Tiap Cerita Punya Pesan Berbeda, Seni Teater di Papua Diharap Bisa Berkembang

By

Tim Tari dari Sakauno Sumundui bercerita tentang Persahabatan Raja Ular dengan Dua Putri dari  Waropen pada pentas Lomba Pentas Cerita Rakyat Papua dengan melibatkan 7 tim mahasiswa Uncen di Gor, Uncen, Abepura, Selasa (08/11).(FOTO: Noel/Cepos)

Melihat Sisi Lain dari Pentas Seni Cerita Rakyat Papua di Uncen  

Pasca pandemi Covid-19 mereda, berbagai kegiatan dan keramaian juga mulai digelar. Seperti halnya dalam rangka Dies Natalis ke-60 Universitas Cenderawasih (Uncen), menggelar berbagai kegiatan, salah satunya pentas seni drama dengan mengangkat cerita rakyat di Papua. 

Laporan: Noel Wenda_Jayapura  

Tanah Papua memiliki keberagaman budaya dengan 250 lebih suku yang tersebar di seluruh Papua baik dari Sorong Sampai Merauke. Termasuk diantaranya,  keberagaman cerita rakyat. Hal ini layak dipentaskan, agar pemahaman cerita rakyat generasi muda ini tidak sebatas literasi dari buku dan pelajaran sekolah.

  Cerita rakyat yang turun temurun ini, menarik jika ditampilkan audio visual dalam bentuk drama atau teater. Selain melatih jiwa seni para generasi muda, juga untuk melestarikan cerita rakyat yang berkembang di Tanah Papua.

  Melihat hal ini mantan Rektor Universitas Cendrawasih Apollo Sapaanpo memberi perintah agar  menjaga budaya yang langsung disampaikan kepada generasi muda lewat atraksi drama teater.

  Ketua Panitia Maikel Simbiak mengakui karena waktu persiapan yang cukup mepet, sehingga hanya tim seni dari FKIP, FKM dan satu dari UKM mahasiswa seni. “Tujuan dari kegiatan ini untuk merayakan Dies Natalis yang ke-60 tetapi Roktor karena melihat Uncen juga harus bermain peran untuk meningkatkan budaya Papua maka digelar teater ini.Rektor  juga mendorong untuk kegiatannya harus digelar dan Ini pertama kali digelar untuk Universitas Cendrawasih dengan yang terlibat dari 7 tim,” katanya.

   Bertepatan dengan Dies Natalis s ke – 60 Kampus Universitas Cenderawasih mengelar berbagai lomba, dari sekian lomba ada hal yang menarik yang ditunjukkan oleh mahasiswa fakultas Keguruan dan  Ilmu Perdidikan (FKIP) dengan menggelar drama teater yang melibatkan tujuh kelompok dengan menampilkan berbagai macam atraksi budaya baik dari penampilan dan kejadian peristiwa yang diambil dari cerita rakyat  beberapa wilayah adat yang ada di Papua, seperti Lapago, Meepago, Saireri, dan Domberai dan Bomberai.

  Berbagai atraksi panggung pun ditunjukkan para siswa dengan menampilkan pakaian adat dan rias tubuh serta beberapa sarana pendukung untuk mendukung pelaksanaan fragmen drama tersebut seperti cerita Sakauno Sumundui, atau Persahabatan Raja Ular dengan Dua Putri yang berasal dari Waropen.

   Kebiasaan Potong Jari Masyarakat Baliem, sebagai bentuk ekspresi rasa sedih dan kehilangan yang mendalam dari sanak saudara yang meninggal. Dilakukan pemotongan jari yang nantinya jari mereka yang terpotong tersebut menjadi penenang dan bisa diceritakan kisah mereka memotong jari tersebut. 

  Sebab, ada kerabat dekat yang meninggal, sehingga hal itu dilakukan. Sementara dari Grup Noken menampilkan cerita pentingnya noken bagi kehidupan suku Mee, yang tidak hanya digunakan untuk mengisi sayur-mayur betatas dan hasil kebun lainnya, tetapi juga menjadi tempat untuk dibesarkannya seorang anak dengan digendong menggunakan noken sehingga noken dianggap sebagai mama.

  “Noken Kami Angap Sebagai Mama, maka garus di jaga dan wariskan kepada anak cucu,” kata salah satu pengisi suara dalam tim teater tersebut. 

  Dari setiap atraksi, mereka pun memberikan pesan yang berbeda-beda ada yang memberikan pesan tentang persahabatan, bagaimana menjaga budaya, kasih sayang dan pengorbanan untuk keluarga yang meningeal, sebagai bentuk menghargai manusia Papua dari seorang keluarga.

  Pentas teater yang dibuat untuk pertama kalinya dalam momen dies tersebut sangat menumbuhkan minat bagi mahasiswa dengan rasa bangga Mereka pun melakukan kegiatan tersebut.

  “Saya senang karena orang tahu cerita kami dari Lapago dan kita mau tunjukkan budaya kami kalo  kami ini penyayang, lewat atraksi potong jari. Dan ini Jurusan Pendidikan Bahasa dan seni juga masuk juga dalam mata kuliah, jadi kita langsung praktek mata kuliah Kreasi Seni,” kata salah satu pemeran teater Nolince Tabuni.

   Penampilan operasi teater yang dilakukan oleh para mahasiswa tersebut diharapkan terus berkembang dan dapat dilakukan tidak hanya di kampus tetapi di sekolah dari berbagai jenjang dan juga masyarakat umum karena pesan dan cerita yang disampaikan dari atraksi ini sangat tersampaikan langsung kepada para peserta yang hadir dengan mengetahui budaya sebagai jati diri mereka dan juga cerita rakyat yang dapat diketahui dari setiap masing-masing daerah

   Dekan FKIP  Y.D Wabiser mengatakan semua  lahir dan besar di dalam budaya maka budaya itu harus di kembangkan di manapun berada.”Kita harus melestarikan terus budaya dan sebagai usaha dari FKIP untuk melestarikan budaya, di Papua sudah di semua wilayah adat yang ada di Papua, pesanya, untuk generasi muda di Papua, mari kita hidupkan budaya-budaya kita sebagai bagian dari identitas kita, kami harap ini terus di hidupkan. Kami berkomitmen untuk terus hidupkan teater budaya,”tuturnya. (*/tri) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: