Beranda UTAMA PAPUA Tidur di Eks Camp, Penasaran Karena Mati Kawat Jomblo Titip Pesan dari...

Tidur di Eks Camp, Penasaran Karena Mati Kawat Jomblo Titip Pesan dari Jauh

0
INTIP CENDERAWASIH:Anggota Forum Komunitas Jayapura (FKJ) mendongakkan kepala ke atas pohon mengintip Burung Cenderawasih Minor yang bermain di balik dahan di hutan Kampunh Sawe Suma Distrik Unurumguay Kabupaten Jayapura, Minggu (29/12) kemarin. ( FOTO: Gamel/Cepos )

Mengikuti Trip Akhir Tahun ke Kampung Sawe Suma Plototin Cenderawasih 

Kabupaten Jayapura memiliki beberapa spot bird watching yang sejatinya bisa “dijual”. Sayang hingga kini baru Kampung Tablasupa Distrik Depapre dan Kampung Rhepang Muaif Distrik Nimbokrang yang tergarap. Lokasi baru di Kampung Sawe Suma, Distrik Unurumguay menunggu. 

Laporan : Abdel Gamel Naser, Jayapura 

Moment akhir tahun, banyak warga yang telah mengagendakan untuk melakukan kegiatan yang sifatnya outdoor. Baik ke pantai, ngumpul dengan keluarga memancing, mendatangi kali maupun air terjun. Namun satu agenda yang tak umum dilakukan komunitas di Jayapura dengan mendatangi lokasi bird watching (pemantauan burung) di Kampung Sawe Suma Distrik Unurumguay,  Kabupaten Jayapura. Sebuah lokasi baru yang bisa dipakai untuk melihat satwa burung Cenderawasih.  

 Konsep kegiatan yang digunakan adalah akhir tahun tanpa ‘racun’ dengan menyatukan komitmen mengurangi polusi dari asap kembang api dan lebih mengenal lingkungan. Sebuah paradigma baru yang masih jarang dilakukan meski sejatinya bisa.

 Untuk ke lokasi ini jika dihitung waktunya dari Kota Jayapura bisa memakan waktu 3-4 jam dengan akses jalan yang sudah diaspal dan terbilang baik. Unurumguay hanya membutuhkan waktu 1 jam dari Nimbokrang  dan pengguna kendaraan harus tetap berhati-hati mengingat meski akses jalan terbilang baik namun lebar jalan tidak terlalu besar dan masih berkelok-kelok.  Harus gesit dan menyesuaikan dengan posisi tikungan serta lebar jalan. 

Kampung Sawe Suma sendiri berada persis di pinggir jalan dan layaknya perumahan di kampung, kondisinya masih sangat sederhana. Rumah dengan luas bangunan 7 x 10 dengan halaman yang cukup luas. Di halaman rumah ini biasanya ditanami tanaman buah maupun bunga. 

Di kampung ini akses internet belum terhubung  sehingga yang ingin  melakukan siaran langsung layaknya anak kekinian sambil mengucap gaes..gaes.. dipastikan tidak bisa. Internet hanya bisa diakses ketika masih di Nimbokrang. Sawe Suma sendiri menurut warga memiliki arti sebagai Kampung Tua. 

Di Nimbokrang ini bisa dibilang menjadi tempat terakhir untuk mencari kebutuhan, baik jenis makanan, pakaian, sayur mayur termasuk bengkel dan bank. Sayangnya meski memiliki hutan, ternyata Sawe Suma merupakan kampung yang kesulitan air. 

Masyarakat masih menggantungkan kebutuhan air dari air tanah seperti sumur maupun air hujan. Air di sini sangat dihargai sehingga jika melihat ke setiap rumah dipastikan banyak  jerigen air berjejeran. 

 “Memang air agak susah dan kebanyakan menggunakan air sumur atau air hujan. Kalau kalinya memang agak keruh,” kata Kepala Kampung Sawe Suma, Piter Bargwe, saat ditemui di kampungnya, Minggu (29/12). 

Pemerintahan kampung yang dipimpin Piter Bargwe terus berupaya untuk membangun MCK bagi warga namun tak memiliki stok atau kondisi air yang baik. Masyarakat sendiri sebelum dibangunkan MCK diakui  masih sering buang air sembarangan sehingga dalam rapat Bamuskam diusulkan untuk dibuatkan MCK. 

 Akan tetapi kendala utamanya justru belum terjawab yakni kebutuhan air. “Masyarakat juga sempat komplain karena MCK ada tapi air tidak ada sehingga MCK tidak bisa digunakan. Masyarakat meminta membangun yang bisa digunakan,” aku Piter. 

Dana Desa sendiri  untuk tahun 2019 lebih banyak digunakan untuk mendorong pertanian padi dan buah naga. Sebelumnya masyarakat diminta untuk menanam kakao  tapi setelah dicoba ternyata tidak berhasil karena biji kakao mengeras.  “Rumah layak huni juga diusulkan,” sambungnya. 

Potensi kampung dengan 100 lebih kepala keluarga ini sejatinya ada pada sektor pertanian namun masih terkendala di pemasaran. Nah potensi lain yang sejatinya bisa digarap adalah sektor wisata khususnya pemantauan burung Cenderawasih. Hanya potensi  eko wisata disini masih sangat mentah alias belum semua masyarakat paham bagaimana menggali dan menggarap potensi tersebut. Tak berbeda jauh dengan lokasi Bird Watching di Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang. 

 Lokasi di Sawe Suma juga jaraknya cukup dekat dengan jalan utama. Hanya perlu jalan kaki sekitar 15 – 20 menit untuk sampai ke lokasi pemantauan. Cenderawasih Pos sempat berdiskusi dengan pemilik ulayat yang juga ondoafi di Sawe Suma, Roby Digan serta seorang pemuda bernama Bambang. 

Bambang ini merupakan anak asli Sawe Suma, hanya namanya saja yang mirip dari suku Jawa. Ia dulunya suka berburu bahkan kadang menggantungkan hidup dari hasil buruan. 

 Tak tanggung-tanggung setiap sekali berburu ia dipastikan bisa keluar dari hutan dengan membawa beberapa Burung Cenderawasih. Untungnya WWF  mendapati informasi ini dan mengajak berpikir bijak. Iapun insyaf dan kini ikut menyuarakan soal pelestarian Cenderawasih. 

Di lokasi milik Roby Digan ini disebutkan ada empat jenis Cenderawasih. Mulai dari Cenderawasih Minor, Cenderawasih Mati Kawat, Cenderawasih Toa Cemerlang dan Cenderawasih Raja. Keempatnya tidak dalam satu spot yang sama tetapi berlainan. 

 Namun antara  spot yang satu dengan lainnya jaraknya tak begitu jauh. Bisa ditempuh dengan perjalanan sekira 15-20 menit berjalan kaki. Aksesnya sudah pasti jalan setapak dan dipenuhi dedaunan. Ada banyak sekali burung di lokasi ini namun jenis Cenderawasih  yang paling indah.  Hanya untuk lokasi camp nya jika ingin dikunjungi, masyarakat harus menyiapkan tenda mengingat di lokasi bird wacthing belum ada pondok atau home stay yang bisa dipakai. Yang sempat digunakan rombongan dari Jayapura kemarin adalah lokasi pondok bekas camp para pekerja jembatan sehingga perlu diantisipasi dengan membawa tenda sendiri. 

Bambang pun menceritakan sepak terjangnya selama ini. Ia menceritakan di tahun 2017-2018 ia masih sering melakukan perburuan. Menembak Cenderawasih untuk dijual. Hasilnya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. 

Dalam sehari ke hutan ia bisa membawa 2-3 ekor burung Cenderawasih. Selain Cendrawasih ia juga mendapatkan kus-kus, kanguru tanah serta babi. Modalnya hanya panah dan senapan. 

 Bambang bahkan mengaku pernah membawa hampir 40 ekor Cenderawasih untuk dijual sesuai  pesanan. Ia tak menampik jika pekerjaannya ini kadang dilakukan sesuai pesanan. “Tapi kalau mau dapat sebanyak itu  harus tinggal lama di hutan. Mungkin satu bulan dan harus bawa bekal yang cukup,” jelasnya. 

Dengan waktu selama itu Bambang menyebut bahwa kondisi burung yang sudah mati pasti membusuk. Nah ia sendiri membawa formalin untuk memperlambat terjadinya pembusukan sehingga dari kerjanya ini terlihat ia sudah dipersiapkan dengan berbagai hal.

 “Yang pesan biasa dari Pasar Hamadi. Mereka membeli Cenderawasih mati untuk diambil bulu-bulunya. Perekor biasa dibayar Rp 300 hingga Rp 400 ribu,” ujar Bambang. 

Hasil uang terbanyak dari pendapatan menjual Cenderawasih disebutkan pernah mengantongi Rp 20 juta akan tetapi harus lama tinggal di hutan. Namun seiring waktu iapun bertemu pihak WWF yang kemudian diajak berdiskusi soal kawasan yang sejatinya bisa digarap menjadi eko wisata. 

WWF memberi contoh konkrit di lokasi Alex Waisimon yang kini sangat telah digarap apik. Hanya saja dengan masuknya WWF untuk mendampingi ternyata sempat dicurigai. 

 Pemilik ulayat maupun masyarakat sempat mencurigai jika WWF memiliki niat lain di tengah penggalangannya. “Iya awalnya kami curiga kenapa WWF mau mengajak kami bicara, ada apa ini. Tapi setelah beberapa kali pertemuan, kami juga diajak untuk bicara langsung ke pemerintah ternyata niat mereka baik. Mau membantu kami menggarap lokasi ini tanpa harus membunuh Cenderawasih,” kata Ondoafi Roby diiyakan Bambang. Nah disaat keinginan untuk berubah ini muncul, tantangan lain adalah pemikiran masyarakat. 

 Tak jarang masyarakat berpikir bahwa dirinya hanya mencari keuntungan untuk memperkaya diri. Roby sendiri tak menampik sempat ikut bersama Bambang berburu. Ia bahkan lebih  jago menembak ketimbang Bambang. Tapi yang paling sering ke hutan justru Bambang. Roby hanya menunggu di rumah jika ada yang menembak Cenderawasih ia biasa diberi uang rokok. “Jadi Direktur WWF, Pak Benja sampaikan bahwa sebaiknya lokasinya dikelola jadi eko wisata. Sebab kalau diburu terus maka akan punah dan anak cucu akan tanya bentuknya Cendrawasih seperti apa,” imbuhnya. 

 “Saya juga akhirnya berpikir sama. Kalau Cenderawasih punah kemudian anak cucu tanya ia main seperti apa dan suka main di pohon apa, mungkin saya akan sulit menjawab,”  tambahnya. 

Dari pemahaman yang terus tumbuh inilah, Roby dan Bambang sepakat untuk tidak melepas hutannya menjadi lokasi buruan meski masih ada pemburu lain yang suka masuk ke hutan. “Kami ingin satu saat lokasi kami bisa dijadikan spot untuk melihat Cenderawasih. Kami membutuhkan home stay atau pondok untuk pengunjung dan semoga bisa dibantu,” harap Roby. 

 Sementara itu, Bambang dan Roby sempat mengantarkan Cenderawasih Pos dan rombongan untuk masuk menyaksikan langsung burung Cenderawasih. Untuk ke lokasi memang harus pagi hari. Untuk itu, rombongan harus bangun dan mempersiapkan diri sedari pukul 04.00 WIT. 

Menariknya untuk Cenderawasih Mati Kawat ternyata bisa dilihat dari pinggir jalan. Tapi untuk lebih bagusnya masuk sedikit ke arah hutan agar bisa disaksikan lebih jelas. Kamipun harus nongkrong setengah jam di pinggiran jalan untuk melihat burung yang ekornya mirip kawat ini. 

 Hanya sayangnya di sini  rombongan gagal melihat dari dekat. Meski suaranya terdengar jelas ternyata saat itu ia belum bermain di pohon yang biasa dipakai bermain. Burung yang memiliki nama ilmiah Seleucidis melanoleucus ini hanya menitip pesan lewat suaranya jika ia masih berada di hutan tersebut. 

Cenderawasih ini kata Bambang masih jomblo karena selama didatangi dan diperhatikan ternyata belum pernah sekalipun ia bermain dengan yang betina. “Ia Cenderawasih Mati Kawat yang ini hanya seekor. Selama ini saya tidak pernah melihat yang betina, agak kasihan juga karena setiap pagi selalu bersuara,” ujar Bambang.  

 Setelah  hanya mendengar suaranya saja, perjalanan dilanjutkan ke lokasi bermain Cenderawasih Minor. Ternyata betul di atas pohon setinggi sekitar 20 meter ini terlihat 3 ekor Cenderawasih kecil yang melompat ke sana kemari. Kami tak perlu menunggu lama karena saat tiba, Cenderawasih Minor sudah bertengger lebih dulu. Setelah puas melihat si bulu kuning, kami diajak Bambang ke Cenderawasih Raja atau Cicinnurus regius dan benar saja ketika rombongan tiba ia sudah terlihat pecicilan di ranting. 

 Sesekali ia menghilang dan kembali muncul sambil terus menarik perhatian betina. “Kalau disini bisa bosan memotret karena ia bisa bermain berjam-jam tinggal bagaimana dibuatkan lokasi pemantau saja,” imbuh Bambang. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here