dua Jam

By

Waroeng Klangenan, Jogjakarta, Bikin Presiden Joko Widodo Sibuk di Meja Makan (31)

Terlalu Asyik Bakar-bakaran, Santap Malam sampai Dua Jam

Penyair Joko Pinurbo menegaskan bahwa Jogjakarta terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Waroeng Klangenan di Jalan Patangpuluhan, Wirobrajan, mewujudkannya dalam kreasi kuliner. Ada 15 varian nasi kucing, menu utama angkringan, di tempat makan yang membuat Presiden Joko Widodo (Widodo) dan keluarga merasa sedang bersantap di rumah itu.

SEPTIAN NUR HADI, Jogjakarta & RETNO DYAH AGUSTINA, Solo

NASI kucing adalah komponen terpenting angkringan. Karena itu, Waroeng Klangenan sengaja memberikan banyak pilihan. ”Nasi teri, nasi tempe, nasi bihun. Pilihan lainnya seperti nasi bandeng, nasi sambel telur, nasi cumi, nasi jambal. Semuanya terbungkus daun pisang,” ujar Thomas Sukawan Aribowo, pemilik Waroeng Klangenan, ketika ditemui Jawa Pos di warungnya pada 18 Desember 2021 lalu.

Jika menunya khas angkringan, lalu mengapa konsepnya rumah makan? Soal itu, Thomas yang meresmikan Waroeng Klangenan pada 2015 punya cerita sendiri. Dia adalah penggemar angkringan. Di Jogjakarta, angkringan tersebar di setiap sudut kota. Tinggal pilih. Harga makanannya rata-rata sama. Begitu pula jenis sajiannya. Yang beda hanya suasananya. Atau vibes-nya kalau kata anak zaman now.

Sebagai penggemar angkringan, Thomas mengidentikkan kedai-kedai penjaja nasi kucing itu dengan lesehan. Begitu tiba di angkringan, pelanggan tinggal menunjuk apa-apa saja yang diinginkan. Nasi kucing, tempe tepung, sate usus, dan tahu bacem, misalnya. Bisa tinggal tunjuk atau bilang ke mas-mas penjaga angkringannya.

Setelah pesan, pelanggan tinggal duduk di atas alas yang disediakan. Biasanya, mas-mas penjaga angkringan menggelar tikar di tempat yang dijadikan area makan. Jika lebih suka makanan pendamping nasi kucing dalam versi asli alias tidak dibakar, pelanggan bisa langsung membawanya ke lokasi makan. Jika menginginkan makanan pendamping nasi kucing dibakar agar cita rasanya maksimal, pelanggan harus menunggu dibakarkan sebentar.

Yang sering terjadi, menurut Thomas, adalah tingkat bakaran yang diinginkan pelanggan dan yang tersaji tidak sama. Kurang matang atau malah gosong. Padahal, selain nasi kucing, makanan pendamping yang dibakar itu juga penting bagi pelanggan. Selera makan bisa kemudian lenyap jika pelanggan mendapati sate ususnya gosong atau kepala ayam bacemnya hitam legam.

Pengalaman-pengalaman itulah yang Thomas rekam dan koreksi di Waroeng Klangenan. Pria 57 tahun tersebut menghadirkan angkringan dengan konsep bakar-bakar makanan pendamping secara mandiri. Pelanggan bisa membakar sendiri gorengan atau lauk yang dipilih untuk mendampingi nasi kucingnya. Waroeng Klangenan membekali pelanggan dengan alat bakar mini plus baranya. Juga bumbu oles dan kipas untuk mengatur api.

Selain nasi kucing banyak varian, Thomas melengkapi warungnya dengan aneka sate. Total, ada 25 macam. Mulai sate usus, ati ampela, telur puyuh, sampai gembus alias ampas tahu. Selain gorengan, sate juga menjadi teman setia nasi kucing. Jika gorengannya cenderung asin, sate-sate di angkringan relatif manis karena rata-rata dibumbui bacem.

Melengkapi sensasi makan ala angkringan, Waroeng Klangenan menyediakan 21 jenis minuman tradisional yang disebut wedang. Sebagian besar diolah dari herbal. Misalnya, wedang klangenan, jahe gepuk, jahe kencur, temulawak, dan kunir asem sirih.

Kalau makan angkringannya ala restoran seperti itu, harganya pasti mahal, ya? Thomas hanya menyunggingkan senyum sebagai jawaban. Dia lantas memperlihatkan daftar harga. Gorengan dan beragam sate dijual mulai Rp 3.000 sampai Rp 10 ribu saja. Memang sedikit lebih mahal daripada harga di angkringan. Namun, di Waroeng Klangenan, pelanggan bisa membakar sendiri gorengan dan lauk favoritnya. Dijamin lebih pas dengan selera.

Soal kualitas, Thomas juga tidak mau kompromi. Karena itu, dia tidak menerima titipan dari pihak lain. ”Semuanya dibuat sendiri,” ujarnya. Untuk gorengan, pembuatannya dimulai saat warung buka. Sejak pagi sampai malam. Dengan demikian, pelanggan bisa dengan mudah mendapatkan gorengan yang fresh alias masih hangat.

Agar mereka yang datang ke warungnya nyaman, Thomas menyediakan tiga area makan yang berbeda. Yakni, lesehan, meja kursi indoor, dan meja kursi outdoor. Sejauh ini area outdoor yang paling digemari. Apalagi pada siang dan sore hari. Apa yang lebih nikmat dari bersantap di bawah rindangnya pohon ditemani angin yang berembus dari kampung-kampung di sepanjang Patangpuluhan?

Siapa saja pasti akan kerasan. Bahkan, Presiden Jokowi dan keluarganya seperti enggan beranjak dari Waroeng Klangenan saat berkunjung pada Juni 2019. Selama sekitar dua jam, Jokowi dan dua putranya bergantian membakar sate serta gorengan. Mereka menikmati santap malam dalam suasana akrab.

Thomas menyatakan, kunjungan Jokowi ke warungnya terbilang mendadak. ”Satu hari sebelum beliau datang, tim kepresidenan menghampiri kami. Mereka memberitahukan bahwa Presiden Jokowi hendak makan malam di sini,” jelasnya.

Reaksi Thomas bagaimana saat mendengar kabar itu? ”Kaget pastinya. Apa yang membuat Jokowi mau mampir ke sini?” ungkapnya. Dia hampir tidak percaya warung yang dikelolanya menarik perhatian presiden.

Setelah itu, Paspampres dan tim dokter kepresidenan langsung menjalankan tugas mereka di Waroeng Klangenan. Seperti biasa, mereka mengecek kelayakan warung serta semua menu yang disajikan. Bahan makanan juga menjadi subjek pemeriksaan. Pada hari H, Jokowi dan rombongan tiba sekitar pukul 19.00 WIB. Jokowi mengajak serta Ibu Negara Iriana, Gibran dan keluarganya, serta Kaesang.

Jokowi dan keluarga duduk di area tengah, tepat di depan meja prasmanan yang menjadi etalase semua menu Waroeng Klangenan. Sebelum Jokowi tiba, tim dokter kepresidenan memilihkan makanan untuk sang presiden. Namun, Jokowi dan keluarganya punya pilihan sendiri. Mereka pun dengan bebas memilih gorengan dan lauk yang mereka sukai untuk mendampingi nasi kucing.

Saat Jokowi dan rombongan dari Jakarta singgah ke warungnya, Thomas tetap membuka Waroeng Klangenan untuk umum. ”Itu kemauan langsung dari Jokowi. Memperbolehkan pengunjung lain tetap datang sehingga bisa membaur, makan, dan foto bersama,” terangnya.

Para pelanggan Waroeng Klangenan tetap boleh datang. Namun, hanya mereka yang datang sebelum Jokowi yang boleh berada di warung tersebut. Mereka yang datang setelah Jokowi tiba terpaksa ditolak. Para pelanggan yang telanjur berada di warung pun tidak boleh meninggalkan tempat sebelum Jokowi dan keluarganya pulang.

Hari itu, Jokowi mampir selama dua jam. Sama dengan para pelanggan lainnya, Jokowi makan di piring anyaman rotan. Di atasnya ada lembaran kertas minyak cokelat sebagai alas. Piring Jokowi berisi nasi teri, beberapa sate, termasuk sate gembus, serta tahu dan tempe. Untuk minumannya, Jokowi memesan wedang klangenan. Wedang spesial Waroeng Klangenan itu terbuat dari ramuan beragam rempah plus jahe.

Sebelum menyantap makanan di hadapannya, Jokowi pun berkreasi dengan lauk dan gorengan yang dipilihnya. Bergantian dengan Gibran dan Kaesang, Jokowi membakar lauk dan gorengan. Sesekali, dia juga mengoleskan bumbu bakaran yang Thomas sediakan.

Tetesan kecap yang dicampurkan ke dalam bumbu menimbulkan sensasi tersendiri di atas meja. Seketika, barang yang terkena tetesan mengeluarkan suara mendesis. Asap pun mengepul dan menyelubungi meja tempat Jokowi dan keluarganya bersantap. Untuk sesaat, mereka seperti sedang makan bersama di rumah, bukan di Waroeng Klangenan. Keakraban begitu mendominasi meja tersebut malam itu.

Setelah puas bersantap dan melayani permintaan foto beberapa pelanggan, termasuk Thomas dan keluarganya, Jokowi meninggalkan warung. Sebelum berlalu, dia menyebut Waroeng Klangenan sebagai restoran yang unik. Konsep angkringan dengan keleluasaan bagi pelanggan untuk membakar sendiri makanan adalah strategi yang jitu. Apalagi, Thomas tetap berkiblat pada menu angkringan dan wedang-wedangan. Sungguh khas.

Selain menu, ternyata ada pelanggan yang rela mengulangi kunjungan mereka ke Waroeng Klangenan karena suasananya. Triyono dan Yunita Marlita, misalnya. Orang tua Arsenio Algaza itu mengakui bahwa tujuan mereka ke warung tersebut adalah rekreasi. Sebab, putra mereka ketagihan membakar sendiri lauk dan gorengan pilihannya. Dengan begitu, meski menunya hanya nasi kucing, bocah 6 tahun itu makan dengan lahap. ”Di sini tiba-tiba dia doyan makan. Mungkin karena makanannya dia buat sendiri kali ya. Jadinya tidak bosan,” ucap Yunita.

Bagi sebagian pelanggan, singgah di Waroeng Klangenan memang berarti pulang. Melunasi kerinduan mereka pada santapan sederhana yang bisa dengan mudah ditemukan di semua sudut Kota Pelajar. 

Sementara itu, sebelum menjadi presiden Jokowi yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Solo adalah pelanggan di warung yang dikelola Yu Rebi. Warung Yu Rebi ini menjual hidangan sate dan memiliki satu menu khas yaitu sate kere. 

Kere. Kata dalam bahasa Jawa itu berarti melarat alias miskin. Jika sate daging sapi adalah konsumsi masyarakat yang berduit, sate gembus adalah alternatif bagi yang duitnya cekak. Karena itulah, sate gembus juga disebut sate kere. Sate buat kaum kere.

Demi memenuhi gengsi untuk makan sate, sate kere kemudian menjadi menu yang populer dalam masyarakat. Sebab, semua orang mampu membelinya. Tak mengapa bahannya berbeda. Yang penting, judulnya sama-sama sate.

Dari segi harga, jelas sate kere lebih murah. Harga gembus dan daging sapi jauh berbeda. Meski bumbunya sama, sambal kacangnya sama, bahkan rasanya sama, kandungan gizi dua jenis sate itu jauh berbeda.

”Piye kabarmu, Yu? Isih kuat yo. (Apa kabar, Yu? Masih bugar kan ya)” Kalimat itu meluncur dari mulut pelanggan lawas Sate Jerohan Sapi Yu Rebi. Yang disapa tersenyum lebar, lalu tertawa. Yu Rebi memang ramah. Dia rajin menyapa para pelanggan. Pada usianya yang sudah senja, Yu Rebi memang tidak lagi cawe-cawe urusan dapur. Sesekali saja dia turun tangan. Itu pun bukan untuk hal yang berat.

Yu Rebi mengisi masa mudanya dengan kerja keras. Dulu dia menjajakan sate keliling Solo. Petualangannya sebagai penjual sate bermula pada 1965. Ketika itu ibu dan simbahnya berjualan sate. Mereka membawa dagangan keliling Solo. Yu Rebi muda pun tak mau ketinggalan. Apalagi, mengolah daging dan jeroan untuk menjadi sate sudah dia kuasai. Dia pun sudah ahli membuat bumbu kacang.

”Ya, coba-coba dulu. Berangkat bawa 1 kilogram. Kalau habis, ya besoknya ditambah jadi 1,5 kilogram. Begitu seterusnya,” jelasnya kepada Jawa Pos yang menjumpainya di warung pada Desember lalu.

Pada awal berjualan, menu yang Yu Rebi tawarkan hanyalah sate daging, sate ginjal, dan sate kere. Agar sate kerenya istimewa, perempuan kelahiran Solo itu merendam gembus dalam bumbu bacem agak lama. Setelah bumbu meresap sempurna, barulah potongan gembus disematkan ke tusukan. Sate-sate siap bakar itu kemudian dia jajakan dari kampung ke kampung.

Jika ada pembeli, Yu Rebi akan mendasarkan panggangan satenya. Sate-sate yang dia bawa itu lantas dibakar. Jenis sate dan jumlahnya sesuai dengan pesanan pembeli. Sate kere buatan Yu Rebi terkenal lembut dan lezat. Pada masa itu, berjualan sate keliling adalah hal yang lumrah. Selain mengusung sate-sate siap bakar, mereka membawa panggangan dan arang.

Seiring dengan berjalannya waktu dan makin dikenalnya sate kere buatannya, Yu Rebi mencari-cari lokasi untuk menetap. ”Lama-lama ya kesel juga keliling. Jadi, saya merayu pemilik warung soto, bagaimana kalau malamnya saya pakai buat jualan sate daripada kosong,” ujar Yu Rebi.

Lamaran itu ternyata disambut baik oleh pemilik warung soto di kawasan Penumping. Yu Rebi pun tidak perlu keliling Solo lagi. Yu Rebi ingat betul, ketika itu si pemilik warung soto mengizinkannya jualan satu–dua bulan dulu. Istilahnya, masa percobaan. Jika nanti dagangan Yu Rebi laris, si pemilik warung menetapkan tarif sewa dengan harga Rp 1.000 per hari.

”Belum sebulan, baru seminggu malah, sudah ditagih. Disuruh bayar,” kata Yu Rebi, lantas terkekeh. Walau terkejut, Yu Rebi tak patah semangat. Apalagi, dalam waktu singkat, para pelanggannya tahu bahwa dia mangkal di warung soto. Mereka yang lewat warung itu juga dengan mudah mengenali Yu Rebi.

”Terus, mereka teriak-teriak. ’Lho, Yu Rebi saiki ning kene’,” ujar Yu Rebi dengan nada senang. Dikenali pelanggan lama di lokasi baru adalah berkah bagi Yu Rebi. Bungsu di antara tiga bersaudara itu kemudian lebih percaya diri. Dia pun makin bersemangat menanti pelanggan berdatangan ke warungnya.

Jokowi adalah pelanggan di warung yang Yu Rebi kelola itu sejak sebelum menjadi presiden. Tepatnya saat masih menjabat wali kota Solo. Jokowi sering datang ke warung di Penumping. Kadang sendiri, kadang bersama keluarga, kadang mengajak rekan kerja di balai kota. Setiap singgah, Jokowi memesan sate campur. Yang terfavorit baginya adalah sate daging dan sate kikil.

Selain bertandang ke warung, Jokowi sering pesan untuk diantar ke rumah. Yang dipesan ya tetap sate campur. Isinya komplet. Ada sate iso atau usus, kikil, torpedo, ginjal, hati, babat, dan paru. Selain jeroan, Jokowi selalu menyertakan sate tempe dele dan sate kere dalam pesanannya.

Sebuah surat panggilan dari balai kota membuat Yu Rebi berdebar pada 2009. Jokowi, yang saat itu adalah wali kota, meminta Yu Rebi datang menemuinya. ”Saya takut waktu itu. Apa pernah bikin salah, ya?” katanya mengulang pertanyaan yang menguasai benaknya kala itu.

Sebagai warga Solo yang baik, Yu Rebi pun memenuhi panggilan. Ternyata yang dia terima justru kabar gembira. Jokowi menawari Yu Rebi lokasi baru untuk berjualan. Yakni, di Galabo (Gladag Langen Bogan). Itulah sentra kuliner malam hari yang dirancang sebagai salah satu jujukan wisata di Solo. Seingat Yu Rebi, hanya ada lima orang yang ditawari. Dan, dia adalah salah satunya.

Punya warung baru tidak membuat Yu Rebi menutup warung yang lama. Pada tahun itu, Yu Rebi memiliki dua gerai. Kini gerainya sudah bertambah satu lagi. Total, ada tiga gerai sate dengan spanduk bertulisan Sate Jerohan Sapi Yu Rebi pada fasadnya. Selain di Penumping dan Galabo, satu gerai lain terletak di Jalan Kebangkitan Nasional. Setiap gerai punya jam operasional yang tidak sama.

Ketika menemui Yu Rebi pada akhir tahun lalu, Jawa Pos bertandang ke gerai di Jalan Kebangkitan Nasional. Itu merupakan warung yang paling baru. Lokasinya juga strategis. Tidak sulit untuk dicari. Namun, gerai yang menjadi jujukan para pelanggan adalah yang pertama. Gerai di Penumping itu memang lega dan nyaman.

Yu Rebi adalah penjual sate yang inovatif. Jika semula dia hanya menyediakan tiga varian, kini ada 10 variasi sate di warungnya. Menurut perempuan yang memilih kain dan kebaya sebagai gaya busana sehari-hari tersebut, menu tambahan itu juga usulan para pelanggan. Dia hanya nuruti permintaan pelanggan sampai kemudian tercipta varian-varian baru.

Jika kemarin ada pelanggan yang menanyakan sate kikil, hari ini Yu Rebi mengadakannya. Menunya bertambah satu, sate kikil. Demikianlah proses inovasi terjadi. ”Lama-lama lengkap. Semua jeroan sapi itu ada semua sekarang di warung,” tuturnya, kemudian tertawa.

Bagi lidah orang Jawa Tengah yang terbiasa dengan rasa manis, bumbu sate Yu Rebi terasa pedas. Lebih pedas ketimbang sate-sate yang lain. Yu Rebi sengaja melimpahi bumbunya dengan rempah. Ada kemiri, ketumbar, jahe, laos, dan bawang pada bumbu rendaman sate. Meski ada juga gula jawa dalam bumbu rendaman, rasa yang muncul dominan gurih dan pedas. Cocok untuk mengusir bau amis jeroan sapi.

Untuk melengkapi sajian satenya, Yu Rebi mengguyurkan bumbu kacang –yang biasanya juga disebut sambal kacang– pada porsi sate dan lontong. Urusan bumbu kacang ini, dia tidak pernah pelit. Jika penjual sate yang lain hanya menyiramkan bumbu kacang di atas sate, Yu Rebi tidak. Dia pun menutupi irisan lontong di atas piring dengan bumbu kacang. Tambahannya adalah irisan bawang merah dan cabai rawit.

Ada yang khas dari bumbu kacang Yu Rebi. Yaitu, kacangnya tidak ditumbuk halus, apalagi diblender. Remukan kacang pun bisa terlihat dengan jelas pada bumbunya. Yu Rebi juga menambahkan kencur, daun jeruk, dan bawang putih pada bumbu kacangnya. Aroma daun jeruk berpadu serasi dengan rasa khas kencur dan bawang. Itulah yang membuat pelanggan selalu ingin kembali datang ke warung Yu Rebi.

Saking melekatnya rasa sate Yu Rebi pada lidah Jokowi, pemimpin 60 tahun itu sampai menjadikannya sajian saat mantu. Ketika menikahkan putri satu-satunya, Kahiyang Ayu, Jokowi memesan 4.000 tusuk sate Yu Rebi. Pesanan itu membuat Yu Rebi bangga. Setelah itu, warungnya kian ramai karena publik ingin mencicipi langsung sate Yu Rebi.

Setelah menjadi presiden, Jokowi memang jarang mampir ke warung Yu Rebi. Namun, pesanan tetap ada. Terutama jika Jokowi sedang mudik ke Solo. ”Kalau Bapak sedang berada di Solo dan menyambut tamu, kami diminta antar (sate, Red) ke rumah beliau,” ungkap Yu Rebi.

Selain Jokowi, sejumlah artis ibu kota ternyata juga langganan. Jika sedang berada di Solo, para artis ini selalu menyempatkan bersantap langsung di gerai Penumping. Ada Ivan Gunawan, Bertrand Antolin, Thomas Djorghi, dan Iwan Fals. ”Paling langganan banget itu mendiang Didi Kempot. Saking seringnya, rasanya seperti tiap hari ketemu,” seloroh ibu satu anak itu.

Jika ingin mencicipi langsung keistimewaan sate kere Yu Rebi, sebaiknya jangan datang saat akhir pekan. Sebab, semua gerai pasti ramai. Keponakan-keponakan Yu Rebi yang membantu berjualan pun sampai kelabakan. ”Kalau weekend, satu lokasi saja bisa 300–400 porsi terjual dalam sehari,” jelas Endang, keponakan Yu Rebi.

Yu Rebi memang bekerja sama dengan para keponakan untuk mengurus warung. Sebab, putra semata wayangnya memilih untuk menjadi personel Brimob. Dia bertugas di Banjarsari. ”Akhirnya, anak-anak kakak yang banyak membantu. Mereka juga yang sering mengenali artis ini-itu di warung. Sayanya ndak tahu,” kata Yu Rebi, lalu tertawa. (*/c14/hep/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: