Tiga Pelaku Kasus Mutilasi Akui Hanya Ikuti Perintah

By

Memberikan Keterangan : Tiga pelaku (dari kiri) Andre Pujianto Lee alias Jeck, Dul Umam dan Rafles Lakasa ketika memberikan keterangan sebagai saksi pada sidang pengadilan militer dengan terdakwa lima pelaku dari TNI AD. Sidang dilakukan secara virtua, Rabu (14/12). (Foto: Selvi)

TIMIKA – Tiga pelaku yang diduga turut terlibat dalam kasus mutilasi empat orang warga asal Nduga, menjadi saksi terhadap lima terdakwa dari TNI AD yang menjalani sidang pengadilan militer yang digelar oleh Oditurat Militer IV-20 Jayapura. 

Tiga pelaku menjadi saksi yakni Andre Pujianto Lee alias Jeck, Dul Umam dan Rafles Lakasa. Ketiganya adalah warga sipil. Sementara terdakwa dari TNI AD diantaranya Kapten Inf DK, Praka PR, Pratu RAS, Pratu RPC dan Pratu R. Ketiga saksi memberikan keterangan melalui video conference dari Kejaksaan Negeri Timika dan terhubung langsung dengan Pengadilan Militer di Jayapura, Rabu (14/12/2022). 

Jack paling banyak dimintai keterangan. Ia ditanya sejak kapan mengenal para pelaku. Jack menyatakan baru kenal kurang lebih setahun terakhir. Perkenalan terjadi karena Jack sering berlatih fitness di Brigif 20/IJK. 

Terkait aksi jahat yang dilakukan, Jeck mengungkapkan pada 20 Agustus 2022 siang, ia pergi ke lokasi usahanya di Jalan Sultan. Di Lokasi ini, Jeck menjalankan usaha batako dan rencana membuat rumah kontrakan. 

Saat itu, pelaku bernama Rahmat datang. Begitu pula dengan Roy, pelaku lainnya yang menyusul datang ke tempat tersebut. Di sana menuru Jeck, ia hanya melihat Rahmat dan Roy berbincang hingga pamit dengan alasan ‘cek lokasi’. Dari ‘cek lokasi’ Rahmat dan Roy kembali ke tempat pembuatan batako milik Jeck. Mereka berada di lokasi itu sampai selepas salat dzuhur kemudian bubar. 

Masih pada 20 Agustus, sekitar pukul 17.30 WIT sore, Jeck pergi ke bengkel miliknya di Jalan Yos Sudarso, Nawaripi. Tak lama, pelaku lainnya datang termasuk Kapten Inf DK menggunakan mobil Avanza putih. 

Saat itu diungkapkan Jeck, beberapa orang berkumpul di lantai 2 bengkel. Beberapa lainnya membuat replika senjata api. Pengakuan Jeck, pelaku berkumpul membahas penyergapan OPM. Sekitar pukul 20.00 WIT, mereka meninggalkan bengkel dan menuju suatu tempat. Ada yang pakai motor, ada yang kendarai mobil. 

Jeck menyebut, kala itu ada perdebatan lokasi. Namun akhirnya menuju ke Jalan Budi Utomo Ujung tepatnya di depan Perumahan Bintang Timur yang merupakan tempat kejadian perkara. Tapi saat itu ‘operasi’ batal dan para pelaku bubar. 

Para pelaku kembali bertemu pada 22 Agustus 2022. Jeck menyebut, kala itu ia sedang berada di tempat fitness Brigif. Ia kemudian diajak oleh Kapten Inf DK ke depan Perumahan Bintang Timur. Keduanya menumpangi mobil  Etios milik Jeck. Tiba di lokasi, pelaku lainnya sudah tiba terlebih dahulu. 

Awalnya menurut Jeck, ia tidak mau bergabung ke lahan kosong. Tapi diajak  oleh Kapten DK. Berada di lokasi, ia diminta tiarap dan mendengar suara benturan dengan bunyi keras. Ketika diajak kembali berdiri, ia sudah melihat korban tergeletak. “Saya kebingungan mau kemana. Ada satu yang berlari dan ditembak Pak DK,” ungkapnya. 

Kesaksian serupa diutarakan Dul Umam. Ia melihat DK memegang pistol. Kemudian Dul Umam disuruh mengangkat jenazah korban. Pertama hanya dua, tapi kemudian satu jenazah diangkat Jeck dan Kapten DK dari semak-semak. 

Pelaku Rafles Lakasa yang juga menjadi saksi mengungkapkan, ketika kejadian, mereka diminta tiarap di semak-semak. Hanya mendengar tembakan dua kali. Juga sempat melihat pelaku Rahmat memukul korban. Karena ada korban yang sempat lari, maka dikejar oleh pelaku lain. 

Melihat kejadian itu, Rafles mengaku panik dan berjalan hendak mencari ojek untuk pulang. Tapi ia diminta membantu angkat korban yang tewas di depan sebuah musala. Setelah itu ia minta pulang dan akhirnya diantar kembali ke rumahnya. 

Sementara Dul Umam dan Jeck masih terus diminta membantu. Dul Umam diminta jadi sopir mobil Calya, milik korban yang diatasnya terdapat 3 jenazah. Kala itu Dul Umam tak tahu mau kemana. Ia bahkan ketakutan. Kemudian diarahkan berjalan ke arah Pomako. Di tengah perjalanan sempat beberapa kali berhenti. Sampai di simpang tiga Logpon, mereka berhenti. “Kita ikuti perintah Rahmat,” ujarnya. 

Mereka kemudian diarahkan ke Logpon. Tiba di sebuah lokasi, Jeck, Dul Umam dan Kapten DK diminta mencari dan mengumpulkan batu. Kala itu, mereka mengaku tak lagi perhatikan jenazah korban. Tak lama, pelaku lain mendatangi mereka dan bergerak ke sebuah jembatan. Namun mereka tidak tahu apa yang dibuat pelaku lain ketika di jembatan. Mereka hanya mendengar ada suara keras. 

Dari Logpon, mereka kembali ke Brigif. Jeck dan Dul Umam ditinggal di situ. Jeck mengaku saat itu ia bahkan sampai muntah dan terbaring di teras Koperasi Brigif. Sementara Dul Umam mencari air minum tapi karena tidak ada, ia terpaksa meminum air yang ada dalam ember.(ryu)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: