Tiap Lelah, Selalu Ingat Momen Titik Balik di Carstensz

By

Khansa Syahlaa Aliyah dan Gunung Ke-77 untuk Kado Hari Kemerdekaan

Kemarin Khansa Syahlaa Aliyah mulai mendaki Elbrus, gunung tertinggi di Eropa, dengan target sampai di puncak pada 17 Agustus nanti. Pada usia 16 tahun sekarang ini, dia sudah sampai ke ”atap langit” di Indonesia dan Afrika.

DINDA JUWITA, Jakarta

KAMIS (11/8) kemarin, perjalanan Khansa Syahlaa Aliyah menuju puncak tertinggi di Eropa itu dimulai. Elbrus, menjulang setinggi 5.642 meter, sejak setahun lalu diimpikan remaja 16 tahun tersebut sebagai kado Hari Kemerdekaan Indonesia.

Elbrus merupakan gunung ke-77 yang didaki Khansa. Dan, jika semuanya berjalan sesuai dengan rencana, dia bakal menapakkan kaki di gunung yang berada di kawasan Kaukasus, Rusia, tersebut tepat pada 17 Agustus.

”Semuanya dipersiapkan sejak lama. Mohon doanya agar perjalanan ke Elbrus bisa lancar,” jelasnya dalam Instagram live pada Kamis (4/8) pekan lalu yang juga diikuti Jawa Pos.

Di usia semuda itu, perjalanan mendaki Khansa sudah demikian panjang. Di bawah bimbingan sang ayah, Aulia Ibnu, yang juga seorang pencinta alam, pelajar kelas XI SMA Labschool Jakarta itu memulainya sejak berusia 4 tahun saat diajak naik ke Gunung Bromo, Jawa Timur.

”Saya dan Khansa memang sama-sama mencintai gunung. Bagi kami, mendaki bukan lagi hobi, tapi sudah menjadi passion,” kata Aulia.

George Mallory, ketika banyak orang yang bertanya apa gunanya mendaki Everest, juga menyebut menuju puncak tertinggi dunia itu sebagai panggilan jiwa. ”Kegembiraan belaka dan kegembiraan adalah puncak hidup,” ujar pendaki asal Inggris tersebut.

Ketika memimpikan Elbrus sebagai gunung ke-77 yang bakal didaki tahun lalu, Khansa ”baru” mendaki 50 gunung. Karena itu, dia maraton dalam setahun terakhir. ”Dalam satu tahun belakangan, aku mendaki 20-an gunung,” ungkapnya.

Sanggabuana di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menjadi gunung ke-76 yang dia daki. Untuk bisa kukuh mendaki gunung sebanyak itu, jelas dibutuhkan komitmen dan pengorbanan.

Setiap hari Khansa rutin bangun pukul 4 pagi, lalu berangkat sekolah satu setengah jam kemudian karena lokasinya jauh dari rumah. Dia menghabiskan waktu di sekolah hingga pukul 15.00. ”Setelahnya lanjut ke Senayan latihan fisik dengan trainer sampai magrib. Selasa dan Jumat berlatih statis. Sabtu-Minggu training lari 20 Km keliling Jakarta atau ke gunung-gunung,” papar dia.

Setelah melahap beragam menu latihan tersebut, baru kemudian dia pulang, bersih-bersih, recovery, dan mengerjakan tugas sekolah. Khansa melakukan semua itu dengan gembira tanpa pernah mengeluh. Sebab, sekali lagi, ini soal passion, tentang panggilan. ”Saya melakukan apa yang saya sukai,” tegasnya.

Kalaupun lelah mendera, dengan segera Khansa akan melarikan ingatan ke 2017. Saat penerima piagam Muri (Museum Rekor Dunia Indonesia) sebagai pendaki perempuan termuda Indonesia itu berada di titik terberat kala mendaki ”atap langit” Indonesia alias puncak tertinggi di tanah air, Carstensz.

Khansa ingat sekali, saat itu sang ayah menanyakan dia masih mau melanjutkan pendakian atau tidak. Sejak awal mendampingi sang putri, Aulia memang tak pernah memasang target apa pun. Dia membebaskan Khansa untuk memilih.

Khansa pun tertegun sejenak. Di benaknya dia langsung membayangkan ingatan kala ayah dan seluruh keluarga selalu menyemangatinya dalam setiap perjalanan. Seketika dia pun mendapat booster semangat.

”Aku bilang ke ayah, ’Insya Allah aku mau sampai ke Puncak Carstensz. Rekan setim lalu bertakbir Allahu Akbar, semangat berkobar lagi. Sesampai di puncak, kami semua berpelukan,” kata brand ambassador Eiger tersebut.

Itulah momen titik balik yang tak akan pernah dia lupakan. Cara ampuh untuk memompa semangat di pendakian mana saja. Termasuk di Elbrus kali ini.

Sejak Senin (8/8), remaja yang pernah mendaki Kilimanjaro, gunung tertinggi di Afrika, itu tiba di Rusia. Dia berangkat bersama sang ayah. Sesampai di Negeri Beruang Merah, sudah ada dua guide atau pemandu dan seorang fotografer yang akan mendampingi sepanjang perjalanan.

Khansa menyebutkan, durasi normal pendakian ke Elbrus memakan waktu sekitar tujuh hari. Empat hari digunakan sebagai fase aklimatisasi. Fase tersebut merupakan upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi terhadap lingkungan baru yang akan dimasuki. Dalam mendaki gunung, konteks aklimatisasi adalah penyesuaian tubuh terhadap ketinggian tertentu.

”Empat hari aku naik turun perbukitan. Konsep aklimatisasi kan naik setinggi-tingginya dan turun serendah-rendahnya. Hari kelima menuju Elbrus dan persiapan summit attack. Jadi, normalnya sekitar tujuh hari,” terangnya.

Sebelum ke Rusia, dia menjadikan Gunung Slamet di Jawa Tengah sebagai salah satu lokasinya berlatih aklimatisasi. ”Jadi ya, aku ke Rusia sudah punya modal 3.400-an (mdpl),” ungkap gadis berhijab itu.

Mengingat Gunung Elbrus berselimut salju, Khansa memasukkan pula berbagai latihan fisik agar mampu beradaptasi di kedinginan. Dia juga menyiapkan sejumlah perlengkapan khusus untuk mengantisipasi suhu ekstrem.

Aulia menyampaikan, ke-76 gunung yang telah didaki Khansa, semuanya merupakan pilihan putrinya. Ketika Elbrus dipilih sebagai gunung ke-77, dia mengamini saja. Aulia tentu yang sibuk menyiapkan sejumlah antisipasi untuk pendakian ke Elbrus. ”Biasanya, di atas 4.000 mdpl sudah mulai kliyengan, nafsu makan nggak ada, lambat bergerak. Itu pasti dialami orang-orang tropis saat mendaki gunung salju,” ungkapnya.

Bagi Aulia, apa pun hasil pendakian sang putri, bukan itu yang penting. Yang paling berharga adalah dia bisa berada di sisi sang buah hati kala menggapai impian. Termasuk di Elbrus yang perjalanannya dimulai, kemarin. ”Harapan saya, Khansa menikmati pendakian yang selama ini sudah dipersiapkan. Banyak yang mendoakan semoga Khansa bisa mengibarkan Merah Putih tepat di Hari Kemerdekaan Ke-77 RI di puncak Elbrus. Semoga,” tuturnya. (*/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: